Tampilkan postingan dengan label Homeschooling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Homeschooling. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Oktober 2011

Metode Cantol Raudhoh untuk Belajar Membaca

Setelah Rafif bisa membaca menggunakan metode Cantol Roudhoh. Saya mencoba lagi menggunakan metode tersebut untuk mengajarkan Aisyah membaca. Metode cantol merupakan sebuah metode dimana anak diajarkan suku kata dengan mengasosiasikan suku kata tersebut dengan benda. Misalkan Suku kata Ba dikaitkan dengan Baju, suku kata Ca dengan Cabe, Da dengan Dadu dan seterusnya.Untuk mempermudah anak menghapal suku kata tersebut juga disediakan VCD dalam bentuk lagu berirama riang dengan lirik yang sederhana. Contoh salah satu liriknya untuk suku kata Ga adalah sebagai berikut : 
    Gajah belalainya panjang badannya besar
    Senang akku melihatnya di kebun binatag bersama teman
    Ga, gi, gu, ge, go
    Ga, gi, gu, ge, go

Satu paket Metode Belajar Membaca Melalui Lagu yang seharga Rp. 90.000 ini terdiri dari:
   - 3 VCD animasi yang berisi lagu untuk tiap suku kata dan permainan mencari suku kata yang hilang. 
   - 1 Lingkaran yang bisa diputar untuk membantu anak mengingat suku kata melalui satu gambar yang ditampilkan.
   - 26 kartu kata untuk anak berlatih membaca
   - 2 buah buku untuk belajar menulis
   - Buku petunjuk untuk orang tua.

Kotak paketnya

Buku belajar menulis

VCD lagu



Yang membuat metode ini berbeda dengan metode belajar membaca lainnya adalah VCD animasi lagunya. Lagunya berilirik singkat udah dicerna dan diulang-ulang. Hanya saja karena diulang-ulang tersebut membuat Aisyah bosan jika harus menonton sampai habis. Beda dengan Rafif yang mulai menggunakan metode ini pada usia 3 tahun. Dia betah menonton VCDnya sampai habis setiap hari. Sepertinya untuk anak 5 tahun keatas seperti Aisyah lebih cocok menggunakan Paket Belajar Membaca Melalui Game atau Film yang juga dikeluarkan oleh Lembaga Pendidikan Prasekolah Roudhoh.


Karena Aisyah bosan jika harus menonton VCD lagu tersebut sampai habis, saya hanya memutarkan 1 bagian dari dari suku kata yang ada didalam lagu. Misalkan hari ini saya memutarkan Lagu Da untuk Dadu. Setelah selesai menonton kami akan membaca kata-kata di kartu suku kata Da. Kartu Da ini memuat semua kombinasi Da, di, du , de, do suku kata B dan Ca yang sudah dipelajar sebelumnya.  
Setelah itu Aisyah akan belajar menulis di buku menulis yang juga disediakan. Sewaktu saya membeli paket ini untuk Rafif buku belajar menulis tidak termasuk didalamnya. Dan sebaiknya untuk anak ketika belajar membaca juga sekaligus belajar menulis apalagi untuk anak kinestetik karena dia tidak hanya sekedar melihat gambarnya tapi juga merasakan tangannya bergerak mengikuti bentuk tersebut. Bisa juga dengan membuatkan huruf dari kertas amplas yang bisa dirasakan teksturnya oleh anak.

Supaya Aisyah semangat belajarnya, saya membuatkan intensive chart bunga yang bertuliskan suku kata yang akan dia pelajari setelah mencapai bunga yang berwarna biru Aisyah akan mendapatkan hadiah seperti yang tertulis di bunga biru tersebut. Kartu yang sedang dipelajari juga saya jepit dengan jepit jemuran di poster tersebut agar kapanpun dia mau belajar dia bisa ambil sendiri materinya. Sekarang Aisyah sudah belajar sampai huruf Da mudah-mudahan dia bisa membaca melalui metode ini. Jika ternyata gagal mungkin Aisyah masih perlu waktu lebih atau metode lain. Bisa membaca bukan sekedar tujuan tapi ada kegembiraan dan pemupukan rasa percaya diri dalam setiap proses belajar.


Intensive Chart





Selasa, 02 Agustus 2011

Tantangan 30 Hari Klub Oase

Selama bulan Ramadhan Klub Oase menantang para orang tua untuk mendokumentasikan kegiatan anak dan menguploadnya di Facebook. Setiap orangtua akan berhasil menjadi pemenang jika berhasil sharing foto kegiatan anak salama 30 hari. Keterangan lebih detil silahkan klik disini.




Saya langsung bersemangat ikut tantangan ini. sudah beberapa bulan saya kembali lagi vakum nulis di blog. Bukan karena anak-anak berhenti homeschooling, atau sayanya yang super sibuk. Malas alasan sebenarnya. Padahal banyak kegiatan anak-anak yang bisa disharing disini. Tantangan Klub Oase sekaligus menjadi motivasi saya untuk menjaga blog ini untuk di update secara kontinyu. Selama 30 hari dibulan Ramadhan saya tidak hanya mengupload kegiatan anak-anak via Facebook tapi juga akan menuliskannya di blog. Ramadhan tidak berarti lemas dan tidur-tiduran tapi Ramadhan harus produktif.


Kegiatan hari 1 dimulai dengan membuat gambar pohon diatas karton putih dengan krayon. Setelah itu Rafif mencari daun-daun dihalaman. Daun-daun tersebut diletakan dibalik kertas putih lalu kertas tersebut diarsir tepat diatas daun sehingga muncul pola daun di atas kertas. kemudian daun kertas tersebut di gunting dan ditempel dibatang pohon. Pada setiap lembar daun tersebut Rafif bisa menuliskan perbuatan baik apa yang dialakukan selama bulan Ramdhan. Saya menamakan pohon tersebut Pohon Kebaikan Ramadhan.


Di Aceh sekolah libur selama bulan Ramadhan, jadi teman-teman Rafif datang ke rumah untuk bermain. Lalu saya berinisiatif untuk mengajak mereka bermain sambil belajar. Saya memberikan gambar berbagai macam bentuk geometri, lalu saya minta mereka untuk mengelompokkannya berdasarkan jumlah sudut yang dimiliki.


Setelah mereka berhasil mengelompokkan semua gambar dengan benar, lalu saya minta lagi mereka untuk memilih gambar salah satu bentuk geometri secara acak, dan meminta mereka untuk membuat gambar dengan sudut yang sama, tapi bentuk yang berbeda. Hasilnya, seperti gambar di bawah ini. Gambar yang aslinya (warna hitam) mempunyai dua sudut, kemudian mereka gambar bentuk lain, tetap dengan dua sudut tapi dengan bentuk yang berbeda (warna merah).

Jumat, 25 Maret 2011

Traveling

Proses kepindahan kami ke Arab Saudi ternyata mengalami banyak kendala. Sampai hari ini kami masih berdomisili di Aceh sementara Abi bolak-balik KSA - Aceh setiap bulannya. Pernah juga ada wacana untuk menetap di Bahrain karena prosedur untuk permanent residentnya lebih mudah , tapi situasi politik Bahrain juga saat ini tidak kondusif membuat kami memilih untuk tetap tinggal di Aceh.

Tapi selalu ada hikmah di setiap kejadian. Penundaan kami menetap di KSA membuat anak-anak bisa traveling ke berbagai tempat. dari mulai kampung sampai dengan luar negeri. Selama tinggal di Aceh saya dan anak-anak bergantian tinggal di rumah mertua dan ibu saya. Mertua saya tinggal di Banda Aceh sedangkan ibu saya tinggal di Lhokseumawe 6 jam perjalanan darat dari Banda Aceh. Sepanjang perjalanan Banda Aceh - Lhokseumawe kami melewati sawah, gunung, laut dan hutan. Semua tempat yang biasanya hanya bisa dilihat di buku sekarang bisa dilihat langsung oleh anak-anak. Bisa melihat monyet di pinggir hutan atau gajah yang sudah dilatih di daerah Saree daerah pengunungan yang baru-baru ini diresmikan menjadi tempat perkemahan oleh Presiden SBY. Anak-anak bisa merasakan mandi laut dan juga sungai yang dilewati di sepanjang perjalanan. Mereka bisa melihat perbedaan jelas antara kota propinsi dan kecamatan. Mereka belajar mengenai geografi dan ilmu sosial langsung tanpa perlu teks book. Ini hanya bisa terwujud melalui homeschooling karena tidak mungkin bepergian setiap bulan jika terikat pada absen sekolah.


Selain mobil pribadi anak-anak juga merasakan naik bis antar kota pada malam hari ke Medan ibukota Propinsi Sumatera Utara. Rafif jadi tahu bahwa tidak semua ibu kota propinsi itu sama. Banda aceh bisa dihitung kota besar di Aceh tapi ternyata masih kecil jika dibandingkan Medan. Sayang waktu kami ke Medan tidak sempat berkunjung ke Danau Toba. 

Berbekal tiket murah dari Air Asia kami juga sempat 2 kali ke Kuala Lumpur dan 1 kali ke Singapura.Biaya dan waktu tempuh dari Banda Aceh ke Kuala Lumpur lebih sedikit jika dibandingkan Banda Aceh - Jakarta. Jadi pergi keluar negeri bagi orang Aceh bukan barang mewah lagi.   Rafif dan Aisyah jadi punya pengalaman keluar negeri. Melihat dunia lain yang bahasa dan orang-orangnya berbeda. Berkunjung ke tempat - tempat yang menjadi ikon negara yang selama ini hanya mereka lihat di gantungan kunci seperti menara kembar Petronas dan Patung Singa. Merasakan salju buatan di Snow World. Bermain sekaligus belajar sains di Petrosains Kuala Lumpur dan Singapore Science Centre. Naik alat transportasi yang unik seperti bebek yang bisa jalan di darat dan air atau naik bis tingkat yang terbuka atapnya, nonton pertunjukkan laser plus kembang api serta belanja buku-buku impor hanya seharga 7000 - 50.000 saja.

Kami juga sempat dua kali ke Jakarta untuk suatu keperluan. Jika ke Jakarta maka jadwal tetapnya adalah Kidzania dan toko buku. Jadwal tetap saya ke Jakarta adalah bertemu teman-teman di komunitas Berkemas terutama Bu Yayah. Satu hal yang berat saya tinggalkan di Jakarta adalah Komunitas Berkemas, apalagi semenjak di Aceh saya merasa menjalankan HS sendirian. Pada pertemuan kemarin saya sempat 3 kali datang pada sesi pelatihan GIPIKA (Gerakan Ibu Pintar Matematika).

Alhamdulillah penundaan kami pindah ke KSA membuat anak-anak mempunyai kesempatan traveling ke berbagai tempat tidak hanya mal tapi juga masuk ke pelosok-pelosok kampung.

Kamis, 02 Desember 2010

Second Life

Second Life bisa dikatakan adalah sebuah dunia virtual yaknya game online. Hanya saja di SL kita tidak hanya bermain game tapi bisa bertemu dengan berbagai orang dengan berbagai latar belakang yang diwakili dengan Avatar. Diantara avatar-avatar tersebut ada yang berprofesi sebagai profesor dari berbagai bidang ilmu. Jika didunia nyata rasanya mustahil bisa bertemu dengan ahli geologi dari univeritas di Amerika tapi di Sl ini bisa saja terjadi. Dan tidak hanya sekedar bertemu tapi juga bisa berkomunikasi dengan para ahli tersebut. Bahkan diantara mereka ada yang membuka kelas-kelas yang bisa kita datangi. Di SL kita juga bisa menjelajah ke berbagai museum atau berbagai negara secara virtual sehingga kita bisa mendapatkan gambaran 3 dimensi yang sesuai dengan aslinya. Hal ini yang mendasari saya untuk mendaftar SL. Dengan SL saya merasa bahwa ilmu bisa didapatkan dari berbagai negara dan orang dengan hanya duduk didepan laptop saja. Untuk Keluarga Homeschooling seperti saya ini merupakan hal yang luar biasa. Ketika sudah masuk kedalam SL saya mengetahui ternyata kita tidak hanya bisa melihat bahkan kita bisa menciptakan berbagai benda 3 Dimensi dengan berbagai tutorial yang disediakan gratis oleh berbagai lembaga.


Sebenarnya saya sudah mendaftar SL sejak dari 3 bulan yang lalu. Tapi sambungan internet yang lambat membuat saya kesulitan dalam menjalankan aplikasi SL. Baru 4 hari ini saya bisa mulai akses Sl dengan relatif lancar menggunakan koneksi internet unlimited harian yang disediakan oleh Telkomsel. Sebelum mulai masuk ke SL saya membaca berbagai blog yang ditulis para Homeschooler mengenai SL. Berikut daftar blog yang bisa di intip untuk mengetahuo lebih lanjut mengenai SL:
- Blognya Lala Rembrandt
- Blognya Ines Ogura
- Blognya Marcel Moswood

Jika anda baru mulai masuk SL dan dilanda kebinggungan seperti yang saat ini saya alami :) saran saya datang ke New Citizens Incorporated. Disana akan banyak penjelasan awal mengenai SL. Selain itu juga bisa bertanya dengan para Avatar yang sedang bertugas atau datang ke pertemuan SLED Indonesia yang diadakan setiap Jumat malam pukul 9.00 WIB. Sedangkan jika anda langsung tertarik untuk membuat benda-benda 3 dimensi seperti DI SL silahkan datang ke Happy Hippo Building School yang menyediakan tutorial gratis untuk building 3D.

Selasa, 22 Juni 2010

Sekilas Info dari Bu Yayah

Kemarin malam saya sempat telpon-telponan dengan Bu Yayah Komariah Ketua Komunitas Homeschooling Berkemas. Sudah lama juga tidak ngobrol Bu Yayah. Dulu sewaktu saya masih di Jakarta rasanya hampir setiap hari kami berkomunikasi. Bu Yayah itu punya banyak sekali ide-ide menarik untuk homeschooling. Berbicara dengan Bu Yayah selalu membuat semangat saya untuk terus homeschooling berkobar-kobar.

Kemarin Bu Yayah cerita kalo Abang Bilal anak Bu yayah yang paling tua sudah lulus SMP. Jadi di usianya yang baru 14 tahun Bilal sudah SMA. Hasan dan Husen anak kembar Bu Yayah juga sudah tamat SD walaupun usinya baru 11 tahun. Bu Yayah selalu mengikutsertakan anak-anak beliau ujian kesetaraan ketika duduk di kelas 5. Dan Alhamdulllah sudah 4 anak bu Yayah yang lulus SD 5 tahun. Hanya tinggal si bungsu Syafiq yang belum menamatkan pendidikan SD. Jadi anak-anak Homeschooling juga bisa juga lulus SD 5 tahun seperti layaknya ikut kelas Akselerasi.

Bu Yayah juga cerita ada salah satu anak homeschooling yang sedang berada di Syria akan mengikuti ujian paket C secara online. Wah saya senang sekali mendengar bahwa ternyata ujian paket sekarang sudah bisa dilaksanakan secara online. Jadi apabila kami masih tinggal di Arab Saudi ketika waktunya untuk ujian persamaan anak-anak tidak harus pulang ke Indonesia tapi bisa mengerjakannya secara online.

Info lain dari Bu Yayah adalah sekitar tanggal 3 Juli Berkemas akan kembali mengadakan seminar homeschooling dengan pembicara Bu Yayah dan Sumardiono. Para praktisi yang sudah menjalankan HS lebih dari 5 tahun. Saya jadi ingat masa-masa dulu bantuin Berkemas mengadakan Seminar dengan dana pas-pasan dan peralatan minim. Alhamdulillah sekarang Berkemas sudah punya in Focus sehingga tidak perlu lagi pinjam setiap ada seminar.

Mendengar cerita-cerita Bu Yayah rasanya saya tidak sabar untuk segera terbang ke Jakarta di bulan Juli. Apalagi Berkemas punya agenda pergi ke peternakan susu di IPB pada tanggal 19 Juli jadi kami punya kesempatan lagi untuk ikut kegiatan Berkemas. Selama di Aceh kami tidak punya kesempatan ikut kegiatan belajar bersama seperti di Jakarta. Bahkan saya juga belum pernah bertemu satu keluarga HS pun disini :(


Rabu, 24 Maret 2010

Kendala Dalam Homeschooling

4 tahun sudah saya menerapkan homeschooling untuk anak pertama saya Rafif. Ternyata kendala yang paling sulit yang saya temui dalam menjalankan homeschooling bukan masalah sosialisasi, kurikulum atau materi belajar, ijazah dan waktu yang dibutuhkan untuk mengajar melainkan bagaimana mengajarkan Akhlak atau Karakter bagi Rafif, Aisyah dan Afkar.

Sosialisasi bukan merupakan isu besar ketika menjalani homeschooling selama sosialisasi yang dimaksud bukan hanya terbatas berteman dengan teman yang seumuran saja. Saya memberikan banyak kesempatan bagi rafif dan Aisyah untuk bertemu dan beriteraksi dengan banyak orang dari mulai yang lebih kecil, sebaya ataupun yang lebih tua dengan cara ikut komunitas homeschooling, membuka pintu rumah lebar-lebar bagi semua anak di dekat rumah kami, membawa Rafif dan Aisyah dalam semua kegiatan saya. Kedepannya saya berniat memasukkan Rafif dan Aisyah dalam salah klub olahraga atau hobi sehingga mereka bisa mendapatkan teman-teman baru nanti.

Kurikukulum, hmmm mungkin ini yang paling rumit kelihatannya. Apalagi jika kita tidak berlatar belakang pendidikan. Ada banyak sekali kurikulum yang tersedia bagi para homeschooler. Dari yang gratisan sampai harga ribuan dolar di internet. Setelah intip sana intip sini melihat berbagai kurikulum yang bisa saya lihat, saya punya kesimpulan bahwa semua kurikulum itu mempunyai tujuan yang sama. Misalkan anak SD kelas 1 diharapkan sudah bisa menghitung dan menjumlahkan sampai dengan 20. Hanya cara mengajarkannya saja yang berbeda-beda. Atau misalkan saja sains untuk SD kelas 1 berkutat pada pembahasan mengai tumbuhan, panca indra ataupun binatang. Jadi yang perlu kita pegang adalah kompentensi apa yang harus dikuasai oleh anak pada setiap tingkatannya. Kurikulum yang digunakan bisa apa saja. Untuk anak usia dini yang paling penting adalah Membaca, Menghitung dan Menulis. Tanpa membeli kurikulum apapun saya yakin semua ibu-ibu bisa mengajarkan 3 kompetensi dasar tersebut.

Mengenai materi belajar saya mendapatkan banyak sekali dari internet, dari teman-teman sesama HS, dari toko buku ataupun dari berbagai pelatihan. Ada masa-masa dimana ketika saya masih meraba-raba dan belum tahu mau pakai kurikulum apa sehingga mendownload atau mengcopy semua materi belajar yang bisa saya dapatkan
sampai akhirnya menumpuk dan membuat saya semakin binggung :))

Untuk mendapatkan ijazah dalam negeri kita bisa mendaftarkan anak kita kesalah satu komunitas homeschooling seperti Berkemas atau lembaga PKBM teerdekat. Untuk ijasah luar negeri bisa mendapatkannya melalui distance learning atau lembaga tertentu seperti Cambridge.

Waktu yang diperlukan anak untuk menguasai pelajaran pun lebih pendek jika dibandingkan sekolah, karena dirumah anak suasananya lebih santai dan mendapat perhatian penuh. Jadi tidak perlu dibayangkan jika homeschooling maka waktunya hanya habis untuk mengajar anak seharian. Dalam sehari paling lama saya menemani setiap anak hanya 1 jam. Biasanya yang memakan waktu lama adalah menyiapkan bahan-bahan jika menggunakan kurikulum sendiri.


Nah jadi yang paling sulit bagi saya dalam mendidik anak dirumah adalah menjadikan anak-anak bertingkah laku yang baik, bertanggung jawab, rajin, menghargai orang dan sebagainya. Jujur saja lebih mudah rasanya mengajarkan anak membaca ataupun berhitung dibandingkan dengan hal-hal tersebut diatas. Ketika anak sudah bisa membaca maka dia akan selalu ingat bagaimana caranya membaca. Tapi Rafif dan Aisyah cenderung cepat sekali lupa jika di mesjid tidak boleh lari-lari atau berteriak, tidak boleh memukul ketika marah, saling berbagi, bertanggung jawab terhadap barang-barang dan sebagainya.

Saya masih harus bekerja keras dalam membina karakter anak-anak. Sebelumnnya saya juga harus mendidik diri sendiri dulu agar bisa menjadi contoh yang baik. Selain itu juga banyak berdoa pada Allah agar dimudahkan dan diberi banyak kesabaran. Insya Allah dipostingan-postingan yang lain saya akan bercerita pengalaman saya.Saya juga akan senang sekali jika ada pembaca yang berkenan berbagi pengalaman dalam membina akhlak anak dikolom komentar blog ini.

Jumat, 25 Desember 2009

Full Time Mother

Seorang teman pernah bertanya kepada saya. Apakah saya pernah bosan menjadi Full Time Mother. Jawaban adalah saya pernah bosan, bahkan bosan sekali. Rasanya hidup tidak sedinamis waktu saya kuliah atau kerja dulu. Rasanya saya seperti robot melakukan pekerjaan yang sama setiap hari. Memasak, menjaga anak, membersihkan rumah. Tapi semuanya berubah ketika suami saya melontarkan ide menyekolahkan Rafif dirumah. Awalnya saya sempat menolak. Menyekolahkan anak dirumah?? itu artinya saya tidak akan punya kegiatan diluar rumah. Padahal saya sudah tidak sabar menunggu Rafif masuk sekolah supaya saya punya kegiatan rutin diluar rumah dan punya teman-teman baru ketika mengantarkan Rafif sekolah nantinya.

Suami saya membujuk saya dengan mengatakan cuma sampai TK kok. Alasannya kasihan kalau terlalu kecil sudah harus sekolah dan berbagai macam alasan lain. Jurus terakhir yang dilancarkan suami saya adalah kata-kata berikut " Uminya kan lulusan reputable university pasti ngajarnya bisa lebih bagus :)". Untuk pertama kalinya sejak menikah saya merasa bahagia dengan status sarjana saya karena selama ini terkadang timbul pikiran untuk apa saya kuliah jika hanya menjadi ibu rumah tangga.

Awal Januari 2006. Tahun baru semangat baru. Saya memulai program sekolah rumah untuk Rafif ketika umurnya hampir 2 tahun. Saya mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan anak dan homeschooling. Mulai dari baca buku, baca artikel-artikel di internet sampai dengan mengikuti berbagai seminar atau pelatihan pendidikan anak diberbagai kesempatan. Hidup saya kembali berwarna. Saya seperti anak ABG yang baru lulus SMA dan menikmati masa awal kuliah.

Lewat internet pula saya menemukan alamat rumah Bu Yayah Komariah pendiri Berkemas. Saya datang kerumahnya dan berniat mendaftarkan Rafif masuk Berkemas. Awalnya Bu Yayah menolak karena belum ada anak usia playgroup yang mendaftar. Hanya saja saya berkeras dan menyakinkan Bu Yayah bahwa saya tidak akan merepotkan Bu Yayah dengan urusan pengajaran Rafif. Saya akan mengajar sendiri. Sekarang saya dan bu Yayah bersahabat lewat bu Yayah saya semakin banyak mendapatkan ilmu mengenai mendidik anak. Saya diajak beliau ke setiap acara parenting, dikenalkan dengan para pendidik seperti Neno Warisman dan Erry Soekresno.

Sekarang kebosanan menjadi ibu rumah tangga sudah menguap. Saya menganggap ini sebuah karir juga dan saya berusaha profesional didalam mengelola rumah dan anak-anak saya. Saya masih terus belajar supaya jenjang karir saya semakin tinggi walupun tidak ada saingan sama sekali. Dulu saya bosan karena tidak menghargai profesi saya. Dan hanya bekerja seadanya saja.

Walaupun saya tidak menghasilkan tambahan uang untuk rumah tangga seperti ibu-ibu pekerja lainnya tapi saya yakin saya menghemat pengeluaran dalam jumlah yang cukup besar.
Dengan menjadi full time mother dan homeschooling ini yang bisa kami hemat :
- Biaya Transport dan makan siang saya ke kantor
- Biaya Sekolah, Transport, Seragam dan makan siang semua anak
- Biaya les matematika, membaca, cooking class dan bahasa inggris untuk semua anak

Saya tidak tahu berapa nilai dari semua biaya tersebut. Yang pasti kedekatan saya dengan anak-anak tak ternilai: Priceless.


Senin, 21 Desember 2009

Everyday is Math Day

Terinspirasi oleh Robinson Curriculum, saat ini saya menerapkan pelajaran matematika untuk Rafif setiap hari. Jika dulu pelajaran yang diberikan berbeda setiap harinya misalkan Senin untuk Science lalu Selasa untuk Reading dan seterusnya. Bedanya dengan Robinson Curriculum (RC) adalah jika RC menggunakan buku panduan Saxon Math karena belum punya saya menggunakan buku text yang sudah ada saja dari Singapore Math.

Inti dari Robinson Curriculum adalah pelajaran yg utama hanya matematika, menulis dan membaca. Untuk mata pelajaran lain seperti sejarah , sains dan sebagainya dipelajari diluar jam belajar utama apabila anak tertarik akan topik tersebut. Anak akan mempelajari sains, kimia dan biologi secara detil ketika dia sudah menyelesaikan semua soal di Saxon math yaitu sampai dengan pembahasan Calculus. Alasannya keahlian matematika akan sangat membantu ketika anak harus belajar sendiri fisika, kimia dan biologi.

Selain itu dalam RC tidak ada guru khusus. Anak belajar secara mandiri. Setiap hari selama 6 hari dalam seminggu anak akan mengerjakan 30 soal dari Saxon Math, menulis satu essay tentang topik apa saja dan sisa waktunya digunakan untuk membaca buku apa saja. Jika ada yang salah baru mereka mengulang kembali soal tersebut dan menjelaskan kepang tua bagaimana cara mereka mengerjakannya.

Hal ini yang saya coba terapkan untuk Rafif. Setiap hari dia saya minta mengerjakan 1 lembar work sheet dari Singapore Math . Waktunya kapan saja bisa pagi, siang atau malam.Saya hanya menunjukkan halaman yang harus dia kerjakan lalu saya tinggal dan saya biarkan mengerjakannya sendiri. Awalnya dia gak mau dan mengelak untuk mengerjakannya. Tapi setelah beberapa hari mengerjakannya dia menjadi terbiasa. Setiap hari dia menggambil sendiri worksheetnya dan mengerjakannya tanpa bantuan saya termasuk hari libur. Setelah selesai dia akan memperlihatkan hasil kerjanya lalu saya akan memeriksa dan memberitahukan letak kesalahannya.

Saya sangat gembira mengetahui fakta bahwa sebenarnya anak bisa mengajari diri mereka sendiri matematika karena saya dulu lemah dalam matematika. Bagaimana mungkin saya bisa mengajari anak saya matematika ketika dia sudah duduk di tingkat lanjutan. Dengan mencoba mengerjakan sendiri tanpa diberitahu caranya terlebih dahulu membuat anak bisa berfikir. Rafif juga lebih santai mengerjakannya sendiri karena jika ada saya yg mendampingi biasanya mulut saya langsung "gatal" untuk mengomentari setiap kesalahan yang dia buat. Sering kali dia akhirnya menolak untuk melanjutkan. Sekarang dia berhenti melanjutkan ketika memang soalnya sudah habis. Urusan salah belakangan baru di perbaiki.

Inilah asyiknya HS dengan metode Eclectic bisa comot sana comot sini. Lalu diramu sesuai dengan keadaan.

Senin, 14 Desember 2009

Abangku Guruku


Dalam Homeschooling yang menjadi pengajar bisa siapa saja, tidak perlu guru dengan sertifikasi khusus. Anak berumur 5 tahun juga bisa menjadi guru. Foto diatas adalah foto Rafif yang sedang mengajarkan Aisyah menggunakan laptop sekaligus belajar bahasa Inggris. Guru mengajarnya bisa santai sambil angkat kaki segala :) . Selain mengajarkan cara menggunakan Laptop , Rafif juga mengajarkan banyak hal kepada Aisyah dari mulai abjad sampai dengan cara membuka tutup botol.

Kamis, 10 Desember 2009

Read Aloud Handbook - Jim Trelease

Rasanya saya ingin langsung loncat kegirangan ketika melihat buku ini bertengger dengan manis disalah satu rak Toko Buku Leksika, Lenteng Agung. Karena sudah lama saya ingin membaca buku ini. Read Aloud Handbook menjadi salah buku satu buku yang banyak di rekomendasikan oleh para homeschooler luar negeri. Selama ini saya hanya berharap agar buku ini bisa diterjemahkan dan beredar di Indonesia. Alhamdulillah karya Jim Trelease ini akhirnya diterbitkan oleh Mizan.

Buku ini memberikan satu formula sederhana untuk mencerdaskan anak sejak dini yaitu dengan cara membacakan buku kepada anak. Dengan dibacakan buku maka kosa kata anak akan bertambah dengan pesat. Satu buku cerita anak memuat lebih banyak kata baru yang tidak kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Buku juga memuat berbagai topik ilmu pengetahuan untuk anak.


Buku ini membuat saya kembali melakukan suatu hal yang sudah berhenti saya lakukan yaitu membacakan buku untuk Rafif. Setelah Rafif bisa membaca saya berhenti membacakan buku untuknya. Karena ketika Rafif sudah pintar membaca saya merasa tugas saya selesai. Saya tidak ingin akhirnya Rafif malas membaca karena sudah ada saya yang terus membacakan buku untuknya. Ternyata membacakan buku buat anak tidak berarti membuat anak malas atau tidaktertarik lagi dengan membaca. Membacakan buku buat anak layaknya kita beriklan terus menerus kepada anak mengenai asyiknya membaca buku. Dalam buku Read Aloud Handbook dicontohkan restoran cepat saji Mc Donald sudah sangat terkenal dan banyak orang yang sangat menyukai berbagai pilihan burger yang disediakan direstoran tersebut. Tapi ini tidak membuat Mc Donald berhenti beriklan. Setiap tahun Mc Donald menghabiskan dana yang sangat besar untuk iklan. Mereka tidak ingin orang lupa dengan kelezatan burger mereka. Demikian juga halnya dengan buku, kita harus terus mengingatkan kelezatan buku kepada anak dengan cara terus membacakan buku kepada mereka walaupun mereka sudah bisa membaca.

Alasan lain mengapa anak tetap terus dibacakan buku menurut Jim Trelease adalah dengan dibacakan buku membuat anak bisa menikmati buku yang lebih tebal, lebih berbobot dengan jumlah kata juga yang lebih banyak. Kemampuan anak mendengar sudah terbentuk sejak anak masih dalam kandungan sehingga anak lebih bisa mencerna maksud daripada suatu kata ketika ia mendengarkan kata tersebut dibandingkan ketika dia melihat dan membaca sendiri kata tersebut. Buku-buku yang kami beli sekarang tidak lagi sekedar buku anak-anak bergambar yang hanya terdiri dari beberapa lembar. Sejak membaca Read Aloud Handbook saya mulai membacakan buku sejenis novel dengan gambar yang sedikit seperti Charlie and Chocolate Factory atau Kisah Menakjubkan Dalam Alquran, dan ternyata Rafif dan Aisyah bisa menikmatinya.

Selain kedua hal diatas dalam buku Read Aloud Handbook juga diberikan panduan cara membacakan buku untuk anak, jenis buku yang sesuai untuk setiap usia anak, cerita dari orang tua yang sudah menerapkan read aloud untuk anaknya dan pelajaran yang bisa diambil dari oprah, Harry Potter dan internet.

Buku ini sangat layak dibaca oleh para homeschooler dimana kecintaan akan buku sangat menunjang keberhasilan anak belajar secara mandiri.

Rabu, 02 Desember 2009

Pindah

Sejak tanggal 28 November 2009 kami sekeluarga pindah dari kota Jakarta yang padat. Untuk sementara ini kami tinggal di Banda Aceh selama beberapa bulan untuk kemudian bermukim di Arab Saudi. Alhamdulillah sekali lagi saya merasakan keuntungan dari Homeschooling. Saya tidak perlu repot-repot memikirkan sekolah mana yang mau menerima siswa hanya untuk beberapa bulan saja selama kami di aceh. Selain itu juga saya tidak perlu pusing memikirkan dimana anak-anak kami bersekolah di Arab Saudi nanti. Ketika kami pindah saya hanya perlu memindahkan hard disk komputer yang berisi berbagai materi belajar serta buku-buku Rafif dan Aisyah.

Hanya saja kami tidak bisa membawa semua prakarya yang telah dibuat. Tapi dengan camera digital semua hasil karya Rafif dan Aisyah bisa direkam untuk dijadikan kenangan. Selain itu barang lain yang penting untuk dibawa adalah printer. Printer kami sudah dilengkapi dengan tinta infus yaitu tinta tambahan yang bisa ditambahkan dengan cara di suntik pada botol-botol yang dipasang disamping printer itu sendiri. Dengan tinta infus kami bisa mencetak buku-buku serta worksheet sampai dengan beratus-ratus lembar dangan hanya menghabiskan sedikit tinta. ini tentu saja sangat menghemat pengeluaran untuk tinta karena intensitas kami menggunakan printer sangat tinggi.


Jumat, 20 November 2009

Learning All The Time

Ketika hendak melahirkan anak saya yang ketiga saya berfikir untuk meliburkan Rafif dan Aisyah dari kegiatan belajar. Hal ini saya lakukan karena saya tidak ingin proses pemulihan saya paska operasi terganggu karena saya sibuk menyiapkan bahan-bahan pelajaran untuk mereka. Selain itu saya juga ingin menghindari stress yang akan menghambat proses menyusui bayi. Toh tidak apa-apa kalau anak-anak libur 3 bulan. Setelah itu Insya Allah Rafif akan bisa meneruskan pelajarannya yang tertinggal.


Tapi kenyataannya yang libur itu cuma saya sebagai pengajar anak-anak. Rafif dan Aisyah tetap terus belajar tanpa perlu pengarahan ataupun bahan-bahan pelajaran dari ibunya. Mereka masih terus belajar banyak hal dari buku-buku yang dibacakan oleh abinya sebelum tidur, dari berbagai pertanyaan yang mereka lontarkan setiap hari, dari kegiatan bermain mereka dan dari interaksi mereka dengan lingkungan sekitar.

Kegiatan sehari-hari sebenarnya merupakan sarana pembelajaran yang luar biasa banyak untuk anak usia dini. Contohnya kemampuan mengeja Rafif didapatkan dari kegemarannya bermain sms. Agar pesannya bisa dimengerti orang Rafif harus berusaha supaya dia bisa menuliskan dengan benar. Untuk lebih membantu kami menggunakan program chat melalui bluetooth handphone BLUEEEE agar Rafif bisa terus saling mengirimkan pesan tanpa harus mengeluarkan biaya untuk sms.

Interaksi dengan tantenya seorang arsitek yang kebetulan sedang menginap dirumah kami juga membuat Rafif belajar bagaimana proses mendesain rumah dan belajar menggunakan program Autocad. Sesuatu yang tidak mungkin dipelajari dari saya. Oleh karena itu saya merasa tidak ada kata libur sebenarnya. Selama anak memiliki kesempatan untuk melakukan banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, anak akan terus belajar walaupun tidak ada satu orang dewasapun yang menyuruh mereka untuk belajar.

Selasa, 14 Juli 2009

Peluncuran ASPIRASI (Asosiasi Praktisi Pendidikan Rumah Seluruh Indonesia) Jakarta dan Tangerang.



Sabtu, 11 Juli 2009 lalu saya berkesempatan hadir pada peluncuran ASPIRASI (Asosiasi Praktisi Pendidikan Rumah Seluruh Indonesia) untuk wilayah Jakarta dan Tangerang yang. Launching yang bertempat di Museum Nasional tersebut dihadiri 13 keluarga. Acara dimulai pukul 9.30 - 12 siang.

Sebelum acara dimulai saya sempat berkeliling bagian luar dari museum dengan Aisyah dan Rafif. Ada patung gajah yang besar di halaman depan sehingga museum ini juga sering disebut dengan museum gajah. Selain patung Gajah di halaman depan juga ada beberapa meriam tua. Disamping halaman depan juga terdapat undakan-undakan tangga yang sepertinya berfungsi sebagai ampitheater.

Sambil menunggu keluarga yang lain datang kami berkumpul di teras depan museum. Selain meja penjualan tiket juga terdapat beberapa patung besar yang berjejer. Kesempatan menunggu saya pergunakan untuk mengajarkan Rafif untuk membaca jadwal buka museum serta membandingkan harga karcis orang dewasa dan anak-anak. Harga karcisnya murah sekali Rp. 750 untuk orang dewasa dan Rp. 250 untuk anak-anak.

Acara kemudian berlansung sambil duduk lesehan di pelataran besar bagian dalam museum. Acara dibuka dengan penjelasan dari Mbak Alzena mengenai visi dan misi Aspirasi. Lalu dilanjutkan dengan sharing dari setiap ibu yang hadir. Kebetulan yang ikutan berkumpul hanya para ibu. Para bapaknya kebagian tugas momong anak :).
Selesai sharing dilanjutkan dengan acara tanya jawab. Detil mengenai topik yang dibicarakan silahkan klik di multiplynya Mbak Dinar

Ketika acara berlangsung sebenarnya saya berharap anak-anak bisa menikmati kunjungan dibagian dalam museum bersama Abinya. Ternyata mereka tidak terlalu menikmatinya . Hanya 10 menit didalam mereka sudah bosan dan akhirnya hanya duduk dengan bosan menunggu uminya selesai acara. Begitulah homeschooling terkadang apa yang sudah kita siapkan dan fikir bisa sebagai bahan pelajaran untuk anak ternyata bagi mereka sama sekali tidak menarik. Sehingga sulit untuk berharap mereka belajar banyak dari sesuatu yang tidak mereka senangi.

Untuk info lebih kanjut mengenai ASPIRASI (Asosiasi Praktisi Pendidikan Rumah Seluruh Indonesia)silahkan kunjungi:

Website : http://aspirasipendidikanrumah.wordpress.com
Facebook :
http://www.facebook.com/pages/ASPIRASI-Asosiasi-Praktisi-Pendidikan-Rumah-Seluru\
h-Indonesia/113547530849?sid=fd19d12aa682599f302f44d2944719cd&ref=search
Mailing List : http://groups.yahoo.com/group/Home-EducationIndonesia/


Selasa, 23 Juni 2009

Liburan ke Puncak

 

Mumpung lagi musim liburan ikutan juga ah posting tentang liburan :) Walaupun liburan sebenarnya sudah hampir 1 bulan yang lalu hehehhe. Karena homeschooling kita bebas mau liburan kapan aja. Everyday is holiday. Malah kalau lagi musim liburan seperti sekarang, kita lebih milih dirumah atau main kerumah teman menghindari keramaian di tempat-tempat rekreasi.

Tanggal 30 Mei kemarin kita sempat liburan bersama dengan anggota komunitas Homeschooling Berkemas. Ada 7 keluarga yang hadir. Kita menginap satu malam di Puncak di Villa Lembah Citra Ciburial. Rafif dan Asiyah senang sekali karena bisa puas main sama teman-temannya sampai malam. Mereka berenang, main di playground, hiking ke sungai bahkan naik kuda. Seru ! Terima kasih Bu Yayah buat undangannya. Kapan-kapan kita liburan bareng lagi ya :)





Posted by Picasa

Selasa, 09 Juni 2009

Kurikulum Primary 1 Cambridge untuk Rafif

Tahun ini Rafif berumur 5 tahun. Jika berdasarkan Cambridge International Primary Program maka usia 5 tahun adalah saatnya untuk mulai mempelajari materi-materi Primary 1 atau bisa dikatakan setingkat SD kelas 1. Hanya ada 3 mata pelajaran yang harus dipelajari anak untuk tingkat Primary yaitu Math, Science and English. Untuk kerangka Kurikulum dan buku serta website yang direkomendasikan bisa didownload gratis disini

Untuk Math saya menggunakan buku Primary Mathematics Textbook 1A terbitan Marshall Cavendis Education yang bisa di beli di toko buku Mentari Cipete. Dari buku ini bisa mendapatkan gambaran detil mengenai topik apa saja yang akan dipelajari anak selama 1 semester. Didalam buku ini juga disertakan beberapa contoh soal untuk dikerjakan anak. Jika ingin anak ingin mengerjakan soal-soal yang lebih banyak kita bisa melengkapinya dengan Workbook dari penerbit yang sama.

Sedangkan untuk Science saya masih belum membeli buku textnya. Jadi masih belum mendapat gambaran detil mengenai apa yang akan di pelajari anak di tingkat primary 1. Selama ini saya masih menggunakan bahan-bahan dari Science A to Z. Saya yakin semua bahan yang akan di pelajari dari buku text sebenarnya bisa kita dapatkan secara gratis dari internet. Hanya saja penggunaan buku text membuat pelajaran lebih terstruktur dan dapat mengikuti tahap demi tahap yang seharusnya.

Bahasa Inggris bagi Rafif adalah bahasa kedua ( ESL = English as Second Language ) sehingga pengajaran bahasa inggris untuk dia tidak sama dengan anak yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibunya. Untuk Rafif bahasa Inggrisnya masih pada penekanan Listening dan Speaking belum sampai tahap Reading ataupun Writing. Setiap harinya saya mengajarkan 1 kalimat baru dalam bahasa Inggris. Saya menggunakan kurikulum dari Genki English. Untuk listeningnya biasanya saya bacakan dari buku-buku dari Reading A to Z ataupun berkunjung ke berbagai perpustakaan digital online. Youtube juga menyediakan banyak sekali lagu ataupun story telling untuk anak. Tahap mengajarkan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua bisa dilihat disini.


Senin, 09 Februari 2009

Seminar Serba Serbi Homeschooling, 15 Februari 2009


Komunitas Homeschooling Berkemas kembali mengadakan Seminar Homeschooling dengan tema* "Serba-serbi Homeschooling". *

Seminar Homeschooling ini akan dilaksanakan pada:

Hari: Minggu , 15 Februari 2009
Waktu: pukul 09.00 – 12.00 WIB

Dengan Pembicara:

1. Ines Setiawan
2. Yayah Komariah

Tempat : Aula Peternakan Ragunan
Jl. H. R. Dharsono , Ragunan
Jakarta Selatan

Investasi : Rp. 50.000 termasuk makalah, snack dan door prize.

Untuk pendaftaran :
Silahkan transfer ke Rekening BCA an. Yayah Komariah no: 5540301648
Lalu kirim sms berisi nama lengkap peserta, no telpon dan tanggal serta jam transfer ke 081210331240

Informasi lebih lanjut hubungi:
Dara ( 081210331240/021-93507289), Ike (021-32447315), Sekretariat Berkemas (021-78839571)





Minggu, 18 Januari 2009

Homeschooling = Belajar Diluar Kelas

 

Homeschooling bagi saya bukan hanya berarti sekolah rumah karena pada kenyataannya kami tidak hanya belajar dirumah. Homeschooling bagi saya berarti belajar dimana saja selain di dalam kelas. Belajar dimana saja termasuk juga belajar di sekolah, tepatnya dihalaman sekolah :).

Rafif dan Aisyah biasanya belajar dimana saja, dan mereka menikmati saat-saat berada ditempat yang baru. Seperti ketika meeka harus menemani saya yang bertugas mengantar keponakan saya sekolah. Sambil menunggu Ais - sepupunya belajar dikelas Rafif dan Aisyah bermain-main dilapangan, setelah bosan mereka membaca buku tepat ditengah-tengah lapangan sambil duduk santai di ban bekas yang digunakan untuk olahraga :). Setelah semua buku habis dibaca kami berkeliling sekitar sekolah sambil mengumpulkan biji-bijian dan melihat tanaman-tanaman yang ada.

Kunci homeschooling adalah belajar menyenangkan, sesuai dengan keinginan anak dan tidak harus selalu dirumah. Belajar bebas dari batasan dinding-dinding yang ada. Happy Homeschooling





Posted by Picasa

Jumat, 16 Januari 2009

Home Economics ( Mengelola Rumah Tangga) for Homeschooler



Saya sempat punya pengalaman tinggal di negeri orang. Tidak jauh, masih negara tetangga Malaysia dan tidak lama juga cuma 1 tahun. Tetapi 1 tahun itu saya benar-benar kelimpungan mengurus rumah tangga. Tinggal di negeri orang berarti semua harus dilakukan sendiri dari mulai belanja, memasak, mencuci pakaian, menyetrika dan seabrek pekerjaan rumah tangga lain. Saya padahal tidak pernah melakukan semua pekerjaan itu sebelumnya. Hari-hari saya sebelumnya cuma diisi kekampus, belajar dan ekstrakurikuler, ketika kemudian menjadi pekerja kantoran waktu pun kemabli habis hanya untuk kekantor dan istirahat.Orang tua saya pun tidak pernah memaksa saya untuk membantu pekerjaan rumah, mungkin ibu saya dulu berfikir bahwa melibatkan anak pada pengelolaan rumah tangga tidak akan memberikan sumbangan bagi kesuksesan akademik.

Pengalaman tinggal diluar negeri tersebut membuat saya merasa harus membiasakan anak saya untuk membantu pekerjaan rumah tangga agar nantinya mereka siap ketika hidup mandiri kelak. Ternyata banyak hal yang dapat dipelajari anak ketika dia dilibatkan dalam urusan rumah tangga. Untuk anak usia dini mereka bisa melatih motorik halus ketika diajak mengelap debu, menyiram tanaman ataupun menguleni adonan tepung. Ketika memasak mereka belajar proses sains sederhana seperti dari padat menjadi cair ataupun fakta bahwa minyak tidak bisa bercampur dengan air. Matematika bisa juga dipelajari ketika mereka memilah baju yang sudah disetrika, mengukur perabotan yang akan dipindahkan, ataupun menghitung tomat yang baru dibeli.

Dengan diberikan kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang sama dengan orang dewasa akan menumbuhkan rasa percaya diri dan perasaan diterima di kalangan orang dewasa. Rasa tanggung jawab juga bisa ikut dipupuk. Dan ini semua sama pentingnya dengan kesuksesan akademik.

Dibeberapa negara maju kegiatan mengelola rumah tangga ini bahkan menjadi kurikulum tersendiri. Saya kebetulan mempunyai contoh kurikulum Home Economics dari teman sesama Homeschooler di Canada. Didalam modul tersebut anak diajarkan dari mulai membersihkan rumah, memasak, mengorganisir kegiatan sampai menjahit. Saya jadi nggak heran lagi bagaimana orang-orang di luar negeri bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga tanpa perlu bantuan PRT. Mereka sudah terbiasa mengerjakannya dari kecil.

So... Rafif...Aisyah, ayo bantu-bantu umi :)



Posted by Picasa

Rabu, 07 Januari 2009

Penerapan Kurikulum Diknas dalam Homeschooling

Banyak orang tua yang masih mengalami kesulitan dalam menjalani kurikulum dalam homeschooling. Dari mulai memilih kurikulum apa yang akan dipakai sampai bagaimana menjalankan kurikulum tersebut. Dalam homeschooling sebaiknya anak yang akan menjadi subjek bukan kurikulum. Sehingga pada akhirnya kurikulum yang menyesuaikan dengan anak.

Di Indonesia saat ini hanya baru ada Kurikulum Diknas, sedangkan dari luar negeri ada begitu banyak pilihan

Dari yang gratis sampai yang harganya ribuan dolar. Kurikulum Luar negeri saat ini yang sedang popular di Indonesia adalah kurikulum dari Universitas Cambridge. Kurikulum Cambridge bisa di download secara cuma-cuma melalui www.cie.org.uk HS hanya akan dikenakan biaya ketika akan mengikuti ujian sertifikasinya.

Begitu juga halnya dengan Kurikulum DIKNAS. Kurikulum DIKNAS bisa didownload gratis di www.puskur.net. Ketika akan mengikuti ujian persamaan baru dikenakan biaya. Sebagian besar HS di BERKEMAS menggunakan kurikulum Diknas. Kurikulum untuk satu semester atau 6 bulan bisa diselesaikan dalam waktu 3 bulan.

Langkah-langkah yang diambil dalam menerapkan kurikulum adalah sebagai berikut:

1. Cari tahu terlebih dahulu kompetensi apa yang harus dikuasai oleh setiap tingkatan kelas anak. Kompetensi ini bisa dilihat dari Standar Isi yang terdapat di puskur.net. Selain itu Sekarang juga sudah banyak beredar buku intisari pelajaran selama SD, SMP atau SMA.
2. Bandingkan semua kompetensi dari tiap pelajaran. Karena biasanya satu kompetensi dipelajari beberapa kali dalam mata pelajaran yang berbeda. Misalnya : Untuk kelas 1 SD ada topik Tentang Aku. Topik ini dibahas dimata pelajaran Bahasa Indonesia, Sains dan IPS. Didalam matematika ada kompetensi menghitung 1 – 10. Dalam HS kita tidak perlu menyediakan waktu yang berbeda –beda untuk belajar mata pelajaran yg berbeda dengan topik yang sama. Kita bisa menggabungkan semua kompetensi itu dalam satu waktu. Kita bisa membahas anggota tubuh (sains), menghitung berapa jari kaki (matematika), mengajarkan tempat tinggal (IPS) serta membuat cerita tentang aku (bahasa Indonesia) dalam satu kesempatan. Sedangkan disekolah mungkin akan membutuhkan waktu lebih.
3. Susun semua kompetensi yang akan dia capai anak dalam satu semester dalam suatu table yang ditempelkan di tempat yang mudah diraih. Misalkan di kulkas. Beri tanda setiap anak berhasil mencapai kompetensi yg diharapkan.
4. Aplikasikan kompetensi yang ingin dicapai dalam kehidupan sehari-hari. Jangan berpatokan bahwa belajar harus selalu melalui buku teks. Misalkan dengan membagi kue untuk belajar pecahan atau dongeng tentang nabi sebelum tidur untuk pelajaran agama.
5. Bangkitkan mood yang membuat anak merasa bahagia sehingga belajar juga akan menjadi menyenangkan.
6. Biarkan anak mempelajari sesuatu secara tuntas dan mendalam. Ketika anak sedang asyik dengan bahasa Inggris biarkan dia menyelesaikannya walaupun mungkin hari itu dia tidak belajar topik lain.

Selain itu ada juga beberapa faktor yang membuat anak HS lebih cepat menyelesaikan kurikulumnya dibandingkan dgn sekolah. Faktor-faktor tersebut adalah:

*
sistem belajar yang privat bukan klasikal membuat anak lebih cepat menyerap informasi karena dia bisa langsung menanyakan hal-hal yang kurang dimengertinya. Selain itu juga ketika anak sudah selesai dgn suatu topik dia dapat terus melanjutkan tanpa harus menunggu temannya selesai terlebih dahulu.
*
Gaya belajar masing-masing anak juga sudah diketahui sehingga orang tua bisa memberikan materi sesuai dengan gaya belajar mereka. Misalnya anak dengan kecenderungan kinestetik akan kesulitan untuk menghapalkan table perkalian dgn hanya melihatnya saja, mungkin akan lebih mudah bagi sianak untuk menghapalkannya sambil bermain bola.
*
Suasana Belajar di rumah yang tidak se-kaku disekolah membuat anak lebih rileks dan siap menerima pelajaran.
*
Dalam HS anak juga lebih fokus karena tidak berada dalam satu ruangan yg terdiri dari banyak anak.

Buku Pendukung Penerapan Kurikulum

*
Panduan Lengkap Homeschooling oleh Maulia D. Kembara, M.Pd.
*
Ma Belajar Yuk oleh Dra. Anggerina Nutriana S
*
Setiap Anak Cerdas oleh Thomas Amstrong

Posting terkait dengan tulisan ini:
- Mendapatkan Sertifikasi atau Ijazah Homeschooling
- Independent Learner

Jumat, 02 Januari 2009

Homeschooling ( Kurikulum ) Anak Usia Dini

 


Awal menjalani homeschooling tidak ada kepanikan yang berarti. Saya pikir gampanglah, paling tinggal diajarin nyanyi, mewarnai dan lipat-melipat kertas. Karena kegiatan itu yang ada dalam ingatan saya tantang kegiatan belajar di tingkat taman kanak-kanak. Saya lupa bahwa pengalaman duduk ditaman kanak-kanak itu sudah saya lewati lebih dari 20 tahun yang lalu.

Katika Rafif berusia 2.5 tahun saya memutuskan inilah saatnya Rafif 'belajar formal'. Kemudian saya membeli sekotak krayon ( satu-satunya alat gambar yang ada dalam fikiran saya), kertas origami, gunting, lem dan beberapa buku yang berisi lembar kerja untuk diisi. Mulailah proses memindahkan sekolah kerumah saya lakukan.

Tetapi perkembangannya tidak maksimal, bahkan Rafif cenderung menjadi terbatasi kreativitasnya. Dia merasa takut untuk menggambar karena saya selalu mewanti-wanti dia untuk tidak keluar garis ketika mewarnai. Takut salah dalam melakukan banyak hal Dia juga frustasi ketika harus menggunakan gunting karena motorik halusnya belum berkembang. Mungkin pada saat itu satu-satunya hal terbaik yang saya lakukan adalah membacakan buku untuknya.

Penjelajahan saya didunia maya pada akhirnya membuka mata saya bahwa bukan seperti itu proses homeschooling anak usia dini seharusnya. Homeschooling seharusnya memberikan anak kesempatan yang besar untuk mengembangkan diri dan menekuni minatnya. Segala lembar kerja dan buku mewarnai hanya akan menghambat kreativitas dan proses berpikir anak balita.

Dari pengalaman dan berbagai hasil pencarian, saya menyimpulkan bahwa kurikulum anak usia dini sebenarnya adalah dunianya, kehidupannya sehari-hari dan bermain. Pelajaran paling penting bagi anak usia dini adalah bagaimana dia mengenal Allah, bertingkah laku dengan baik, mencintai proses pencarian ilmu dan pengenalan alam sekitarnya.

Kegiatan - kegiatan berikut Insya Allah akan membantu anak menjalankan pendidikan dirumah dengan menyenangkan dan bermakna :

- Dibacakan buku setiap hari setidaknya 20 menit perhari.
- Mendengarkan ayat-ayat suci alquran ataupun lagu dengan syair Islam
- Berkebun.
- Berbincang dan bermain dengan orang dewasa.
- Belajar bertingkah laku baik.
- Membuat berbagai kerajinan dari kertas bewarna, kardus, flannel, biji kering dsb
- Menggambar dengan krayon, cat air, cat poster, kapur bewarna, spidol, glitter, pewarna makanan dsb.
- Bermain peran, lego, balok, mobil-mobilan, lilin, air, pasir dsb.
- Melakukan aktivitas fisik seperti lari-lari, bersepeda, berenang, main bola dsb.
- Menghitung berbagai macam benda seperti biskuit, manik-manik, biji dsb.
- Membantu pekerjaan rumah tangga sederhana seperti mengelap debu, membereskan mainan, ataupun membuat kue.
- Pergi ketempat-tempat menarik seperti mesjid, pasar, pemadam kebakaran, bandara dsb.

Berbagai situs yang memuat berbagai kegitan kreatif yang mencerdaskan anak bisa anda lihat di sini

Melihat list diatas mungkin anda akan bingung wah kapan belajarnya? Bisa-bisa anak saya akan ketinggalan dari anak-anak lain? Kapan belajar membacanya, kapan matematika, kapan menulisnya?

Saya juga khawatir pada awalnya tapi saya kemudian melihat kemampuan Rafif berkembang pesat tidak hanya akademiknya saja tapi juga rasa percaya diri dan kemandiriannya. Berbagai aktivitas tersebut adalah langkah awal yang akan memberikan Rafif kesiapan untuk belajar matematika, membaca dan menulis. Dan yang paling membahagiakan adalah ketika melihat semangat belajar dan rasa ingin tahunya yang tinggi. Ketika anak cinta belajar , dia akan belajar apapun termasuk matematika, membaca dan menulis.

Tulisan yang terkait dengan posting ini :
- Rumahku Sekolahku
- Melatih Motorik Halus dengan Memasak
Posted by Picasa

Summer Holiday

Libur telah tiba... Libur telah tiba... Hatiku gembira.... Siapa yang ga gembira kalau lagi liburan, apalagi kalau liburnya selama 11 min...