Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 April 2012

Rafif dan Afkar Sunat.

Setelah mundur setahun dari rencana awal semula tahun lalu akhirnya Rafif (11 tahun) dan Afkar (5 tahun) disunat juga. Tahun lalu pas liburan ke Indonesia batal karena kita mikirnya kasian lagi liburan kok harus kesakitan, apalagi ada agenda ke Legoland, JB. Nanti aja deh di Riyadh sunatnya, eh tanya punya tanya sepertinya untuk anak seusia Rafif sudah terlambat buat sunat. Kalaupun disunat disana akan dilakukan operasi dengan bius total. Akhirnya mundur lagi dan diambil keputusan sunatnya di Aceh aja pas kita liburan musim panas tahun ini.
 
Jadilah tgl  23 Juli beberapa hari setelah lebaran, Rafif dan Afkar disunat. 
Prosesnya lumayan lancar Alhamdulillah, walau Rafif sempat takut dan berteriak diawal. Metode yg dipakai adalah metode laser di tempat praktek dokter langganan kakeknya anak-anak. Pulangnya sempat mampir ke Pizza hut, tapi  ga makan di tempat karena obat bius Afkar keburu habis dan dia mulai merasa kesakitan.

Hari ini hari ke 6 setelah sunat, Rafif dan Afkar mulai membaik lukanya. Masih sedikit sakit kalau buang air kecil. Tapi secara keseluruhan lukanya membaik dan mengering.

Untuk Afkar agak sedikit kesulitan waktu buka perban. Atas saran dokter kita aja dia berendam dan pelan-pelan kita buka sendiri perbannya. Rasanya ga tega waktu dengar Afkar menjerit kesakitan. Tapi apa boleh buat perbannya memang harus dibuka. Akhirnya kita janjiin buat beli mainan lego sebagai pelipur lara. Tahun 2015 ini tahun yang lumayan berat buat Afkar setelah bulan Mei kemarin juga dia harus dioperasi usus buntunya. Inshaa Allah Afkar sabar dan tabah 😊
 


Here We Are

Sudah 3 bulan kami berada di Riyadh, ibukota Kingdom Saudi Arabia. Setelah menunggu visa selama 2 tahun ( yap benar 2 tahun bukan 2 bulan ) akhirnya tanggal 3 Januari 2012 saya, Rafif, Aisyah dan Afkar berangkat ke Riyadh menyusul Abi ke Riyadh dengan pesawat Qatar Airways. Pada awalnya kami seharusnya akan tinggal di Al Khobar kota di bagian timur Arab Saudi, tetapi Abi mendapat tawaran kerja lain di Aramco perusahaan minyak Saudi  untuk di tempatkan di Riyadh. 


Sebelum berangkat kami stay di Jakarta selama 2 minggu untuk pengurusan visa. Selama 2 minggu di Jakarta tiap hari saya punya agenda keluar rumah dari mulai medical cek up,  urus visa, ajak anak-anak ke tempat rekreasi, bertemu beberepa teman termasuk Bu Yayah sampai belanja perlengkapan untuk berangkat. Yang lumyan susah nyari jaket musim dingin untuk anak-anak. Saya mencari di beberapa mal dan factory outlet tapi ternyata ketemunya malah di factory outlet di Pejaten Village mal di dekat rumah kakak saya tempat kami menginap yang sudah beberapa kali kami datangi.


Tanggal 28 Desember saya ambil paspor di agen, siangnya langsung minta dipesanin tiket sama kantornya Abi. Besoknya Alhamdulillah tiket sudah dikirimkan via email. Mulailah acara pamitan sama keluarga dan packing barang. Urusan packing barang malah masih lanjut sampai hari H. Barang yang dibawa lumayan banyak sampai siang sebelum berangkat saya harus minta  tolong adek untuk beli satu koper baru. Yang paling banyak adalah buku dan mainan anak-anak. 


Barang yang saya bawa dari Aceh, di Jakarta nambah 1 koper lagi.
Malam abis Shalat Isya saya diantar sama Ibu, Kakak, Adik dan keluarga mereka. Proses check in lumayan heboh karena harus ada barang yang di keluarkan dan dipindahkan ke koper lain. syukur ada ibu yang bantu karena saya harus gendong Afkar yang tidur. Untuk perjalanan ini saya minta bantuan dari petugas bandara untuk mengantarkan saya masuk pesawat. Setelah pamit sama keluarga yang mengantar saya masuk keruang tunggu sambil menggendong Afkar sementara Aisyah tidur didalam stroller yang didorong petugas bandara. Petugas mengantarkan kami sampai diatas pesawat. Hanya saja stroller tidak boleh ikut naik bersama kami melainkan harus masuk dalam bagasi pesawat. Syukurnya Aisyah sudah bangun dan jalan sendiri masuk ke pesawat.


Didalam pesawat anak-anak termasuk Afkar tidak ada yang langsung tidur padahal waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam. Mereka sibuk mencoba kursi pesawat yang bisa diubah menjadi flat bed dan menonton TV. Pukul 2 malam mereka masih makan dan minum jus sambil nonton. Akhirnnya selesai makan saya paksa mereka tidur karena apa jadinya nanti kalau kami harus turun pesawat dan mereka masih tidur. Setelah mereka tidur saya malah jadi ga bisa tidur. Saya agak gelisah dan gugup. Ini perjalanan yang sudah kami tunggu selama 2 tahun. Perjalanan ini juga perjalanan jarak jauh saya yang pertama dengan 3 anak. Tidak lama setelah saya akhirnya bisa tertidur Aisyah menangis. Jadilah saya sibuk menenangkan Aisyah dan akhirnya tidak bisa tidur lagi. 


2 jam sebelum mendarat anak-anak bangun dan mereka lanjut lagi nonton tv dan makan. TV di pesawat benar-benar membantu saya membuat anak-anak betah dan tidak rewel. Sepanjang perjalanan Jakarta - Qatar semua lancar kecuali 5 menit sebelum landing Rafif muntah. Mengotori bangku dan semua bajunya. Syukur kami bisa pindah tempat duduk lain. Awak kabin sangat membantu saya mengatasi masalah muntah Rafif tapi tetap saya panik dan takut karena peswat sudah bersiap landing sementara saya masih di kamar mandi membersihkan Rafif muntah ditambah Afkar yang menangis di luar pintu toilet.


Alhamdulillah kami bisa duduk di kursi tepat pada waktunya. Landing sambil diiringi tangisan Afkar dan Rafif serta Aisyah yang merengek tidak mau pakai sepatu :(. Sewaktu turun pesawat saya dibantu oleh awak kabin. Ketika kami turun juga sudah ada petugas Qatar yang khusus menjemput saya untuk diantar ke terminal. Petugas yang menjemputnya saya perempuan dari Korea. Jadilah sepanjang jalan kami membahas film-film korea seperti Winter Sonata dan Full House :).


Transit di Qatar cuma satu 1,5 jam daripukul 5 pagi sampai 6.30. Begitu sampai saya langsung Sholat Shubuh, ganti pampers Afkar dan makan pagi. Selesai makan Afkar malah BAB terpaksa ganti lagi pampersnya. Tidak lama kemudian kami dijemput untuk kembali naik pesawat. Kali ini pesawatnya lebih kecil karena hanya 1 jam perjalanan. Di pesawat menuju Riyadh Afkar mengamuk dan nangis menjerit-jerit. Sampai tawaran coklat dari awak kabinpun ditolak. Mungkin dia sudah terlalu lelah ditambah lagi kurang tidur malam sebelumnya. Setelah 30 menit menangis akhirnya dia tidur sampai kami tiba di Riyadh.


Puncak segala keruwetan dari perjalanan ini adalah ketika turun pesawat di Riyadh. Tidak ada satu awak kabinpun yang mau menolong saya dengan barang-barang. Jadilah saya turun sambil gendong Afkar bawa tas yang penuh dengan segala barang yang didapat dari pesawat, ditambah ransel, dan jaket Rafif dan Aisyah. Walhasil topi Aisyah dan kotak makanan sponge bob yang diberikan di pesawat ketinggalan. 


Bandara King Khaled riyadh tidak terlalu besar sehingga saya tidak perlu jalan jauh. Loket imigrasi juga kosong. Setelah cap paspor, ambil foto dan sidik cari saya ketempat pengambilan bagasi. Perlu 2 orang porter untuk mengangkut barang kami. dan satu insiden lagi. Stroller saya tidak ada. Kami sudah menunggu sampai semua  barang habis dan stroller tetap tidak ada. Atas saran si porter saya melaporkan di baggage claim walaupun ada rasa pesimis stroller itu bakal ketemu. Tapi ternyata strollernya masih ditakdirkan milik kami. Dua minggu kemudian stroller itu diantar kerumah kami di Riyadh.


Akhir perjalanan kami berakhir dengan bahagia ketika melihat Abi menunggu kami diluar Bandara. Setelah menunggu 2 tahun dan menempuh perjalanan panjang bersama anak-anak akhirnya kami bisa berkumpul kembali. Alhamdulillahirrabil'alamin.

Jumat, 18 Juni 2010

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak



Saya kembali vakum menulis. Ini dikarenakan saya harus menjadi single parent selama 2 bulan. Abinya anak-anak harus kembali bekerja ke Arab Saudi. Sesuai perjanjian setelah 2 bulan bekerja bisa mendapatkan kesempatan selama 3 minggu untuk bertemu keluarga di Indonesia. Bulan Juni ini jadwal abinya anak-anak pulang sehingga saya bisa ngeblog lagi.

Ketika berpisah jauh dari suami saya merasakan beratnya mengasuh anak sendiri. Tidak ada teman berbagi cerita dan masalah mengenai pengasuhan anak, tidak ada yang bisa menggantikan menjaga anak-anak ketika saya butuh istirahat atau nge-blog.

Abinya anak-anak bukan sekedar Ayah biasa yang hanya bertugas mencari uang. Abinya anak-anak mau terlibat dalam proses pengasuhan anak. Beliau tidak segan-segan memandikan ( termasuk Afkar yang masih bayi), menyuapi, membacakan buku, mengajak jalan-jalan ataupun bermain bersama anak. Bahkan sebenarnya ide homeschooling ini datangnya dari Abinya anak-anak. Dari suami saya belajar untuk ga "jaim" sama anak, bercanda seru dan melakukan berbagai aktivitas fisik.

Abi tidak pernah mengikuti kelas parenting sekalipun tapi bagi anak-anak Abi adalah ayah terbaik buat anak-anak. Yang membuat mereka menangis selama beberapa malam setiap Abi harus kembali ke Saudi. Mudah-mudahan ijin tinggal kami sekeluarga di Arab Saudi bisa cepat diproses sehingga tidak perlu lagi pisah lama-lama dengan Abi.

Jumat, 12 Maret 2010

I'm Still Here

Banyak yang mengira saat ini saya sudah berada di berada di arab saudi dan sedang sibuk dengan segala urusan yang berkaitan dengan pindah rumah sehingga tidak sempat lagi posting artikel yang baru.

Saya masih disini kok, masih di Indonesia tepatnya di Banda Aceh. Keberangkatan saya dan anak-anak ke KSA masih menunggu beberapa prosedur lagi beres. Saya kembali vakum ngeblog karena selama ini saya numpang internet dari laptop suami karena komputer saya ditinggal di Jakarta. Awal Januari kemarin suami sudah memulai pekerjaannya di KSA sehingga saya kehilangan akses internet.

Alhamdulillah setelah 2 bulan di Saudi suami diperbolehkan pulang untuk menjenguk keluarga di Indonesia. Dengan kepulangan suami ke Indonesia akses internet sayapun kembali :) Sekarang tinggal membagi waktu antara ngurus rumah, anak dan ngeblog.






Jumat, 25 Desember 2009

Full Time Mother

Seorang teman pernah bertanya kepada saya. Apakah saya pernah bosan menjadi Full Time Mother. Jawaban adalah saya pernah bosan, bahkan bosan sekali. Rasanya hidup tidak sedinamis waktu saya kuliah atau kerja dulu. Rasanya saya seperti robot melakukan pekerjaan yang sama setiap hari. Memasak, menjaga anak, membersihkan rumah. Tapi semuanya berubah ketika suami saya melontarkan ide menyekolahkan Rafif dirumah. Awalnya saya sempat menolak. Menyekolahkan anak dirumah?? itu artinya saya tidak akan punya kegiatan diluar rumah. Padahal saya sudah tidak sabar menunggu Rafif masuk sekolah supaya saya punya kegiatan rutin diluar rumah dan punya teman-teman baru ketika mengantarkan Rafif sekolah nantinya.

Suami saya membujuk saya dengan mengatakan cuma sampai TK kok. Alasannya kasihan kalau terlalu kecil sudah harus sekolah dan berbagai macam alasan lain. Jurus terakhir yang dilancarkan suami saya adalah kata-kata berikut " Uminya kan lulusan reputable university pasti ngajarnya bisa lebih bagus :)". Untuk pertama kalinya sejak menikah saya merasa bahagia dengan status sarjana saya karena selama ini terkadang timbul pikiran untuk apa saya kuliah jika hanya menjadi ibu rumah tangga.

Awal Januari 2006. Tahun baru semangat baru. Saya memulai program sekolah rumah untuk Rafif ketika umurnya hampir 2 tahun. Saya mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan anak dan homeschooling. Mulai dari baca buku, baca artikel-artikel di internet sampai dengan mengikuti berbagai seminar atau pelatihan pendidikan anak diberbagai kesempatan. Hidup saya kembali berwarna. Saya seperti anak ABG yang baru lulus SMA dan menikmati masa awal kuliah.

Lewat internet pula saya menemukan alamat rumah Bu Yayah Komariah pendiri Berkemas. Saya datang kerumahnya dan berniat mendaftarkan Rafif masuk Berkemas. Awalnya Bu Yayah menolak karena belum ada anak usia playgroup yang mendaftar. Hanya saja saya berkeras dan menyakinkan Bu Yayah bahwa saya tidak akan merepotkan Bu Yayah dengan urusan pengajaran Rafif. Saya akan mengajar sendiri. Sekarang saya dan bu Yayah bersahabat lewat bu Yayah saya semakin banyak mendapatkan ilmu mengenai mendidik anak. Saya diajak beliau ke setiap acara parenting, dikenalkan dengan para pendidik seperti Neno Warisman dan Erry Soekresno.

Sekarang kebosanan menjadi ibu rumah tangga sudah menguap. Saya menganggap ini sebuah karir juga dan saya berusaha profesional didalam mengelola rumah dan anak-anak saya. Saya masih terus belajar supaya jenjang karir saya semakin tinggi walupun tidak ada saingan sama sekali. Dulu saya bosan karena tidak menghargai profesi saya. Dan hanya bekerja seadanya saja.

Walaupun saya tidak menghasilkan tambahan uang untuk rumah tangga seperti ibu-ibu pekerja lainnya tapi saya yakin saya menghemat pengeluaran dalam jumlah yang cukup besar.
Dengan menjadi full time mother dan homeschooling ini yang bisa kami hemat :
- Biaya Transport dan makan siang saya ke kantor
- Biaya Sekolah, Transport, Seragam dan makan siang semua anak
- Biaya les matematika, membaca, cooking class dan bahasa inggris untuk semua anak

Saya tidak tahu berapa nilai dari semua biaya tersebut. Yang pasti kedekatan saya dengan anak-anak tak ternilai: Priceless.


Matikan Suara TV Ketika Iklan

Matikan suara TV ketika iklan. Itu yang kami lakukan ketika menonton TV. Ide ini saya dapatkan dari buku Mendampingi Anak Menonton TV oleh Milton Chan. Dalam bukunya Milton Chan menulis bahawa biasanya orang sangat kesal jika terus menerus didatangi salesman, tapi anehnya orang membiarkan salesman yang berupa iklan di TV untuk masuk kerumahnya setiap saat.

Merasakan kebenaran ucapan Milton Chan membuat saya menekan tombol mute ketika iklan di TV tiba. Apalagi ketika film anak-anak diputar biasanya iklan-iklan penuh berisi makanan dan mainan anak. Ini tentu secara tidak langsung membuat anak menjadi konsumtif apalagi kalau yang di iklankan makanan yang tidak sehat tentu akan mempunyai dampak yang lebih buruk lagi. Sebagian besar iklan-iklan tersebut dikemas dengan menarik sehingga anak pasti akan tergiur. Dengan mematikan suaranya makan iklan akan kehilangan sebagian kekuatannya dalam menyihir anak untuk membeli produknya.

Satu lagi dampak positif dengan dimatikan suara TV adalah anak jadi melakukan kegiatan lain. Jika tidak dimatikan mata Rafif dan Aisyah akan terus terpaku didepan layar. Ketika suaranya tidak ada, mereka mengobrol atau melakukan hal lain selain menatap layar kaca. Akhirnya jam menonton TV juga berkurang karena mereka tidak menonton iklan.

Awalnya saya yang harus selalu mematikan suaranya. Sekarang Rafif atau Aisyah sudah tahu ketika iklan mereka tinggal menekan tombol mute. Sedangkan Rafif sudah tahu bahwa tidak semua iklan itu benar adanya. Sejak melihat iklan Kidzania yang menggambarkan seorang anak naik mobil pemadam kebakaran betulan, padahal ketika di Kidzania dia melihat yang ada hanya mobil pemadam kebakaran kecil. Jadi sekarang ketika melihat tag line sebuah iklan "enaknya tak ada habisnya" dia langsung komentar "kemarin Rafif makan bisa abis kok" :)


Senin, 14 Desember 2009

Murid Baru - Abdullah Afkar


Tanggal 26 Sebtember saya punya murid baru di homeschooling kami. Yaitu adik kecil Rafif dan Aisyah yang lahir melalui operasi Caesar sekitar 2 bulan yang lalu. Namanya Abdullah Afkar. Waktu lahir beratnya 3,3 kg sekarang sudah sekitar 6 kg. Rafif senang sekali punya adik lagi karena adiknya laki-laki sesuai dengan keinginannya. Alhamdulillah syukur kepada Allah yang telah menambah jumlah anggota keluarga kami sehingga sekolah kami tambah ramai :)

Posted by Picasa

Rabu, 02 Desember 2009

Pindah

Sejak tanggal 28 November 2009 kami sekeluarga pindah dari kota Jakarta yang padat. Untuk sementara ini kami tinggal di Banda Aceh selama beberapa bulan untuk kemudian bermukim di Arab Saudi. Alhamdulillah sekali lagi saya merasakan keuntungan dari Homeschooling. Saya tidak perlu repot-repot memikirkan sekolah mana yang mau menerima siswa hanya untuk beberapa bulan saja selama kami di aceh. Selain itu juga saya tidak perlu pusing memikirkan dimana anak-anak kami bersekolah di Arab Saudi nanti. Ketika kami pindah saya hanya perlu memindahkan hard disk komputer yang berisi berbagai materi belajar serta buku-buku Rafif dan Aisyah.

Hanya saja kami tidak bisa membawa semua prakarya yang telah dibuat. Tapi dengan camera digital semua hasil karya Rafif dan Aisyah bisa direkam untuk dijadikan kenangan. Selain itu barang lain yang penting untuk dibawa adalah printer. Printer kami sudah dilengkapi dengan tinta infus yaitu tinta tambahan yang bisa ditambahkan dengan cara di suntik pada botol-botol yang dipasang disamping printer itu sendiri. Dengan tinta infus kami bisa mencetak buku-buku serta worksheet sampai dengan beratus-ratus lembar dangan hanya menghabiskan sedikit tinta. ini tentu saja sangat menghemat pengeluaran untuk tinta karena intensitas kami menggunakan printer sangat tinggi.


Rabu, 18 November 2009

Terima Kasih Buat Semua Pembaca Daramaina.com

Postingan terakhir saya saya tanggal 17 Juli 2009 sekarang sudah akhir tanggal 18 November 2009 itu artinya sudah 4 bulan saya vakum ngeblog. Gairah menulis saya sempet berhenti karena kandungan yang makin membesar lalu punya bayi ditambah lagi dengan rencana kepindahan kami sekeluarga ke Arab Saudi.

Tapi membaca berbagai komentar yang ditinggalkan di blog ini membuat saya merasa dibutuhkan. Membuat gairah menulis saya besar kembali. Terima kasih buat semua yang sudah berkenan membaca blog saya ini. Insya Allah saya akan kembali menulis. Walaupun saya berhenti menulis bukan berarti proses homeschooling dirumah kami berhenti. Keinginan belajar anak-anak tidak pernah padam walaupun mungkin belajar menurut mereka tidak sama dengan kriteria belajar menurut kita.




Rabu, 27 Mei 2009

Akan ada 1 murid baru Homeschooling kami :)

I am back...
Ini postingan saya setelah lebih dari 3 bulan. Hampir 4 bulan saya menghilang karena terkena sindrome morning and evening sick :)). Alhamdulillah sekarang usia kehamilan sudah 4 bulan sehingga segala rasa mual, pusing dan mengantuk sudha hilang. Insya Allah saya sudah bisa mulai lagi bercerita tentang kegiatan Homeschooling kami lagi...

Walaupun ngeblog sempat berhenti tapi kehamilan tidak membuat Aisyah dan Rafif berhenti belajar. Segalanya masih berjalan lancar, mereka sudah terbiasa dengan pola belajar mereka sehari-hari sehingga saya hanya membantu mereka menyiapkan bahan-bahannya saja ketika mereka ingin membuat atau belajar sesuatu.
Jadwal dibacakan buku cerita tetap sama hanya saja saya melakukannya sambil tidur. Rafif juga bisa dimita bantuannya untuk membacakan buku atau membantu Aisyah belajar.
Lega rasanya mengetahui kehamilan ataupun kehadiran adik baru sama sekali tidak menganggu proses homeschooling kami. Malah pastinya akan menambah pengalaman dan pengetahuan baru buat mereka berdua. Seperti Sabtu yang lalu Rafif ikut masuk ke dalam ruang periksa ketika saya akan kontrol rutin di dokter. Dia melihat bagaimana ruang periksa, cara dokter bekerja bahkan ikut mendengarkan penjelasan dokter ketika saya di USG dan untuk pertama kalinya dia mengetahui jika calon adiknya laki-laki. Sama persis dengan yang dia inginkan :)
Mereka juga selalu bertanya kapan adiknya lahir, sebesar apa adiknya, lagi ngapain aja adikknya. Ternyata kehamilan tidak membuat uminya tambah repot sehingga tidak bisa memperhatikan mereka lagi tapi malah membawa kegembiraan dan pengetahuan baru buat mereka. Insya Allah ketika adikknya lahir Oktober nanti Rafif dan Aisyah juga bisa belajar bagaimana mengurus seorang bayi mungil....


Sabtu, 22 November 2008

Domain baru

Akhirnya setelah sekian lama vakum bisa ngeblog lagi. Mulai saat ini saya punya tekad untuk bisa membagikan pengalaman menjalankan homeschooling secara reguler dan terperinci melalui blog ini. Domain juga sudah dirubah tidak lagi menggunakan blogspot menjadi lebih simple dengan hanya menampilkan nama saja. Domain ini saya beli dari Yahoo Domain hanya seharga sekitar Rp. 20.000 untuk satu tahun pertama, jauh lebih murah dari harga domain lain yang berkisar antara Rp. 80.000 - 100.000. Eiiit, jangan kaget dulu, Rp. 20.000 karena Yahoo lagi ada program discount.

Blogspot sendiri sebenarnya juga menyediakan layanan pembelian domain tapi harganya $ 10 . Tahun kedua saya akan melakukan transfer domain pindah layanan ke penyedia domain lain karena untuk tahun kedua tarif yang ditetapkan yahoo lebih mahal lagi.

Senin, 28 Juli 2008

Unlimited Internet

Alhamdulillah akhirnya cita-cita punya koneksi internet dirumah kesampaian. Telkomsel menawarkan Unlimited Internet untuk kartu Halo hanya sebesar Rp. 150.00 termasuk PPn. Memang sih masih lebih mahal dari First Media yang cuma Rp. 100.000. Kecepatannya lebih lambat cuma up to 256 kbps daripada Telkomsel Flash tapi cukup memadailah untuk kebutuhan browsing dan download sehari-hari. Sumber belajar buat Rafif makin tak terbatas. Bisnis Internet juga makin lancar :) Kalau tertarik bisa dicek langsung Hot Offering dari Telkomsel ini di sini.



Kamis, 19 Juni 2008

Bekerja Dari Rumah

Beberapa waktu lalu teman kuliah saya, Endah membuat kejutan. Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya dia mengumumkan launching toko onlinenya Excella Galery yang menjual barang-barang kerajinan Indonesia. Sebenarnya temen saya itu sudah mempunyai pekerjaan yang lumayan bagus untuk di World Bank, tetapi keinginan untuk bekerja dari rumah membuatnya mau berjibaku untuk memulai suatu usaha baru. Bagi para ibu bekerja dari rumah memang pilihan yang ideal karena dapat memiliki banyak waktu kebersamaan dengan anak tanpa kehilangan peluang ataupun aktualisasi diri. Yang menjadi masalah adalah mau bisnis apa yah? Kalau tidak mempunyai ketrampilan atau produk yang akan di jual bagaimana? Kalau tidak punya tempat bagaimana? sewa toko kan mahal ? Ini beberapa pertanyaan yang kerap terdengar dari teman2 saya yang ingin mencoba bekerja dari rumah.
Sebenarnya peluang bagi ibu-ibu untuk bekerja dari rumah terbuka lebar dengan adanya internet. Kita bisa saja membuka toko online seperti halnya teman saya Endah, tidak perlu sewa toko. Yang diperlukan hanya foto-foto produk, sebuah web, domain dan hosting.
Jika dana untuk menyewa jasa web designer tidak ada kita bisa mencoba membuat sendiri dengan program yang user-friedly seperti Joomla. Untuk membeli dan menyewa domain hanya berkisar Rp. 250.000 pertahun. Sangat jauh bukan jika dibandingkan dengan biaya untuk menyewa toko.
Lalu bagaimana kalau kita tidak mempunyai barang yang kita jual? Jika kita tidak punya barang yang kita jual kita bisa saja memasarkan barang milik orang lain atau menjadi seorang Affiliate Marketing. Seluk beluk menjadi Affilate Marketing bisa dipelajari disini . Kedepannya prospek pertumbuhan internet di indonesia akan semakin besar, begitu juga dengan biaya koneksi internet akan semakin bagus. Sehingga bekerja dari rumah dengan bantuan internet menjadi satu hal yang layak di perhitungkan. Tapi yang paling patut diperhitungkan adalah waktu dan kedekatan yang bisa kita berikan bagi anak.

Senin, 16 Juni 2008

Masak

Awal menikah saya sama sekali tidak bisa memasak bahkan bercita-cita tidak akan memasak dan hanya berharap PRT yang akan mengerjakannya. Tetapi kenyataan berkata lain, sebulan setelah menikah saya saya harus tinggal di Kuala Lumpur menemani suami yang kuliah disana. Rencananya begitu saya menikah saya akan segera belajar masak tapi malah saya repot dengan urusan kantor dan lain-lain yang harus saya bereskan sebelum berangkat. Buyarlah rencana saya untuk belajar masak, bahkan saat di mobil menuju bandara pun saya masih sibuk mencatat berbagai resep masakan dari ibu saya.

Hari pertama dan kedua di Malaysia masih aman karena suami tidak kuliah jadinya kami makan ataupun beli makanan dari luar. Hari ketiga pagi mulailah pertarungan dimulai dengan bekal berbagai catatan resep makanan dari ibu saya mulai memasak udang tumis. Hasilnya .....hmmm...sedikit tawar tapi memang pada dasarnya udang itu kan sudah enak. Jadi lumayan lah masih bisa dimakan :) Selidik punya selidik ternyata ibu saya lupa menyebutkan ketumbar di resepnya hehehehe...

Besok-besoknya menu andalan saya adalah tumis sayur dan ikan goreng. Paling yang diganti jenis sayur dan ikannya saja, kalau hari ini bayam berarti besok kangkung, hari ini bandeng berarti besok kembung. Itupun setiap hari saya sms ibu saya untuk konsultasi cara memasak termasuk cara memasak bubur kacang hijau.

Sekarang masak sudah bukan masalah lagi. Practice makes perfect! Apalagi dengan bantuan Tabloid Saji sudah nggak ada lagi yang namanya bingung mau masak apa. Pengalaman ini membuat saya memutuskan akan memasukkan kurikulum memasak untuk anak saya termasuk yang laki-laki karena siapa tahu mereka nanti akan mengalami nasib seperti ibunya yang terdampar di negeri asing :)

Koneksi Internet

Sekarang ini saya mengunakan fasilitas Telkomsel Flash untuk koneksi internet dirumah. Dengan membayar Rp. 200.000 perbulan (belum termasuk pajak) saya mendapatkan waktu akses selama 40 jam. Memang lebih mahal dari Speedy yang menawarkan program Time Based 50 jam untuk paket Rp.200.000. tapi karena rumah kami belum mempunyai fixed line jadilah Telkomsel Flash pilihan kami. Sebelumnya saya sempat menggunakan jaringan Starone melalui HP CDMA tetapi Starone penghitungan biaya dilakukan berdasarkan byte dan bukan waktu membuat agak sulit untuk mengontrol pemakaian ditambah lagi saya sering mendownload ataupun mengakses situs dengan program flash. Bahkan sering kali saya harus menonaktifkan gambar di web browser saya untuk menghemat pulsa. Browsingpun menjadi ”garing” karena hanya text only.

Setelah Starone saya sempat juga mencoba layanan Wifone Esia karena tergiur dengan program internet dari telpon rumah hanya sebesar Rp 100 permenit. Lebih murah memang dari Starone tapi koneksinya lambat sekali setara dengan Telkomnet Instanlah.

Hanya bertahan 3 bulan saya kemudian meninggalkan Wifone dan beralih ke Telkomsel Flash sampai sekarang karena Flash koneksinya lumayan cepat dan stabil. Hanya saja saya masih berharap layanan Fastnet dari First Media hadir dirumah saya karena kedepannya saya ingin bisa browsing tanpa harus bolak-balik mendisconnectkan koneksi karena koneksi internetnya tidak lagi hanya 40 jam sebulan melainkan 24 jam sehari selama sebulan penuh.

Summer Holiday

Libur telah tiba... Libur telah tiba... Hatiku gembira.... Siapa yang ga gembira kalau lagi liburan, apalagi kalau liburnya selama 11 min...