Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Juni 2010

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak



Saya kembali vakum menulis. Ini dikarenakan saya harus menjadi single parent selama 2 bulan. Abinya anak-anak harus kembali bekerja ke Arab Saudi. Sesuai perjanjian setelah 2 bulan bekerja bisa mendapatkan kesempatan selama 3 minggu untuk bertemu keluarga di Indonesia. Bulan Juni ini jadwal abinya anak-anak pulang sehingga saya bisa ngeblog lagi.

Ketika berpisah jauh dari suami saya merasakan beratnya mengasuh anak sendiri. Tidak ada teman berbagi cerita dan masalah mengenai pengasuhan anak, tidak ada yang bisa menggantikan menjaga anak-anak ketika saya butuh istirahat atau nge-blog.

Abinya anak-anak bukan sekedar Ayah biasa yang hanya bertugas mencari uang. Abinya anak-anak mau terlibat dalam proses pengasuhan anak. Beliau tidak segan-segan memandikan ( termasuk Afkar yang masih bayi), menyuapi, membacakan buku, mengajak jalan-jalan ataupun bermain bersama anak. Bahkan sebenarnya ide homeschooling ini datangnya dari Abinya anak-anak. Dari suami saya belajar untuk ga "jaim" sama anak, bercanda seru dan melakukan berbagai aktivitas fisik.

Abi tidak pernah mengikuti kelas parenting sekalipun tapi bagi anak-anak Abi adalah ayah terbaik buat anak-anak. Yang membuat mereka menangis selama beberapa malam setiap Abi harus kembali ke Saudi. Mudah-mudahan ijin tinggal kami sekeluarga di Arab Saudi bisa cepat diproses sehingga tidak perlu lagi pisah lama-lama dengan Abi.

Jumat, 25 Desember 2009

Full Time Mother

Seorang teman pernah bertanya kepada saya. Apakah saya pernah bosan menjadi Full Time Mother. Jawaban adalah saya pernah bosan, bahkan bosan sekali. Rasanya hidup tidak sedinamis waktu saya kuliah atau kerja dulu. Rasanya saya seperti robot melakukan pekerjaan yang sama setiap hari. Memasak, menjaga anak, membersihkan rumah. Tapi semuanya berubah ketika suami saya melontarkan ide menyekolahkan Rafif dirumah. Awalnya saya sempat menolak. Menyekolahkan anak dirumah?? itu artinya saya tidak akan punya kegiatan diluar rumah. Padahal saya sudah tidak sabar menunggu Rafif masuk sekolah supaya saya punya kegiatan rutin diluar rumah dan punya teman-teman baru ketika mengantarkan Rafif sekolah nantinya.

Suami saya membujuk saya dengan mengatakan cuma sampai TK kok. Alasannya kasihan kalau terlalu kecil sudah harus sekolah dan berbagai macam alasan lain. Jurus terakhir yang dilancarkan suami saya adalah kata-kata berikut " Uminya kan lulusan reputable university pasti ngajarnya bisa lebih bagus :)". Untuk pertama kalinya sejak menikah saya merasa bahagia dengan status sarjana saya karena selama ini terkadang timbul pikiran untuk apa saya kuliah jika hanya menjadi ibu rumah tangga.

Awal Januari 2006. Tahun baru semangat baru. Saya memulai program sekolah rumah untuk Rafif ketika umurnya hampir 2 tahun. Saya mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan anak dan homeschooling. Mulai dari baca buku, baca artikel-artikel di internet sampai dengan mengikuti berbagai seminar atau pelatihan pendidikan anak diberbagai kesempatan. Hidup saya kembali berwarna. Saya seperti anak ABG yang baru lulus SMA dan menikmati masa awal kuliah.

Lewat internet pula saya menemukan alamat rumah Bu Yayah Komariah pendiri Berkemas. Saya datang kerumahnya dan berniat mendaftarkan Rafif masuk Berkemas. Awalnya Bu Yayah menolak karena belum ada anak usia playgroup yang mendaftar. Hanya saja saya berkeras dan menyakinkan Bu Yayah bahwa saya tidak akan merepotkan Bu Yayah dengan urusan pengajaran Rafif. Saya akan mengajar sendiri. Sekarang saya dan bu Yayah bersahabat lewat bu Yayah saya semakin banyak mendapatkan ilmu mengenai mendidik anak. Saya diajak beliau ke setiap acara parenting, dikenalkan dengan para pendidik seperti Neno Warisman dan Erry Soekresno.

Sekarang kebosanan menjadi ibu rumah tangga sudah menguap. Saya menganggap ini sebuah karir juga dan saya berusaha profesional didalam mengelola rumah dan anak-anak saya. Saya masih terus belajar supaya jenjang karir saya semakin tinggi walupun tidak ada saingan sama sekali. Dulu saya bosan karena tidak menghargai profesi saya. Dan hanya bekerja seadanya saja.

Walaupun saya tidak menghasilkan tambahan uang untuk rumah tangga seperti ibu-ibu pekerja lainnya tapi saya yakin saya menghemat pengeluaran dalam jumlah yang cukup besar.
Dengan menjadi full time mother dan homeschooling ini yang bisa kami hemat :
- Biaya Transport dan makan siang saya ke kantor
- Biaya Sekolah, Transport, Seragam dan makan siang semua anak
- Biaya les matematika, membaca, cooking class dan bahasa inggris untuk semua anak

Saya tidak tahu berapa nilai dari semua biaya tersebut. Yang pasti kedekatan saya dengan anak-anak tak ternilai: Priceless.


Kamis, 10 Desember 2009

Read Aloud Handbook - Jim Trelease

Rasanya saya ingin langsung loncat kegirangan ketika melihat buku ini bertengger dengan manis disalah satu rak Toko Buku Leksika, Lenteng Agung. Karena sudah lama saya ingin membaca buku ini. Read Aloud Handbook menjadi salah buku satu buku yang banyak di rekomendasikan oleh para homeschooler luar negeri. Selama ini saya hanya berharap agar buku ini bisa diterjemahkan dan beredar di Indonesia. Alhamdulillah karya Jim Trelease ini akhirnya diterbitkan oleh Mizan.

Buku ini memberikan satu formula sederhana untuk mencerdaskan anak sejak dini yaitu dengan cara membacakan buku kepada anak. Dengan dibacakan buku maka kosa kata anak akan bertambah dengan pesat. Satu buku cerita anak memuat lebih banyak kata baru yang tidak kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Buku juga memuat berbagai topik ilmu pengetahuan untuk anak.


Buku ini membuat saya kembali melakukan suatu hal yang sudah berhenti saya lakukan yaitu membacakan buku untuk Rafif. Setelah Rafif bisa membaca saya berhenti membacakan buku untuknya. Karena ketika Rafif sudah pintar membaca saya merasa tugas saya selesai. Saya tidak ingin akhirnya Rafif malas membaca karena sudah ada saya yang terus membacakan buku untuknya. Ternyata membacakan buku buat anak tidak berarti membuat anak malas atau tidaktertarik lagi dengan membaca. Membacakan buku buat anak layaknya kita beriklan terus menerus kepada anak mengenai asyiknya membaca buku. Dalam buku Read Aloud Handbook dicontohkan restoran cepat saji Mc Donald sudah sangat terkenal dan banyak orang yang sangat menyukai berbagai pilihan burger yang disediakan direstoran tersebut. Tapi ini tidak membuat Mc Donald berhenti beriklan. Setiap tahun Mc Donald menghabiskan dana yang sangat besar untuk iklan. Mereka tidak ingin orang lupa dengan kelezatan burger mereka. Demikian juga halnya dengan buku, kita harus terus mengingatkan kelezatan buku kepada anak dengan cara terus membacakan buku kepada mereka walaupun mereka sudah bisa membaca.

Alasan lain mengapa anak tetap terus dibacakan buku menurut Jim Trelease adalah dengan dibacakan buku membuat anak bisa menikmati buku yang lebih tebal, lebih berbobot dengan jumlah kata juga yang lebih banyak. Kemampuan anak mendengar sudah terbentuk sejak anak masih dalam kandungan sehingga anak lebih bisa mencerna maksud daripada suatu kata ketika ia mendengarkan kata tersebut dibandingkan ketika dia melihat dan membaca sendiri kata tersebut. Buku-buku yang kami beli sekarang tidak lagi sekedar buku anak-anak bergambar yang hanya terdiri dari beberapa lembar. Sejak membaca Read Aloud Handbook saya mulai membacakan buku sejenis novel dengan gambar yang sedikit seperti Charlie and Chocolate Factory atau Kisah Menakjubkan Dalam Alquran, dan ternyata Rafif dan Aisyah bisa menikmatinya.

Selain kedua hal diatas dalam buku Read Aloud Handbook juga diberikan panduan cara membacakan buku untuk anak, jenis buku yang sesuai untuk setiap usia anak, cerita dari orang tua yang sudah menerapkan read aloud untuk anaknya dan pelajaran yang bisa diambil dari oprah, Harry Potter dan internet.

Buku ini sangat layak dibaca oleh para homeschooler dimana kecintaan akan buku sangat menunjang keberhasilan anak belajar secara mandiri.

Sabtu, 27 Desember 2008

Bagaimana Mengajarkan Anak Bahasa Inggris

Bagi homeschooler kemampuan bahasa Inggris sangat diperlukan karena 90% materi pendukung dari internet menggunakan bahasa Inggris. Dengan kemampuan bahasa Inggris juga membuat kesempatan untuk mendapatkan ijazah International terbuka lebar.

Lalu kapan dan bagaimana cara mengajarkan Bahasa Inggris bagi anak sehingga anak bisa menggunakan bahasa Inggris secara utuh ?. Menggunakan bahasa Inggris secara utuh berarti anak tidak hanya bisa mengerti apa yang dia baca dalam bahasa Inggris, tapi dia juga bisa memahami apa yang dia dengar, berbicara dan menuliskan gagasan-gagasannya dalam bahasa Inggris.

Bahasa Inggris memang sebaiknya diajarkan sejak usia dini.
Alasannya, otak anak masih plastis dan lentur, sehingga proses penyerapan bahasa lebih mulus. Lagi pula daya penyerapan bahasa pada anak berfungsi secara otomatis. Walaupun demikian pengajaran hendaknya dimulai ketika anak sudah mampu berkomunikasi dengan bahasa ibunya yaitu sekitar umur 4 tahun. Karena akan terlalu berat bagi anak apabila harus memepelajari lebih dari satu bahasa pada saat bersamaan. Mempelajari dua bahasa secara bersamaan hanya akan membuat anak bingung memilih bahasa mana yang akan digunakan. Kecuali apabila komunikasi dilakukan secara intensif dengan 2 orang yang berbeda. Misalnya Ibu berbicara dengan bahasa Indonesia dan Ayah berbicara dengan bahasa Inggris secara konsisten. Tidak saling tukar menukar bahasa. Untuk info lebih lanjut silahkan lihat disini.

Pengajaran bahasa Inggris dilakukan secara bertahap. Sama halnya dengan belajar bahasa Indonesia anak tidak langsung belajar berbicara, membaca dan menulis secara bersamaan.

Sebelum bisa berbicara dalam bahasa indonesia anak harus mendengarkan terlebih dahulu bahasa Indonesia. Kalau dia tidak pernah mendengar bahasa tersebut, tidak mungkin dia dapat berbicara. Itu sebabnya biasanya anak yang tuli sejak lahir juga otomatis bisu karena dia tidak bisa mendengar sehingga tidak bisa menirukannya. Jadi pada intinya belajar bahasa apapun caranya sama.

Berikut adalah tahapan-tahapan dalam belajar Bahasa Inggris yang saya sedang terapkan:

1. Listening ( Mendengar)
Selain mendengar kita berbicara anak juga bisa belajar mendengar dengan cara dibacakan buku cerita dalam bahasa Inggris (silahkan lihat daftar perpustakaan digital yang ada disisi sebelah kanan blog ini), mendengar nyanyian sederhana seperti Nursery Rhyme ataupun dengan menonton TV dan VCD berbahasa Inggris. Tapi untuk awal pilih yang kata-katanya sedikit dan sederhana.

2. Speaking ( Berbicara )
Setelah anak sering mendengar dalam bahasa Inggris, anak bisa di didorong untuk berbicara dalam kalimat-kalimat sederhana. Saya awalnya punya kesulitan untuk mengajak anak mau berbicara dalam bahasa inggris. Sampai akhirnya saya menemukan Genki English website belajar bahasa Inggris as Second Language untuk anak-anak. Situs ini berisi berbagai percakapan sederhana yang diubah dengan menjadi lagu dengan ilustrasi yang lucu dan menarik. Sehingga anak menjadi familiar dan mau mencoba berbicara.

Sekarang saya menerapkan waktu 30 menit sehari sebagai waktu keluarga untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Layaknya anak usia tahun baru memulai bicara, Rafif juga memulai berbicara dalam bahasa inggris hanya dengan satu kata misalkan car (mobil) ketika ingin mainan mobil-mobilannya. Sekarang dia sudah bisa berbicara dalam kalimat pendek seperti i want car.

3. Reading ( Membaca)
Ada 2 metode umum mengajarkan anak belajar membaca dalam bahasa Inggris yaitu Whole Language Approach dan Phonic.

Whole Language Approach adalah suatu metode belajar membaca dengan menjadikan bahasa sebagai satu kesatuan tidak terpisah-pisah. Belajar membacanya juga sesuai dengan konteksnya. Metode ini lebih menekankan pada arti suatu kata. Contohnya ketika melihat kata cat (kucing) anak langsung diberitahu bahwa itu bacanya "ket" dan itu artinya kucing. Biasanya anak belajar membaca dengan sistem mengingat (memorize) kata yang sudah pernah disebutkan. Kelebihan metode ini adalah anak lebih cepat bisa membaca tapi akan kesulitan ketika harus menuliskan kata yang dimaksud terutama kata-kata yang cukup panjang.

Phonic adalah suatu metode belajar membaca melalui bunyi huruf dengan cara mengejanya satu persatu misalkan saja cat (kucing) berarti dibaca Keh-e-teh menjadi "ket". Setiap kata diurai menjadi huruf-huruf. Karena belajar melalui mengeja maka anak memerlukan waktu lebih lama untuk bisa membaca. Tapi kelebihannya anak lebih mudah ketika harus menuliskan kata yang dia dengar. Apabila anda ingin mengajarkan membaca dengan metode Phonic anda bisa berkunjung ke sini.

Untuk memudahkan anak belajar membaca sebiaknya pilih buku-buku yang sesuai dengan tingkatannya. Misalkan anak yang baru mulai membaca pilih buku-buku yang hanya terdiri dari satu kata misalkan halaman pertama ada gambar buah apel dan dibawahnya ada tulisan This is Apple. Setelah itu bisa dicoba dengan kata yang lain misalkan I like banana. Anda bisa membuat sendiri buku-buku seperti itu atau mendapatkannya melalui Reading A to Z.

3. Writing ( Membaca )
Ini adalah tahapan yang paling sulit dalam belajar bahasa Inggris karena ada banyak aturan yang harus dipatuhi. Biasanya orang Indonesia pasti akan kesulitan untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Sebenarnya bukan karena tidak bisa melainkan karena takut salah. Padahal kalaupun kita salah mengucapkan susunan beberapa kalimat ataupun salah tata bahasanya lawan bicara kita pasti akan mengerti. Tapi lain halnya dengan menulis, ketika kita melakukan banyak sekali kesalahan tata bahasa dan cara pengejaan bisa jadi orang yang membaca tulisan kita tidak mengerti apa yang kita tuliskan.

Karena ini relatif sulit, maka menurut hemat saya menulis menjadi tahapan terakhir. Jangan terburu-buru mengajarkan grammar atau menulis jika anak belum menguasai 3 tahap sebelumnya. Untuk mengajarkan Grammar sebaiknya dilakukan secara implisit melalui buku yang berisi kalimat-kalimat yang berpola sama. Misalkan saja apabila halaman pertama berisi kalimat past tense maka halaman-halaman berikutnya juga berpola past tense. Sehingga setelah beberapa kali pengulangan anak bisa mendapatkan gambaran kapan kalimat bentuk past tense itu digunakan.

Jika anak diajarkan grammar secara eksplisit yaitu melalui dengan penjelasan panjang lebar mengenai past tense lengkap dengan rumus yang harus dihapal maka anak akan kebingungan dan akhirnya malah merasa takut untuk menulis. Seperti juga ketika berbicara anak sebaiknya memulai dengan menulis satu kata, kemudian satu kalimat pendek, lalu satu kalimat panjang, terus satu paragraph dan seterusnya. Mungkin nanti tanpa anda sadari tiba-tiba anak sudah bisa menulis satu buku dalam bahasa Inggris.

Wah sepertinya ini artikel terpanjang saya :) Jika anda mempunyai pertanyaan atau tips yang ingin dibagi silahkan mengisi komentar. Saya juga masih perlu belajar banyak. Sehingga saya akan sangat berterima kasih jika ada yang memberikan pengalamannya.














Kamis, 18 Desember 2008

Sistem Pendidikan Kita Melawan Hukum Alam -Dr. Ratna Megawangi, MSc

Berikut ini dikutip dari sebuah milis Homeschooling :

Oleh: Dr. Ratna Megawangi, MSc
Dalam pidato kenegaraan 16 Agustus
2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi janji bahwa pemerintah
memenuhi anggaran pendidikan 20 persen dari APBN sesuai dengan UUD 1945
hasil amendemen. Diharapkan setelah kesejahteraan guru, materi, dan
infrastruktur terpenuhi, kualitas pendidikan Indonesia akan meningkat
untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul.

Menurut
Ratna Megawangi, praktisi pendidikan dan pendiri Yayasan Warisan Luhur
Indonesia, besaran persentase itu bukan masalah inti pendidikan
Indonesia. Yang penting dibenahi lebih dulu adalah sistem pendidikan
dan hasrat guru untuk mengajar. "Itu yang menjadi roh pendidikan sumber
daya manusia," ujarnya kepada Akmal Nasery Basral, Yophiandi, dan
Santirta dari Tempo, Selasa pekan lalu. Berikut petikannya.


Bagaimana
Anda melihat janji Presiden dalam pidato kenegaraan yang akan
meningkatkan anggaran pendidikan menjadi 20 persen dari APBN?

Memang
ada asumsi peningkatan anggaran akan membuat kualitas pendidikan kita
lebih baik, tetapi saya lihat masalahnya bukan di sana, melainkan pada
sistem pendidikan dan kualitas guru. Kalau kita bicara roh pendidikan,
kedua hal inilah yang perlu diperhatikan.
Pendidikan kita selama ini
academic oriented. Contohnya, ujian itu selalu hafalan dari TK sampai
SMA. Setiap sekolah mengajarkan teaching to the test.
Padahal,
kalau menurut taksonomi, hafalan itu merupakan tingkat terendah
kecerdasan manusia. Menurut (Albert) Einstein, binatang pun bisa
diajarkan menghafal. Akibatnya, aspek kreativitas, deep thinking, tidak
berkembang baik. Interpersonal, refleksi, emosi, spiritualitas, tidak
berkembang baik.
Salah satunya terlihat pada entrepreneurship kita
yang masih rendah. Menurut Ciputra, rasio (entrepreneur dibanding
jumlah penduduk) kita cuma 0,18 persen. Padahal sebuah negara untuk
bisa maju membutuhkan sedikitnya dua persen entrepreneur.

Sejauh mana angka-angka itu menjadi penghambat?

Sejak
kecil anak di Indonesia tidak dibiasakan berpikir kreatif, karena ada
sistem peringkat dari satu sampai sepuluh yang membuat mereka takut
berbuat salah. Takut salah itu adalah cerminan takut mengambil risiko.
Sikap ini akhirnya terbawa ke dunia kerja. Ini yang membuat orang
Indonesia berpikir selalu mengikuti juklak. Padahal orang kreatif itu
yang berpikir keluar dari juklak. Jadi, walaupun sudah (ada kenaikan
anggaran menjadi) 20 persen,
tetap tak akan ke mana-mana pendidikan kita.

Apa yang sebaiknya menjadi prioritas pembenahan?

Pertama,
pelajaran tidak boleh terlalu banyak, terutama di usia dini, 14 tahun
ke bawah. Di usia 10 tahun ke bawah di mana otak berkembang sampai 95
persen, kita ha rus betul-betul membuat sistem pendidikan yang fun. KBK
(Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan) itu sebenarnya bagus, tapi penekannya balik lagi ke
teaching to the test bagi anak-anak SD.
Lalu dari guru yang kurang
adalah spirit of teaching. Banyak guru yang tidak tahu bagaimana
menjadi guru yang benar walau sudah sarjana. Guru yang berhasil adalah
guru yang membuat anak terus ber tanya, dirindukan anak-anak. Sekolah
yang berhasil adalah sekolah yang kalau libur, atau murid-muridnya
dipulangkan cepat, para murid justru enggan karena mereka
maunya
tetap di sekolah. Sekolah itu kan berasal dari kata Yunani scholeia,
yang artinya tempat bersenang-senang. Sekarang, sekolah kita jadi
tempat anak-anak bersenang-senang atau menakutkan?

Ada kecenderungan jam sekolah anak-anak semakin panjang saja bahkan sampai sore hari? Apakah itu tidak membuat anak jenuh?

Tidak
apa-apa sekolah sampai malam sekalipun asal fun. Kalau tidak fun,
sampai jam 10 pagi pun sudah capek sekali. Jadi, yang penting adalah
membuat suasana bagaimana mereka tidak merasa belajar, tapi bermain,
padahal sebenarnya mereka belajar. Singapura sudah meninggalkan sistem
pendidikan berorientasi akademik, tapi lebih pada sisi holistik,
menyangkut emosi dan sosialnya. Jepang dan Korea Selatan juga begitu.
Hukum alam itu menunjukkan mereka yang berIQ di atas 120 hanya 10
persen dari populasi. Yang ber-IQ di
atas 115 sekitar 15 persen.
Sisanya yang mayoritas sekitar 85 persen, memiliki IQ di bawah itu.
Karena itu, kalau fokusnya pada academic oriented, 85 persen siswa
pasti tak bisa mengikuti.

Contoh riilnya bagaimana?

Olimpiade
fisika, olimpiade matematika, dan sebagainya itu. Saya tanya ke
Profesor Yohanes Surya (pembimbing tim Olimpiade Fisika Indonesia),
bagaimana caranya menciptakan para juara seperti itu? Dia bilang yang
dibina itu adalah yang IQ-nya 160 ke atas. Jumlah murid seperti ini
cuma 0,0001 persen dari populasi atau sekitar 3.000 anak Indonesia.
Kalau seperti ini, nggak dibina pun mereka belajar sendiri sudah jago.
Yang
harus kita pikirkan adalah yang mayoritas. Di Swedia, saya pernah
berkunjung ke satu SMA yang punya 16 jurusan. Ada yang untuk menjadi
babysitter, koki, perancang mode, dan sebagainya, selain jurusan sains
dan matematika.
Saya hitung komposisi murid berdasarkan jurusan yang
mereka ambil, ternyata yang mengambil sains dan matematika itu
jumlahnya hanya sekitar 15 persen. Klop dengan hukum alam tadi. Sistem
pendidikan kita malah terbalik karena melawan hukum alam (tertawa).
Kalau melawan hukum alam, akibatnya semua rusak, mental, karakter, kepercayaan diri.
Jadi,
kenapa kita sebagai bangsa gampang marah, karena sejak kecil kita
dipaksakan untuk menerima sesuatu yang bukan seharusnya kita terima.
Anak-anak gampang stres.

Ciri-ciri anak stres itu bagaimana?

Anak
itu akan nggak suka sekolah. Entah karena pelajaran maupun karena
faktor guru. Input dan respons otak anak itu tak bisa dibohongi. Dia
nggak nyaman.
Ada pendapat bahwa para pendidik di tingkat dasar
justru seharusnya para doktor dan profesor yang mengerti padagogi. Anda
setuju? Saya nggak yakin kalau profesor otomatis bisa mengajar di TK
atau SD. Ketika saya ingin membuat TK nonformal di desa, saya kesulitan
mencari guru yang memadai.
Akhirnya direkrutlah lulusan SMP yang
membantu mengajar di TK. Kami beri pelatihan praktis. Ternyata mereka
bisa membuat sekolah menjadi tempat menyenangkan bagi murid. Jadi, yang
penting ada lah guru itu punya ilmu the spirit of teaching. Mau
berkorban. Sekolah kami mengembangkan konsep community based, yang
bayar guru adalah orang tua murid. Ada (orang tua) yang bayar Rp
8.000-10.000 per bulan. Karena itu bayaran guru paling
banter Rp 100 ribu. Herannya, kok mereka masih bertahan? Masih mau mengajar?
Saya pikir itu bisa terjadi karena mereka memang sudah jatuh cinta pada
dunia pengajaran.

Dari konteks ini, bagaimana melihat program pemerintah mengenai wajib belajar sembilan tahun yang dimulai dari umur 7 tahun?

Sekarang
pemerintah sudah sadar dan membentuk banyak PAUD (Pendidikan Anak Usia
Dini) di mana-mana, karena ada istilah six is too late. Ini juga
menjawab kenapa sumber daya kita rendah karena fondasi selama ini juga
tak kuat.
Kalau fondasi tidak kuat, biar sudah tingkat lanjutan
tetap saja tak bisa bagus. Ini yang kami antisipasi, misalnya di Muara
Karang, tempatnya anak-anak kelas bawah. Atau di Tapos yang banyak
anak-anak tukang ojek. Sekarang ini sudah ada sekitar 700 sekolah kami
yang seperti ini, dengan murid rata-rata 30 orang per kelas. Mereka
kritis sekali, bisa bertanya
ini-itu karena, meskipun masih kecil,
sudah punya prinsip. Yang kita tanamkan bukan sekadar knowing the good,
tapi juga reasoning the good, feeling the good, dan akhirnya acting the
good sehingga mereka menjadi agent of change di kampungnya. Mereka
berani menegur orang dewasa yang buang sampah sembarangan. Yang ditegur
pun nggak marah karena yang mengingatkan adalah anak kecil. Malah jadi
lucu dan malu sendiri orang itu (tertawa).

Bagaimana melihat penetrasi pihak internasional dalam pasar preschool di
Indonesia yang belakangan ini makin menjamur?

Sekolah
asing itu bagus-bagus. Saat ini kita hidup dalam era globalisasi,
kenapa kita mempersoalkan asing atau lokal? Bagus itu kan universal.
Bagi yang punya duit, bisa akses,
silakan saja. Tapi ini kan paling
satu persen dari masyarakat. Berapa banyak sih yang bisa membayar uang
sekolah TK sebesar Rp 20 juta sebulan? Makanya kami membangun sekolah
berbasis karakter yang lebih bisa diakses masyarakat banyak. Menurut
saya, pendidikan yang berbasis agama bisa juga menjadi berbahaya jika
aspek kognitif terlalu ditekankan, misalnya doa-doa hafalan seperti di
TPA (Taman Pendidikan Al-Quran), kalau anak nggak bisa lalu disabet
sehingga membuat mereka ketakutan. Seorang kepala TPA di
Kalimantan
Selatan yang ikut pelatihan sekolah karakter langsung nangis mengingat
metode pendidikannya selama ini. Akhirnya kami mulai masuk juga ke TPA
dengan meningkatkan sistem mereka menjadi TK nonformal. Belajar
Al-Quran kan juga bisa dengan suasana yang menyenangkan, misalnya
dengan menyanyi lebih dulu.

Inspirasi membuat pendidikan berbasis karakter ini dari mana?

Saya
terinspirasi oleh Lee Kuan Yew. Singapura sewaktu berpisah dengan
Malaysia itu kan kondisinya critical. Mereka nggak punya apa-apa,
sumber daya alam minim, masyarakatnya pun rentan konflik karena
berbagai ras ada di sana, India, Cina, Melayu. Lee adalah seorang
filosofi, maka dia melakukan pemberdayaan sumber daya manusia dengan
membuka 350 TK. Ini social engineering. Yang diajarkan itu karakter,
bagaimana kebersihan, disiplin.
Tak sampai satu generasi di tahun
1970-an Singapura sudah menjadi negara yang tertib, menjadi tempat yang
menyenangkan, menjadi salah satu negara terkaya di dunia. Ini
direncanakan semuanya. Indonesia mungkin too late ya, tapi tetap harus
dimulai. Masyarakat mulai berbenah. Ada almarhum Cak Nur (Nurcholish
Madjid), Haidar Bagir dengan sekolah Lazuardinya. Biarkan masyarakat
membantu pemerintah.

Kalau guru bisa diajarkan, orang tua
murid di rumah bagaimana? Anak-anak itu kan menghadapi orang tua mereka
di rumah yang belum tentu sama pandangannya mengenai pendidikan?

Tak
jadi masalah. Para orang tua malah terheran-heran kok anak saya sudah
bisa baca? Kok malah sudah nasihatin saya? Para orang tua itu kita beri
tahukan apa yang dipelajari anak-anak mereka di sekolah, misalnya soal
kejujuran. Tinggal dibuat pemberitahuan kepada orang tua agar
memberikan ajaran tentang kejujuran. Semua poin yang perlu diajarkan di
rumah dituliskan. Hasilnya malah membuat orang tua dan anak tambah
akrab karena
batinnya diikat.

Bagaimana kalau ada yang mengaitkan kesuksesan sekolah ini dengan posisi Pak
Sofyan Djalil di kabinet?

Kami
mulai sekolah ini di tahun 2000, sementara Sofyan masuk kabinet 2004.
Pada saat awal beroperasi, Sofyan menjadi devil's advocate. Apa saja
dia kritik. Akhirnya, saya jalan cari sponsor sendiri, seperti ke Exxon
Mobil. Sampai sekarang kalau ada BUMN yang mau menjadi sponsor, saya
mewantiwanti agar lihat dulu sekolahnya, dipahami dulu konsepnya, bukan
karena suami saya Menteri Negara BUMN. Sebab, kalau bersifat topdown
pasti tak akan long lasting.
Dari 55 sponsor sekolah karakter,
memang ada tiga-empat BUMN. Mungkin karena itu ada yang "menembak",
bahwa karena kedudukan suami, yayasan ini mendapat miliaran rupiah.
Bahkan saya dibilang makmur. Silakan diaudit, sepeser pun saya tidak
digaji. Ini juga sudah diaudit, tanya kepada 55 orang yang kerja di
sini. Tapi saya nggak ambil pusing. Justru kami yang membantu mereka
(perusahaan) , karena membuat hasil corporate social responsibility
mereka terlihat.

Apa target yang belum tercapai?

Target saya harus ada 10 ribu sekolah karakter yang bisa kami bentuk untuk membantu pendidikan di Indonesia. ?

disampaikan kembali oleh
Chairul Hudaya
http://www.nuklir.info




Selasa, 16 Desember 2008

Seminar Pendidikan di Sekolah Alam Cikeas

 

Sabtu 29 November lalu saya sempat datang ke acara Seminar Pendidikan di Sekolah Alam Cikeas. Seminar tersebut menampilkan 3 orang pembicara yaitu Grant Cammis, Dip. T, BEd., MEd (konsultan Pendidikan dari Australia), Lendo Novo ( Konseptor Sekolah Alam) dan Rena Latifa ( Psikolog Pendidikan). Seperti biasa setiap seminar saya pasti membawa Rafif dan Aisyah. Mereka senang sekali karena mereka bisa mencoba berbagai permainan di Sekolah alam selama saya duduk diruangan seminar. Sekolah alam mempunyai area bermain yang luas termasuk peralatan outbound didalamnya.

Berikut garis beberapa poin penting yang saya dapatkan dari 3 pembicara tersebut.



Grant Cammis, Dip. T, BEd., MEd
Mr. Cammis menekankan pentingnya Holistic Education untuk pendidikan anak sejak dini.
Holistic Education adalah suatu proses pendidikan yang mengembangkan semua sisi perkembangan anak. Ada 6 Area yang harus dikembangkan yaitu Akademik, Sosial, Fisik, Emosi, Kreativitas dan Spiritual. Maka ketika ke-6 aspek ini dikembangkan maka manusia akan berfungsi dengan sempurna. Hanya saja Mr. Cammis melihat bahwa sistem sekolah di Indonesia sebagian besar hanya menitikberatkan pada sisi akademis saja dan mengenyampingkan 5 area perkembangan lainnya.

Padahal ada banyak keuntungan yang bisa didapatkan dengan menerapkan Holistic Education, yaitu :
- Akan mangakomodir anak-anak yang kurang dalam bidang akademik
- Mengajarkan life skill
- Mendorong anak untuk bertanggung jawab
- Mengajarkan pendidikan karakter yang akan membantu anak sukses termasuk sukses akademik
- Anak lebih siap menghadapi kehidupan after school.

Selain mengajarkan bahasa, matematika, atau sejarah, sekolah hendaknya juga mengajarkan anak tentang dirinya sendiri, hubungan antar manusia, seni dan kemampuan beradaptasi.

Lendo Novo
Sekolah alam digagas untuk memberikan holistic education untuk anak. Sekolah yang tidak hanya mengajarkan anak akademis belaka, tapi juga berbagai hal yang diperlukan setelah anak lulus sekolah nanti. Sekolah alam diciptakan bukan untuk menjadikan anak menggangur dan binggung setelah sekolah. Sekolah alam akan menjadi sekolah bagi para calon entreupreneur.

Rena Latifa

Ibu Rena banyak berbicara tentang psikologi perkembangan anak. Ada 2 hal penting yang saya catat dari pembahasannya :
1. Hati-hati dengan stimulasi yang berlebihan. Jika anda menginginkan anak anda 'lebih hebat' dibandingkan anak lainnya, maka anda sama dengan menjadikan anak anda 'tidak normal'
2. Fokuskan pada kekutan anak. Orang tua sebaiknya tidak terlalu melihat kelemahan anak tetapi fokuskan pada kelebihan anak dan cari tahu bagaimana mangakomodir kelebihan tersebut.

Posted by Picasa

Summer Holiday

Libur telah tiba... Libur telah tiba... Hatiku gembira.... Siapa yang ga gembira kalau lagi liburan, apalagi kalau liburnya selama 11 min...