Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Juni 2010

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak



Saya kembali vakum menulis. Ini dikarenakan saya harus menjadi single parent selama 2 bulan. Abinya anak-anak harus kembali bekerja ke Arab Saudi. Sesuai perjanjian setelah 2 bulan bekerja bisa mendapatkan kesempatan selama 3 minggu untuk bertemu keluarga di Indonesia. Bulan Juni ini jadwal abinya anak-anak pulang sehingga saya bisa ngeblog lagi.

Ketika berpisah jauh dari suami saya merasakan beratnya mengasuh anak sendiri. Tidak ada teman berbagi cerita dan masalah mengenai pengasuhan anak, tidak ada yang bisa menggantikan menjaga anak-anak ketika saya butuh istirahat atau nge-blog.

Abinya anak-anak bukan sekedar Ayah biasa yang hanya bertugas mencari uang. Abinya anak-anak mau terlibat dalam proses pengasuhan anak. Beliau tidak segan-segan memandikan ( termasuk Afkar yang masih bayi), menyuapi, membacakan buku, mengajak jalan-jalan ataupun bermain bersama anak. Bahkan sebenarnya ide homeschooling ini datangnya dari Abinya anak-anak. Dari suami saya belajar untuk ga "jaim" sama anak, bercanda seru dan melakukan berbagai aktivitas fisik.

Abi tidak pernah mengikuti kelas parenting sekalipun tapi bagi anak-anak Abi adalah ayah terbaik buat anak-anak. Yang membuat mereka menangis selama beberapa malam setiap Abi harus kembali ke Saudi. Mudah-mudahan ijin tinggal kami sekeluarga di Arab Saudi bisa cepat diproses sehingga tidak perlu lagi pisah lama-lama dengan Abi.

Jumat, 25 Desember 2009

Full Time Mother

Seorang teman pernah bertanya kepada saya. Apakah saya pernah bosan menjadi Full Time Mother. Jawaban adalah saya pernah bosan, bahkan bosan sekali. Rasanya hidup tidak sedinamis waktu saya kuliah atau kerja dulu. Rasanya saya seperti robot melakukan pekerjaan yang sama setiap hari. Memasak, menjaga anak, membersihkan rumah. Tapi semuanya berubah ketika suami saya melontarkan ide menyekolahkan Rafif dirumah. Awalnya saya sempat menolak. Menyekolahkan anak dirumah?? itu artinya saya tidak akan punya kegiatan diluar rumah. Padahal saya sudah tidak sabar menunggu Rafif masuk sekolah supaya saya punya kegiatan rutin diluar rumah dan punya teman-teman baru ketika mengantarkan Rafif sekolah nantinya.

Suami saya membujuk saya dengan mengatakan cuma sampai TK kok. Alasannya kasihan kalau terlalu kecil sudah harus sekolah dan berbagai macam alasan lain. Jurus terakhir yang dilancarkan suami saya adalah kata-kata berikut " Uminya kan lulusan reputable university pasti ngajarnya bisa lebih bagus :)". Untuk pertama kalinya sejak menikah saya merasa bahagia dengan status sarjana saya karena selama ini terkadang timbul pikiran untuk apa saya kuliah jika hanya menjadi ibu rumah tangga.

Awal Januari 2006. Tahun baru semangat baru. Saya memulai program sekolah rumah untuk Rafif ketika umurnya hampir 2 tahun. Saya mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan anak dan homeschooling. Mulai dari baca buku, baca artikel-artikel di internet sampai dengan mengikuti berbagai seminar atau pelatihan pendidikan anak diberbagai kesempatan. Hidup saya kembali berwarna. Saya seperti anak ABG yang baru lulus SMA dan menikmati masa awal kuliah.

Lewat internet pula saya menemukan alamat rumah Bu Yayah Komariah pendiri Berkemas. Saya datang kerumahnya dan berniat mendaftarkan Rafif masuk Berkemas. Awalnya Bu Yayah menolak karena belum ada anak usia playgroup yang mendaftar. Hanya saja saya berkeras dan menyakinkan Bu Yayah bahwa saya tidak akan merepotkan Bu Yayah dengan urusan pengajaran Rafif. Saya akan mengajar sendiri. Sekarang saya dan bu Yayah bersahabat lewat bu Yayah saya semakin banyak mendapatkan ilmu mengenai mendidik anak. Saya diajak beliau ke setiap acara parenting, dikenalkan dengan para pendidik seperti Neno Warisman dan Erry Soekresno.

Sekarang kebosanan menjadi ibu rumah tangga sudah menguap. Saya menganggap ini sebuah karir juga dan saya berusaha profesional didalam mengelola rumah dan anak-anak saya. Saya masih terus belajar supaya jenjang karir saya semakin tinggi walupun tidak ada saingan sama sekali. Dulu saya bosan karena tidak menghargai profesi saya. Dan hanya bekerja seadanya saja.

Walaupun saya tidak menghasilkan tambahan uang untuk rumah tangga seperti ibu-ibu pekerja lainnya tapi saya yakin saya menghemat pengeluaran dalam jumlah yang cukup besar.
Dengan menjadi full time mother dan homeschooling ini yang bisa kami hemat :
- Biaya Transport dan makan siang saya ke kantor
- Biaya Sekolah, Transport, Seragam dan makan siang semua anak
- Biaya les matematika, membaca, cooking class dan bahasa inggris untuk semua anak

Saya tidak tahu berapa nilai dari semua biaya tersebut. Yang pasti kedekatan saya dengan anak-anak tak ternilai: Priceless.


Kamis, 10 Desember 2009

Read Aloud Handbook - Jim Trelease

Rasanya saya ingin langsung loncat kegirangan ketika melihat buku ini bertengger dengan manis disalah satu rak Toko Buku Leksika, Lenteng Agung. Karena sudah lama saya ingin membaca buku ini. Read Aloud Handbook menjadi salah buku satu buku yang banyak di rekomendasikan oleh para homeschooler luar negeri. Selama ini saya hanya berharap agar buku ini bisa diterjemahkan dan beredar di Indonesia. Alhamdulillah karya Jim Trelease ini akhirnya diterbitkan oleh Mizan.

Buku ini memberikan satu formula sederhana untuk mencerdaskan anak sejak dini yaitu dengan cara membacakan buku kepada anak. Dengan dibacakan buku maka kosa kata anak akan bertambah dengan pesat. Satu buku cerita anak memuat lebih banyak kata baru yang tidak kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Buku juga memuat berbagai topik ilmu pengetahuan untuk anak.


Buku ini membuat saya kembali melakukan suatu hal yang sudah berhenti saya lakukan yaitu membacakan buku untuk Rafif. Setelah Rafif bisa membaca saya berhenti membacakan buku untuknya. Karena ketika Rafif sudah pintar membaca saya merasa tugas saya selesai. Saya tidak ingin akhirnya Rafif malas membaca karena sudah ada saya yang terus membacakan buku untuknya. Ternyata membacakan buku buat anak tidak berarti membuat anak malas atau tidaktertarik lagi dengan membaca. Membacakan buku buat anak layaknya kita beriklan terus menerus kepada anak mengenai asyiknya membaca buku. Dalam buku Read Aloud Handbook dicontohkan restoran cepat saji Mc Donald sudah sangat terkenal dan banyak orang yang sangat menyukai berbagai pilihan burger yang disediakan direstoran tersebut. Tapi ini tidak membuat Mc Donald berhenti beriklan. Setiap tahun Mc Donald menghabiskan dana yang sangat besar untuk iklan. Mereka tidak ingin orang lupa dengan kelezatan burger mereka. Demikian juga halnya dengan buku, kita harus terus mengingatkan kelezatan buku kepada anak dengan cara terus membacakan buku kepada mereka walaupun mereka sudah bisa membaca.

Alasan lain mengapa anak tetap terus dibacakan buku menurut Jim Trelease adalah dengan dibacakan buku membuat anak bisa menikmati buku yang lebih tebal, lebih berbobot dengan jumlah kata juga yang lebih banyak. Kemampuan anak mendengar sudah terbentuk sejak anak masih dalam kandungan sehingga anak lebih bisa mencerna maksud daripada suatu kata ketika ia mendengarkan kata tersebut dibandingkan ketika dia melihat dan membaca sendiri kata tersebut. Buku-buku yang kami beli sekarang tidak lagi sekedar buku anak-anak bergambar yang hanya terdiri dari beberapa lembar. Sejak membaca Read Aloud Handbook saya mulai membacakan buku sejenis novel dengan gambar yang sedikit seperti Charlie and Chocolate Factory atau Kisah Menakjubkan Dalam Alquran, dan ternyata Rafif dan Aisyah bisa menikmatinya.

Selain kedua hal diatas dalam buku Read Aloud Handbook juga diberikan panduan cara membacakan buku untuk anak, jenis buku yang sesuai untuk setiap usia anak, cerita dari orang tua yang sudah menerapkan read aloud untuk anaknya dan pelajaran yang bisa diambil dari oprah, Harry Potter dan internet.

Buku ini sangat layak dibaca oleh para homeschooler dimana kecintaan akan buku sangat menunjang keberhasilan anak belajar secara mandiri.

Rabu, 27 Mei 2009

Akan ada 1 murid baru Homeschooling kami :)

I am back...
Ini postingan saya setelah lebih dari 3 bulan. Hampir 4 bulan saya menghilang karena terkena sindrome morning and evening sick :)). Alhamdulillah sekarang usia kehamilan sudah 4 bulan sehingga segala rasa mual, pusing dan mengantuk sudha hilang. Insya Allah saya sudah bisa mulai lagi bercerita tentang kegiatan Homeschooling kami lagi...

Walaupun ngeblog sempat berhenti tapi kehamilan tidak membuat Aisyah dan Rafif berhenti belajar. Segalanya masih berjalan lancar, mereka sudah terbiasa dengan pola belajar mereka sehari-hari sehingga saya hanya membantu mereka menyiapkan bahan-bahannya saja ketika mereka ingin membuat atau belajar sesuatu.
Jadwal dibacakan buku cerita tetap sama hanya saja saya melakukannya sambil tidur. Rafif juga bisa dimita bantuannya untuk membacakan buku atau membantu Aisyah belajar.
Lega rasanya mengetahui kehamilan ataupun kehadiran adik baru sama sekali tidak menganggu proses homeschooling kami. Malah pastinya akan menambah pengalaman dan pengetahuan baru buat mereka berdua. Seperti Sabtu yang lalu Rafif ikut masuk ke dalam ruang periksa ketika saya akan kontrol rutin di dokter. Dia melihat bagaimana ruang periksa, cara dokter bekerja bahkan ikut mendengarkan penjelasan dokter ketika saya di USG dan untuk pertama kalinya dia mengetahui jika calon adiknya laki-laki. Sama persis dengan yang dia inginkan :)
Mereka juga selalu bertanya kapan adiknya lahir, sebesar apa adiknya, lagi ngapain aja adikknya. Ternyata kehamilan tidak membuat uminya tambah repot sehingga tidak bisa memperhatikan mereka lagi tapi malah membawa kegembiraan dan pengetahuan baru buat mereka. Insya Allah ketika adikknya lahir Oktober nanti Rafif dan Aisyah juga bisa belajar bagaimana mengurus seorang bayi mungil....


Sabtu, 24 Januari 2009

9 Akhlak (Karakter Positif) Pendukung Keberhasilan Akademik

Saya bisa dikatakan fansnya Bu Ery Soekresno seorang psikolog yang bergerak di bidang dunia anak dan pendidikan. Ide-ide yang dipaparkan bu Ery dalam setiap seminar yang saya ikuti membuat saya semakin mendapatkan keyakinan bahwa saya sebagai orangtua bisa memberikan pendidikan yang baik bagi anak melalui homeschooling.

Awalnya menjalani homeschooling pasti akan ada keraguan dari para orang tua termasuk saya mengenai kemampuan mengajar.
" Aduh bisa ngga yah saya ngajarin anak?"
"Sabar nggak yah?"
"Tahan ngga ya ngajar 6 jam sehari"
Ini sebagian fikiran yang menggelayuti fikiran saya pada awalnya. Karena definisi mengajar bagi saya awalnya adalah memberikan penjelasan mengenai suatu topik agar anak bisa tahu dan faham mengenai topik tersebut.

Ternyata bukan itu definisi mengajar menurut bu Ery.

Definisi mengajar adalah memotivasi anak agar mau memperlajari suatu topik, sedangkan yang akan membuat dia mengerti itu adalah dirinya sendiri bukan orang tua. Agar anak bisa mengerti juga terkadang tidak langsung mungkin saja akan mengalami kebingungan dan berbuat salah sebelumnya. Itu hal yang wajar karena belajar merupakan suatu proses bukan hanya sekedar tahu jawaban yang benar yang mana.

Oleh karena itu yang paling penting adalah membangun karakter positif anak yang akan mendukung proses belajar anak. Dan ini merupakan tugas utama orang tua.

Pada dasarnya anak itu fitrahnya sudah memiliki semua potensi kebaikan dalam dirinya. Hanya saja perlu bantuan orang tua agar anak bisa mengeluarkan kebaikan-kebaikan yang terpendam dalam dirinya tersebut. Kalau anak terlihat 'nakal' bagi kita sebenarnya bukan karena anak memiliki jiwa kriminal melainkan hanya karena mereka masih lugu, belum tahu ataupun karena anak memang senangnya yang enak-enak saja.

9 Akhlak (Karakter Positif) yang akan mendukung keberhasilan anak melalui proses akademik menurut bu Ery adalah sebagai berikut :

1. Rasa Percaya Diri
Rasa PD bisa dilatih dengan cara memberikan pilihan bagi anak terutama ketika kita ingin anak melakukan sesuatu dan kesempatan melakukan pekerjaan sederhana sendiri.
Ketika kita ingin menyuruh anak mandi misalnya ketika anak menolak kita bisa memberikan pilihan " Dek, mau mandi air dingin atau air hangat?". Dan ketika dia sudha memilih hargai apapun pilihannya jangan mengkritik dengan berkata misalnya " yah kok air hangat kan umi repot masaknya!". Ini akan kembali menjatuhkan mental anak.

2. Rasa Ingin Tahu
Ketika anak tidak lagi punya rasa ingin tahu maka proses belajarnya terhenti karena dia merasa sudah cukup dan tidak ingin tahu apa-apa lagi. Oleh karenanya kita harus selalu memumpuk rasa ingin tahu yang sebenarnya sudah Allah berikan kepada semua anak.
Caranya berusaha menjawab semua pertanyaan anak, kalau tidak bisa ajak dia ikut mencari jawaban tersebut. Kita juga bisa mengajarkan anak mengajukan berbagai pertanyaan terhadap satu topik dengan pertanyaan yang diawali Apa, Mengapa, Bagaimana, Kapan, Siapa, Berapa lama dan Berapa Biaya membuatnya.

3. Motivasi
Motivasi sebaiknya berasal dari dalam diri sendiri bukan karena dia ingin menyenangkan orang tua ataupun karena hadiah. Oleh karena itu ketika kita ingin anak melakukan sesuatu jangan diimingi-imingi hadiah sebelumnya atau dengan amarah sehingga anak melakukannya hanya karena ingin menghindari amarah kita.
Selain itu kita juga bisa meminimalkan memberi perintah kepada anak, biarkan anak yang mengambil keputusan mengenai apa yang seharusnya dia lakukan berdasarkan fakta yang ada. Misalkan alih-laih berkata " dek, beresin dulu mainannya sekarang!" Kita bisa ganti dengan " dek, rumah kita berantakan yah, mainanmu berserakan. Gimana caranya supaya rumah kita ngga berantakan lagi"?. Jadi ide membereskan mainan itu akan datang dari dia sendiri.

4. Kemampuan Kontrol diri
Kemamapuan kontrol diri akan didapatkan anak jika dia diberikan kesempatan untuk mengekspresikan perasaannya. Jadi ketika anak marah biarkan anak marah selama dia tidak merusak barang ataupun memukul. Anak boleh mengungkapkan semua perasaannya orang tua lah yang akan membantu anak mengekspresikan dengan cara yang benar.

5. Kemampuan Kerja Sama
Kerjasama bisa dilatih dengan banyak hal misalkan saja dengan membuat kue bersama-sama ibu dan adik ataupun membangun menara yang tinggi dengan teman. Tunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan bersama akan lebih cepat selesai.

6. Mudah Bergaul
Anak kuper sering menajdi masalah bagi orang tua. Orang tua seringkali khawatir kalau anak tidak mudah bergaul walaupun pada kenyataannya anak usia 2 tahun belum bisa bermain bersama. agar anak mudah bergaul anak diberikan kesempatan bertemu dengan prang lain tidak hanya teman sebaya tetapi juga teman berbagai usia dan orang dewasa.
Bu ery mengingatkan anak berumur dibawah 4 tahun harus ditemani oleh orang dewasa ketika ingin bermain dirumah temannya karena anak usia dini masih mau enaknya sendiri tanpa memperdulikan aturan-aturan yang berlaku.

7. Mampu Berkonsentrasi
Tips sederhana yang diberikan bu Ery agar anak bisa berkonsentrasi adalah dengan memegang anak serta meminta anak menatap mata kita ketika kita berbicara padanya.

8. Empati
Ketika kita ingin anak berempati kita harus mengenalkan berbagai jenis perasaan kepada anak. Sedih, marah, takut, kecewa, cemas, bahagia dan sebagainya. Sehingga anak bisa membaca perasaan orang lain dan kemudian mencoba berempati.
Untuk kegiatan kongkrit setiap malam takbiran anak-anak Bu Ery akan berkeliling Jakarta untuk memberikan hadiah bagi para pemulung.

9. Kemampuan Berkomunikasi
Ketika berkomunikasi dengan anak hindari bahasa bayi misalkan " Adek mau maem, ya?". Ketika anak salah mengucapkan sesuatu kita tidak perlu mengkritiknya tapi langsung mencontohkan yang benar. "ooo, adek mau makan, ya?"
Tips lain dari bu Ery adalah kita sebaiknya tidak memberikan apa yang diperlukan anak sebelum dia memintanya sendiri.



Semua karakter postif tersebut tidak bisa dibangun dengan cara hanya menonton VCD, membaca buku ataupun hanya berupa nasehat dari orang tua. Anak perlu diberikan kegiatan kongkrit untuk setiap Karakter. Dan yang paling penting contoh utama kita adalah Rasulullah SAW.

Beberapa website yang terkait dengan pembentukan karakter :
Centre on Social and Emotional Foundation for Early Learning
Good Charater
List berbagai websites lain bisa dilihat disini

Jumat, 16 Januari 2009

Home Economics ( Mengelola Rumah Tangga) for Homeschooler



Saya sempat punya pengalaman tinggal di negeri orang. Tidak jauh, masih negara tetangga Malaysia dan tidak lama juga cuma 1 tahun. Tetapi 1 tahun itu saya benar-benar kelimpungan mengurus rumah tangga. Tinggal di negeri orang berarti semua harus dilakukan sendiri dari mulai belanja, memasak, mencuci pakaian, menyetrika dan seabrek pekerjaan rumah tangga lain. Saya padahal tidak pernah melakukan semua pekerjaan itu sebelumnya. Hari-hari saya sebelumnya cuma diisi kekampus, belajar dan ekstrakurikuler, ketika kemudian menjadi pekerja kantoran waktu pun kemabli habis hanya untuk kekantor dan istirahat.Orang tua saya pun tidak pernah memaksa saya untuk membantu pekerjaan rumah, mungkin ibu saya dulu berfikir bahwa melibatkan anak pada pengelolaan rumah tangga tidak akan memberikan sumbangan bagi kesuksesan akademik.

Pengalaman tinggal diluar negeri tersebut membuat saya merasa harus membiasakan anak saya untuk membantu pekerjaan rumah tangga agar nantinya mereka siap ketika hidup mandiri kelak. Ternyata banyak hal yang dapat dipelajari anak ketika dia dilibatkan dalam urusan rumah tangga. Untuk anak usia dini mereka bisa melatih motorik halus ketika diajak mengelap debu, menyiram tanaman ataupun menguleni adonan tepung. Ketika memasak mereka belajar proses sains sederhana seperti dari padat menjadi cair ataupun fakta bahwa minyak tidak bisa bercampur dengan air. Matematika bisa juga dipelajari ketika mereka memilah baju yang sudah disetrika, mengukur perabotan yang akan dipindahkan, ataupun menghitung tomat yang baru dibeli.

Dengan diberikan kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang sama dengan orang dewasa akan menumbuhkan rasa percaya diri dan perasaan diterima di kalangan orang dewasa. Rasa tanggung jawab juga bisa ikut dipupuk. Dan ini semua sama pentingnya dengan kesuksesan akademik.

Dibeberapa negara maju kegiatan mengelola rumah tangga ini bahkan menjadi kurikulum tersendiri. Saya kebetulan mempunyai contoh kurikulum Home Economics dari teman sesama Homeschooler di Canada. Didalam modul tersebut anak diajarkan dari mulai membersihkan rumah, memasak, mengorganisir kegiatan sampai menjahit. Saya jadi nggak heran lagi bagaimana orang-orang di luar negeri bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga tanpa perlu bantuan PRT. Mereka sudah terbiasa mengerjakannya dari kecil.

So... Rafif...Aisyah, ayo bantu-bantu umi :)



Posted by Picasa

Jumat, 02 Januari 2009

Homeschooling ( Kurikulum ) Anak Usia Dini

 


Awal menjalani homeschooling tidak ada kepanikan yang berarti. Saya pikir gampanglah, paling tinggal diajarin nyanyi, mewarnai dan lipat-melipat kertas. Karena kegiatan itu yang ada dalam ingatan saya tantang kegiatan belajar di tingkat taman kanak-kanak. Saya lupa bahwa pengalaman duduk ditaman kanak-kanak itu sudah saya lewati lebih dari 20 tahun yang lalu.

Katika Rafif berusia 2.5 tahun saya memutuskan inilah saatnya Rafif 'belajar formal'. Kemudian saya membeli sekotak krayon ( satu-satunya alat gambar yang ada dalam fikiran saya), kertas origami, gunting, lem dan beberapa buku yang berisi lembar kerja untuk diisi. Mulailah proses memindahkan sekolah kerumah saya lakukan.

Tetapi perkembangannya tidak maksimal, bahkan Rafif cenderung menjadi terbatasi kreativitasnya. Dia merasa takut untuk menggambar karena saya selalu mewanti-wanti dia untuk tidak keluar garis ketika mewarnai. Takut salah dalam melakukan banyak hal Dia juga frustasi ketika harus menggunakan gunting karena motorik halusnya belum berkembang. Mungkin pada saat itu satu-satunya hal terbaik yang saya lakukan adalah membacakan buku untuknya.

Penjelajahan saya didunia maya pada akhirnya membuka mata saya bahwa bukan seperti itu proses homeschooling anak usia dini seharusnya. Homeschooling seharusnya memberikan anak kesempatan yang besar untuk mengembangkan diri dan menekuni minatnya. Segala lembar kerja dan buku mewarnai hanya akan menghambat kreativitas dan proses berpikir anak balita.

Dari pengalaman dan berbagai hasil pencarian, saya menyimpulkan bahwa kurikulum anak usia dini sebenarnya adalah dunianya, kehidupannya sehari-hari dan bermain. Pelajaran paling penting bagi anak usia dini adalah bagaimana dia mengenal Allah, bertingkah laku dengan baik, mencintai proses pencarian ilmu dan pengenalan alam sekitarnya.

Kegiatan - kegiatan berikut Insya Allah akan membantu anak menjalankan pendidikan dirumah dengan menyenangkan dan bermakna :

- Dibacakan buku setiap hari setidaknya 20 menit perhari.
- Mendengarkan ayat-ayat suci alquran ataupun lagu dengan syair Islam
- Berkebun.
- Berbincang dan bermain dengan orang dewasa.
- Belajar bertingkah laku baik.
- Membuat berbagai kerajinan dari kertas bewarna, kardus, flannel, biji kering dsb
- Menggambar dengan krayon, cat air, cat poster, kapur bewarna, spidol, glitter, pewarna makanan dsb.
- Bermain peran, lego, balok, mobil-mobilan, lilin, air, pasir dsb.
- Melakukan aktivitas fisik seperti lari-lari, bersepeda, berenang, main bola dsb.
- Menghitung berbagai macam benda seperti biskuit, manik-manik, biji dsb.
- Membantu pekerjaan rumah tangga sederhana seperti mengelap debu, membereskan mainan, ataupun membuat kue.
- Pergi ketempat-tempat menarik seperti mesjid, pasar, pemadam kebakaran, bandara dsb.

Berbagai situs yang memuat berbagai kegitan kreatif yang mencerdaskan anak bisa anda lihat di sini

Melihat list diatas mungkin anda akan bingung wah kapan belajarnya? Bisa-bisa anak saya akan ketinggalan dari anak-anak lain? Kapan belajar membacanya, kapan matematika, kapan menulisnya?

Saya juga khawatir pada awalnya tapi saya kemudian melihat kemampuan Rafif berkembang pesat tidak hanya akademiknya saja tapi juga rasa percaya diri dan kemandiriannya. Berbagai aktivitas tersebut adalah langkah awal yang akan memberikan Rafif kesiapan untuk belajar matematika, membaca dan menulis. Dan yang paling membahagiakan adalah ketika melihat semangat belajar dan rasa ingin tahunya yang tinggi. Ketika anak cinta belajar , dia akan belajar apapun termasuk matematika, membaca dan menulis.

Tulisan yang terkait dengan posting ini :
- Rumahku Sekolahku
- Melatih Motorik Halus dengan Memasak
Posted by Picasa

Sabtu, 27 Desember 2008

Bagaimana Mengajarkan Anak Bahasa Inggris

Bagi homeschooler kemampuan bahasa Inggris sangat diperlukan karena 90% materi pendukung dari internet menggunakan bahasa Inggris. Dengan kemampuan bahasa Inggris juga membuat kesempatan untuk mendapatkan ijazah International terbuka lebar.

Lalu kapan dan bagaimana cara mengajarkan Bahasa Inggris bagi anak sehingga anak bisa menggunakan bahasa Inggris secara utuh ?. Menggunakan bahasa Inggris secara utuh berarti anak tidak hanya bisa mengerti apa yang dia baca dalam bahasa Inggris, tapi dia juga bisa memahami apa yang dia dengar, berbicara dan menuliskan gagasan-gagasannya dalam bahasa Inggris.

Bahasa Inggris memang sebaiknya diajarkan sejak usia dini.
Alasannya, otak anak masih plastis dan lentur, sehingga proses penyerapan bahasa lebih mulus. Lagi pula daya penyerapan bahasa pada anak berfungsi secara otomatis. Walaupun demikian pengajaran hendaknya dimulai ketika anak sudah mampu berkomunikasi dengan bahasa ibunya yaitu sekitar umur 4 tahun. Karena akan terlalu berat bagi anak apabila harus memepelajari lebih dari satu bahasa pada saat bersamaan. Mempelajari dua bahasa secara bersamaan hanya akan membuat anak bingung memilih bahasa mana yang akan digunakan. Kecuali apabila komunikasi dilakukan secara intensif dengan 2 orang yang berbeda. Misalnya Ibu berbicara dengan bahasa Indonesia dan Ayah berbicara dengan bahasa Inggris secara konsisten. Tidak saling tukar menukar bahasa. Untuk info lebih lanjut silahkan lihat disini.

Pengajaran bahasa Inggris dilakukan secara bertahap. Sama halnya dengan belajar bahasa Indonesia anak tidak langsung belajar berbicara, membaca dan menulis secara bersamaan.

Sebelum bisa berbicara dalam bahasa indonesia anak harus mendengarkan terlebih dahulu bahasa Indonesia. Kalau dia tidak pernah mendengar bahasa tersebut, tidak mungkin dia dapat berbicara. Itu sebabnya biasanya anak yang tuli sejak lahir juga otomatis bisu karena dia tidak bisa mendengar sehingga tidak bisa menirukannya. Jadi pada intinya belajar bahasa apapun caranya sama.

Berikut adalah tahapan-tahapan dalam belajar Bahasa Inggris yang saya sedang terapkan:

1. Listening ( Mendengar)
Selain mendengar kita berbicara anak juga bisa belajar mendengar dengan cara dibacakan buku cerita dalam bahasa Inggris (silahkan lihat daftar perpustakaan digital yang ada disisi sebelah kanan blog ini), mendengar nyanyian sederhana seperti Nursery Rhyme ataupun dengan menonton TV dan VCD berbahasa Inggris. Tapi untuk awal pilih yang kata-katanya sedikit dan sederhana.

2. Speaking ( Berbicara )
Setelah anak sering mendengar dalam bahasa Inggris, anak bisa di didorong untuk berbicara dalam kalimat-kalimat sederhana. Saya awalnya punya kesulitan untuk mengajak anak mau berbicara dalam bahasa inggris. Sampai akhirnya saya menemukan Genki English website belajar bahasa Inggris as Second Language untuk anak-anak. Situs ini berisi berbagai percakapan sederhana yang diubah dengan menjadi lagu dengan ilustrasi yang lucu dan menarik. Sehingga anak menjadi familiar dan mau mencoba berbicara.

Sekarang saya menerapkan waktu 30 menit sehari sebagai waktu keluarga untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Layaknya anak usia tahun baru memulai bicara, Rafif juga memulai berbicara dalam bahasa inggris hanya dengan satu kata misalkan car (mobil) ketika ingin mainan mobil-mobilannya. Sekarang dia sudah bisa berbicara dalam kalimat pendek seperti i want car.

3. Reading ( Membaca)
Ada 2 metode umum mengajarkan anak belajar membaca dalam bahasa Inggris yaitu Whole Language Approach dan Phonic.

Whole Language Approach adalah suatu metode belajar membaca dengan menjadikan bahasa sebagai satu kesatuan tidak terpisah-pisah. Belajar membacanya juga sesuai dengan konteksnya. Metode ini lebih menekankan pada arti suatu kata. Contohnya ketika melihat kata cat (kucing) anak langsung diberitahu bahwa itu bacanya "ket" dan itu artinya kucing. Biasanya anak belajar membaca dengan sistem mengingat (memorize) kata yang sudah pernah disebutkan. Kelebihan metode ini adalah anak lebih cepat bisa membaca tapi akan kesulitan ketika harus menuliskan kata yang dimaksud terutama kata-kata yang cukup panjang.

Phonic adalah suatu metode belajar membaca melalui bunyi huruf dengan cara mengejanya satu persatu misalkan saja cat (kucing) berarti dibaca Keh-e-teh menjadi "ket". Setiap kata diurai menjadi huruf-huruf. Karena belajar melalui mengeja maka anak memerlukan waktu lebih lama untuk bisa membaca. Tapi kelebihannya anak lebih mudah ketika harus menuliskan kata yang dia dengar. Apabila anda ingin mengajarkan membaca dengan metode Phonic anda bisa berkunjung ke sini.

Untuk memudahkan anak belajar membaca sebiaknya pilih buku-buku yang sesuai dengan tingkatannya. Misalkan anak yang baru mulai membaca pilih buku-buku yang hanya terdiri dari satu kata misalkan halaman pertama ada gambar buah apel dan dibawahnya ada tulisan This is Apple. Setelah itu bisa dicoba dengan kata yang lain misalkan I like banana. Anda bisa membuat sendiri buku-buku seperti itu atau mendapatkannya melalui Reading A to Z.

3. Writing ( Membaca )
Ini adalah tahapan yang paling sulit dalam belajar bahasa Inggris karena ada banyak aturan yang harus dipatuhi. Biasanya orang Indonesia pasti akan kesulitan untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Sebenarnya bukan karena tidak bisa melainkan karena takut salah. Padahal kalaupun kita salah mengucapkan susunan beberapa kalimat ataupun salah tata bahasanya lawan bicara kita pasti akan mengerti. Tapi lain halnya dengan menulis, ketika kita melakukan banyak sekali kesalahan tata bahasa dan cara pengejaan bisa jadi orang yang membaca tulisan kita tidak mengerti apa yang kita tuliskan.

Karena ini relatif sulit, maka menurut hemat saya menulis menjadi tahapan terakhir. Jangan terburu-buru mengajarkan grammar atau menulis jika anak belum menguasai 3 tahap sebelumnya. Untuk mengajarkan Grammar sebaiknya dilakukan secara implisit melalui buku yang berisi kalimat-kalimat yang berpola sama. Misalkan saja apabila halaman pertama berisi kalimat past tense maka halaman-halaman berikutnya juga berpola past tense. Sehingga setelah beberapa kali pengulangan anak bisa mendapatkan gambaran kapan kalimat bentuk past tense itu digunakan.

Jika anak diajarkan grammar secara eksplisit yaitu melalui dengan penjelasan panjang lebar mengenai past tense lengkap dengan rumus yang harus dihapal maka anak akan kebingungan dan akhirnya malah merasa takut untuk menulis. Seperti juga ketika berbicara anak sebaiknya memulai dengan menulis satu kata, kemudian satu kalimat pendek, lalu satu kalimat panjang, terus satu paragraph dan seterusnya. Mungkin nanti tanpa anda sadari tiba-tiba anak sudah bisa menulis satu buku dalam bahasa Inggris.

Wah sepertinya ini artikel terpanjang saya :) Jika anda mempunyai pertanyaan atau tips yang ingin dibagi silahkan mengisi komentar. Saya juga masih perlu belajar banyak. Sehingga saya akan sangat berterima kasih jika ada yang memberikan pengalamannya.














Selasa, 23 Desember 2008

Fokus Pada Kebaikan Anak Anda

" Duh tau nggak anakku paling nggak PD orangnya, kalau disuruh kenalan pasti malu"
" Iya, anakku juga kalau giliran nyanyi kedepan pasti langsung mau nangis."
"Wah, kalo anakku lain lagi dia malah kadang terlalu berani orangnya"

Itu kata-kata yang sering saya dengar ataupun bahkan saya sendiri malah sering yang sering mengucapkan ketika bertemu dengan ibu-ibu lain. Ada saja kelemahan anak yang diumbar ketika bertemu ibu-ibu lain. Bahkan tak jarang diucapkan tepat didepan sang anak. Sebenarnya saya mengeluarkan statement seperti itu hanya karena ingin curhat sama teman, sambil mencari solusi atas masalah anak saya tersebut.

Hanya saja terlalu sering dibicarakan masalah tersebut ternyata malah semakin melekat ke anak. Loh kenapa begitu yah?

Sebagian orang tua (termasuk saya :p) terlalu sering memikirkan berbagai hal yang kurang pada diri anak. Mereka terlalu fokus pada beberapa kelemahan kecil dan melupakan kebaikan pada anak yang jumlahnya lebih banyak. Sehingga akhirnya masalah kecil tersebut malah menjadi besar dan kebaikan-kebaikan anak menjadi tertutup oleh masalah itu. Secara tidak langsung mereka sering memberikan cap jelek pada anak. Anakpun setelah beberapa kali mendengar komentar negatif dari orangtuanya, akan memandang dirinya negatif.

Lalu bagaimana caranya menghapus stigma negatif yang telah ada? Caranya adalah dengan fokus pada kebaikan anak. Ini saya pelajari melalui dua seminar yaitu di Cikeas dan Seminar Anak Soleh, Pintar dan Kaya. Novian Triwidia Jaya menyampaikan trik yang bisa orang tua pakai untuk lebih fokus pada kebaikan anak. Dengan cara menuliskan 10 kebaikan anak dalam waktu 10 menit. Jika tidak dapat kita lakukan maka kita bisa mencobanya setiap hari dengan cara minimal menulis 2 kebaikan anak setiap harinya.

Kebaikan yang kita tulis juga hendaknya mengungkapkan detil bukan gambaran umum seperti anak hebat, anak soleh dan sebagainya.

Ini contoh beberapa kebaikan Rafif yang saya tulis :
- Rafif mau menolong adiknya naik kemobil dan kemudian membantu menutup pintunya.
- Rafif senang membaca buku
- Rafif sudah pintar menggambar mobil
- Rafif mau berbagi makanan dengan teman atau adiknya
- Rafif sudah bisa membatasi bermain game

dan daftar ini akan terus bertambah panjang setiap harinya. Biarkan anak melihat atau mendengar berbagai kebaikan tersebut sehingga akan membuat dia percaya diri serta memandang positif dirinya

Setiap orang punya kelemahan termasuk anak saya, dan saya tidak ingin lagi membuat anak tertekan dengan kelemahannya. Insya Allah dengan fokus pada kelebihan atau kebaikkannya maka kelemahannya akan tidak berarti lagi

Jumat, 19 Desember 2008

Kagiatan Komunitas Berkemas : Seminar Homeschooling

 

Di komunitas homeschooling Berkemas kegiatan untuk orang tua dan anak sama banyaknya. Bahkan biasanya diadakan bersamaan. Seperti pada tanggal 24 November 2007 yang lalu Berkemas mengadakan seminar seminar A to Z homeschooling dengan pembicara bu Yayah Komariah dan Bu Emmy Soekresno. Pada saat ibu-ibu serius mengikuti seminar. Diluar beberapa anak-anak homeschooling melatih jiwa wirausaha mereka dengan berjualan :)

Tapi kelihatannya di foto kok ibu-ibunya malah asyik senam yah bukan seminar he..he..he.. Itu foto ibu-ibu lagi diajarin brain gym oleh bu Emmy. Pesan penting buat ibu-ibu ketika bersama anak kita harus fun, menghindari cara-cara yang membosankan dan monoton ketika mengajar anak, anak-anak harus mendapatkan kesempatan untuk bergerak dan berkreasi. Bu Emmy juga memberikan berbagai contoh permainan atau karya seni sederhana yang bisa dibuat sendiri oleh anak. Insya allah nanti saya akan mencoba untuk menampilkannya secara bertahap di blog ini.


Posted by Picasa

Selasa, 16 Desember 2008

Seminar Pendidikan di Sekolah Alam Cikeas

 

Sabtu 29 November lalu saya sempat datang ke acara Seminar Pendidikan di Sekolah Alam Cikeas. Seminar tersebut menampilkan 3 orang pembicara yaitu Grant Cammis, Dip. T, BEd., MEd (konsultan Pendidikan dari Australia), Lendo Novo ( Konseptor Sekolah Alam) dan Rena Latifa ( Psikolog Pendidikan). Seperti biasa setiap seminar saya pasti membawa Rafif dan Aisyah. Mereka senang sekali karena mereka bisa mencoba berbagai permainan di Sekolah alam selama saya duduk diruangan seminar. Sekolah alam mempunyai area bermain yang luas termasuk peralatan outbound didalamnya.

Berikut garis beberapa poin penting yang saya dapatkan dari 3 pembicara tersebut.



Grant Cammis, Dip. T, BEd., MEd
Mr. Cammis menekankan pentingnya Holistic Education untuk pendidikan anak sejak dini.
Holistic Education adalah suatu proses pendidikan yang mengembangkan semua sisi perkembangan anak. Ada 6 Area yang harus dikembangkan yaitu Akademik, Sosial, Fisik, Emosi, Kreativitas dan Spiritual. Maka ketika ke-6 aspek ini dikembangkan maka manusia akan berfungsi dengan sempurna. Hanya saja Mr. Cammis melihat bahwa sistem sekolah di Indonesia sebagian besar hanya menitikberatkan pada sisi akademis saja dan mengenyampingkan 5 area perkembangan lainnya.

Padahal ada banyak keuntungan yang bisa didapatkan dengan menerapkan Holistic Education, yaitu :
- Akan mangakomodir anak-anak yang kurang dalam bidang akademik
- Mengajarkan life skill
- Mendorong anak untuk bertanggung jawab
- Mengajarkan pendidikan karakter yang akan membantu anak sukses termasuk sukses akademik
- Anak lebih siap menghadapi kehidupan after school.

Selain mengajarkan bahasa, matematika, atau sejarah, sekolah hendaknya juga mengajarkan anak tentang dirinya sendiri, hubungan antar manusia, seni dan kemampuan beradaptasi.

Lendo Novo
Sekolah alam digagas untuk memberikan holistic education untuk anak. Sekolah yang tidak hanya mengajarkan anak akademis belaka, tapi juga berbagai hal yang diperlukan setelah anak lulus sekolah nanti. Sekolah alam diciptakan bukan untuk menjadikan anak menggangur dan binggung setelah sekolah. Sekolah alam akan menjadi sekolah bagi para calon entreupreneur.

Rena Latifa

Ibu Rena banyak berbicara tentang psikologi perkembangan anak. Ada 2 hal penting yang saya catat dari pembahasannya :
1. Hati-hati dengan stimulasi yang berlebihan. Jika anda menginginkan anak anda 'lebih hebat' dibandingkan anak lainnya, maka anda sama dengan menjadikan anak anda 'tidak normal'
2. Fokuskan pada kekutan anak. Orang tua sebaiknya tidak terlalu melihat kelemahan anak tetapi fokuskan pada kelebihan anak dan cari tahu bagaimana mangakomodir kelebihan tersebut.

Posted by Picasa

Selasa, 09 Desember 2008

Mengajarkan Anak Membaca

Rafif bisa membaca ketika umur 3.5 tahun. Ini yang jadi "penyelamat" dari keinginan nenek serta kakek untuk memasukkan Rafif kesekolah. Bagi mereka indikator keberhasilan Rafif belajar dirumah adalah bisa membaca. Homeschooling mereka anggap berhasil karena melihat Rafif bisa dengan senang membaca buku. Tapi bisa membaca sebenarnya bukan tujuan utama saya menjalankan homeschooling. Bahkan saya tidak khawatir kalaupun ketika sudah berusia 7 tahun Rafif belum bisa membaca.

Tujuan utama saya adalah anak senang dan mengerti apa yang dia baca bukan hanya sekedar membunyikan huruf demi huruf tanpa dia tahu apa artinya. Kalau ada yang bertanya berapa lama saya mengajarkan anak membaca saya akan menjawab 3 tahun. Ya butuh waktu 3 tahun untuk membuat dia bisa membaca.

Saya memulainya ketika Rafif berumur 6 bulan. Saya mulai memperkenalkan buku seperti layaknya mainan. Awalnya tidak langsung dengan membacakan tetapi dengan memperlihatkan bagian-bagian dari buku, cara membuka buku, menunjukkan judul serta pengarang buku dan memperlihatkan gambar-gambar yang ada. Tidak langsung berhasil memang butuh beberapa waktu dan beberapa buku yang robek :) sampai Rafif terbiasa dengan buku.

Ketika mulai dibacakan juga tidak berlangsung lama pada awalnya, tetapi lama kelamaan tingkat konsentrasi Rafif mendengarkan cerita mulai meningkat. Saya meminimilisasi pengaruh tv agar dia lebih tertarik dengan buku. Karena TV dengan gambarnya yang beregarak lebih menarik daripada buku. Ketika umurnya 2 tahun dia sudah benar-benar mencintai buku. Setiap hari selalu minta dibacakan buku termasuk juga buku-buku dalam bahasa Inggris. Saya juga mulai meningkatkan pemahamannya ketika dibacakan buku dengan cara menanyakan beberapa hal yang terdapat dibuku. saya juga belajar banyak dari buklet yang diterbitkan oleh Pemerintah Amerika untuk program Head Start-nya bagaimana mengajarkan literacy kepada anak.

Setelah Rafif sangat menikmati buku saya mulai mengajarkannya membaca dengan cara mengenalkan huruf, menempelkan tulisan di benda-benda yang ada dirumah supaya dia mengerti bahwa setiap susunan huruf itu mempunyai makna ataupun bermain tebak-tebakan kata.

Umur 3 tahun lebih saya mengenalkan Rafif metode Cantol Raudhoh yaitu suatu metode mnegenalkan anak dengan suku kata melalui VCD lagu dan kartu kartu. Setiap satu suku kata diasosiasikan dengan satu benda misalnya ba dengan baju, ca dengan cabe dan seterusnya. Kurang dari sebulan kemudian Rafif sudah bisa membaca buku dan paham apa yang dia baca sekarang dia bahkan sudah bisa membacakan buku untuk Aisyah. Metode Raudhoh memang membantu tapi tanpa rasa ketertarikan yang kuat terhadap buku sebelumnya tidak mudah bagi Rafif untuk bisa membaca buku. Cuma ada satu kelemahan dari metode mambaca dengan suku kata seperti metode Raudhoh yaitu anak tidak bisa menulis apa yang sudah dia baca. Seperti kata payung ataupun nyenyak Rafif masih kesulitan menuliskannya. sehingga walaupun sudah bisa membaca saya masih harus mengajarkan membaca secara mengeja juga agar dia bisa menuliskan apa yang dia baca.

Jumat, 05 Desember 2008

Semua Bisa Sedih


Buku Semua Bisa Sedih terbitan Tiga Serangkai ini adalah favorite Aisyah saat ini. Anak-anak sepertinya punya satu buku kesayangan yang akan dia baca berulang-ulang. Setiap hari Aisyah pasti bertanya "mi, buku idih ( sedih) mana?". Abangnya Rafif juga dulu punya buku favorite yang judulnya Mimi The Selfish Kitten. Buku Semua bisa sedih mempunyai ukuran serta illustrasi gambar yang besar. Dilengkapi juga dengan sampul hard cover.

Ini salah satu buku yang membantu anak mengenali perasaan yang sering dialaminya yaitu sedih dan bagaimana rasanya. Setelah itu anak diajak mendengarkan cerita Omar yang sedih ketika ada temannya yang mengolok-olok dan cerita Amy yang merasakan kesdihan karena kelinci peliharaannya mati.

Buku seperti ini akan membantu anak meningkatkan kecerdasan emosinya karena anaknya diajak untuk mengetahui apa yang dia rasakan, bagaimana menyalurkannya sehingga anak tidak melakukan hal yang buruk dan apa yang bisa dia lakukan ketika ada orang yang sedang sedih.

Dibagian akhir buku ini juga diberikan petunjuk bagi orang tua bagaimana caranya membantu anak mengatasi perasaannya. Saya belajar dari buku bahwa semu emosi itu baik marah, kesal, sedih semua adalah hal normal yang dirasakan anak sebagai manusia. Sebelumnya ketika anak perasaannya sedang ngga enak saya pasti mengeluarkan komentar-komentar yang tidak berempati. Seperti, "Jangan nangis dong!", "Masak gitu aja takut" atau " Kok marah-marah melulu". Komentar seperti itu hanya membuat anak semakin tidak nyaman dengan perasaannya. Sekarang saya berusaha berempati kepada anak, hanya saja ada satu hal yang saya tekankan kepada anak yaitu kalau marah tidak boleh memukul atau merusak barang. Bagaimanapun kecerdasan emosi adalah salah satu kecerdasan yang harus kita kembangkan pada anak.

Summer Holiday

Libur telah tiba... Libur telah tiba... Hatiku gembira.... Siapa yang ga gembira kalau lagi liburan, apalagi kalau liburnya selama 11 min...