Senin, 21 Juni 2010

Bermain Balok


Mainan balok menjadi salah satu mainan paling digemari Rafif dan Aisyah. Dengan balok mereka bisa menciptakan aneka jenis mainan atau barang yang berbeda setiap harinya sehingga tidak ada istilah bosan untuk bermain balok. Awalnya ketika Rafif masih usia 3 tahun saya membeli balok yang ukurannya besar. Balok ukuran besar dipilih karena lebih mudah membuatnya dan juga untuk menghindari kemungkinan balok tertelan. Balok-balok  ukuran yang lebih besar lagi ternyata bisa dibuat sendiri dari kardus bekas tisu atau sereal yang diisi dengan gumpalan kertas. Insya Allah saya akan mencoba membuat membuat balok buatan sendiri untuk Afkar. Seiring dengan bertambah umur anak-anak maka balok yang saya beli ukurannya pun menjadi lebih kecil. 

Balok juga membantu saya mengajarkan konsep matematika untuk anak-anak. Balok membantu Rafif secara visual untuk melihat pola dari susunan balok yang beraneka warna. Balok juga bisa digunakan untuk membuat diagram berdasarkan warna tertentu. Aisyah yang kinestetik juga dapat membongkar pasang balok-balok tersebut untuk belajar berhitung atau mengelompokkan balok berdasarkan bentuk atau warna. 

Balok tidak hanya merangsang otak kiri anak tapi juga otak kanan. Ketika bermain balok seakan-akan dunia ada digenggaman mereka karena mereka bisa menciptakan apa saja. Balok juga melatih konsentrasi dan motorik halus anak. Sambil bermain balok anak juga biasanya menciptakan sebuah cerita tersendiri berdasarkan imajinasi mereka terhadap balok yg mereka buat.
Posted by Picasa

Jumat, 18 Juni 2010

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak



Saya kembali vakum menulis. Ini dikarenakan saya harus menjadi single parent selama 2 bulan. Abinya anak-anak harus kembali bekerja ke Arab Saudi. Sesuai perjanjian setelah 2 bulan bekerja bisa mendapatkan kesempatan selama 3 minggu untuk bertemu keluarga di Indonesia. Bulan Juni ini jadwal abinya anak-anak pulang sehingga saya bisa ngeblog lagi.

Ketika berpisah jauh dari suami saya merasakan beratnya mengasuh anak sendiri. Tidak ada teman berbagi cerita dan masalah mengenai pengasuhan anak, tidak ada yang bisa menggantikan menjaga anak-anak ketika saya butuh istirahat atau nge-blog.

Abinya anak-anak bukan sekedar Ayah biasa yang hanya bertugas mencari uang. Abinya anak-anak mau terlibat dalam proses pengasuhan anak. Beliau tidak segan-segan memandikan ( termasuk Afkar yang masih bayi), menyuapi, membacakan buku, mengajak jalan-jalan ataupun bermain bersama anak. Bahkan sebenarnya ide homeschooling ini datangnya dari Abinya anak-anak. Dari suami saya belajar untuk ga "jaim" sama anak, bercanda seru dan melakukan berbagai aktivitas fisik.

Abi tidak pernah mengikuti kelas parenting sekalipun tapi bagi anak-anak Abi adalah ayah terbaik buat anak-anak. Yang membuat mereka menangis selama beberapa malam setiap Abi harus kembali ke Saudi. Mudah-mudahan ijin tinggal kami sekeluarga di Arab Saudi bisa cepat diproses sehingga tidak perlu lagi pisah lama-lama dengan Abi.

Senin, 12 April 2010

Pendidikan Akhlak

Pada postingan yang lalu saya sempat curhat betapa saya kesulitan dalam membantu pembentukan akhlak anak-anak. Jauh lebih sulit jika dibandingkan membantu anak-anak dengan segala urusan akademik. Saya mencoba mengevaluasi perjalanan homeschooling anak-anak dan berakhir pada satu kesimpulan bahwa untuk urusan pembentukan karakter anak-anak ketinggalan jika dibandingkan urusan akademiknya. Padahal salah satu alasan kenapa saya memilih untuk homeschooling, saya tidak ingin anak-anak terlalu mengedepankan akademik. Saya tidak ingin anak saya hanya sekedar pintar tanpa membawa nilai-nilai yang baik pada dirinya.

Saya ingin kembali ke tujuan awal semula yaitu saya ingin anak-anak mempunyai akhlak yang baik, dan itu tidak bisa didapatkan secara otomotis. Orang tua yang harus mendidik dan membantu anak-anak. Saat ini saya mencoba mengumpulkan berbagai materi bagi orang tua untuk pembentukan karakter anak.


Untuk saat ini materi yang saya dapatkan adalah sebagai berikut:

Website:
- Talibiddeen Junior
- Good Character
- Centre on Social and Emotional Foundation for Early Learning

Buku :
- Buku cerita anak-anak mengenai Akhlak
- Cara Nabi Mendidik Anak by Ir. Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid
- How to Talk so Kids Will Listen (edisi terjemahan) by Adele Faber dan Elaine Mazlish
- Character Education penerbit Carson Dellosa
- Character Counts penerbit Carson Dellosa
- Manners penerbit Carson Dellosa

Dengan resouces diatas saya merasa kembali bersemangat menmpuh perjalanan tamasya kami. Semoga dalam perjalanan kami ini tidak ada lagi yang tertinggal yang membuat saya harus kembali lagi untuk mengambilnya :)






Rabu, 24 Maret 2010

Tips Mengajarkan Konsep Matematika Bagi Anak Usia Dini

Belajar matematika tidak hanya bisa dilakukan melalui mengerjakan latihan soal di lembar kerja. Untuk bisa mengerjakan worksheet sebaiknya anak harus terlebih dahulu diajarkan konsep dan menerapkan konsep tersebut dalam aktivitas sehari-hari. Misalkan belajar ikatan bilangan dengan menggunakan balok atau bermain congklak untuk melatih anak memperkirakan atau mengestimasi jumlah sekelompok benda.

Untuk mendapatkan ide-ide mengenai mengajarkan konsep matematika untuk anak usia dini silahkan klik disini . Di website yang dimiliki oleh public schools of North Carolina ini kita bisa mendapatkan berbagai kegiatan menarik untuk anak belajar matematika dari mulai TK sampai dengan grade 12. Jenis kegiatannya bisa dilihat berdasarkan topik atau minggu. Bahan pendukung untuk setap permainan juga disediakan untuk diprint. Silahkan dicoba pasti matematika menjadi salah satu pelajaran yang disukai anak-anak.

Kendala Dalam Homeschooling

4 tahun sudah saya menerapkan homeschooling untuk anak pertama saya Rafif. Ternyata kendala yang paling sulit yang saya temui dalam menjalankan homeschooling bukan masalah sosialisasi, kurikulum atau materi belajar, ijazah dan waktu yang dibutuhkan untuk mengajar melainkan bagaimana mengajarkan Akhlak atau Karakter bagi Rafif, Aisyah dan Afkar.

Sosialisasi bukan merupakan isu besar ketika menjalani homeschooling selama sosialisasi yang dimaksud bukan hanya terbatas berteman dengan teman yang seumuran saja. Saya memberikan banyak kesempatan bagi rafif dan Aisyah untuk bertemu dan beriteraksi dengan banyak orang dari mulai yang lebih kecil, sebaya ataupun yang lebih tua dengan cara ikut komunitas homeschooling, membuka pintu rumah lebar-lebar bagi semua anak di dekat rumah kami, membawa Rafif dan Aisyah dalam semua kegiatan saya. Kedepannya saya berniat memasukkan Rafif dan Aisyah dalam salah klub olahraga atau hobi sehingga mereka bisa mendapatkan teman-teman baru nanti.

Kurikukulum, hmmm mungkin ini yang paling rumit kelihatannya. Apalagi jika kita tidak berlatar belakang pendidikan. Ada banyak sekali kurikulum yang tersedia bagi para homeschooler. Dari yang gratisan sampai harga ribuan dolar di internet. Setelah intip sana intip sini melihat berbagai kurikulum yang bisa saya lihat, saya punya kesimpulan bahwa semua kurikulum itu mempunyai tujuan yang sama. Misalkan anak SD kelas 1 diharapkan sudah bisa menghitung dan menjumlahkan sampai dengan 20. Hanya cara mengajarkannya saja yang berbeda-beda. Atau misalkan saja sains untuk SD kelas 1 berkutat pada pembahasan mengai tumbuhan, panca indra ataupun binatang. Jadi yang perlu kita pegang adalah kompentensi apa yang harus dikuasai oleh anak pada setiap tingkatannya. Kurikulum yang digunakan bisa apa saja. Untuk anak usia dini yang paling penting adalah Membaca, Menghitung dan Menulis. Tanpa membeli kurikulum apapun saya yakin semua ibu-ibu bisa mengajarkan 3 kompetensi dasar tersebut.

Mengenai materi belajar saya mendapatkan banyak sekali dari internet, dari teman-teman sesama HS, dari toko buku ataupun dari berbagai pelatihan. Ada masa-masa dimana ketika saya masih meraba-raba dan belum tahu mau pakai kurikulum apa sehingga mendownload atau mengcopy semua materi belajar yang bisa saya dapatkan
sampai akhirnya menumpuk dan membuat saya semakin binggung :))

Untuk mendapatkan ijazah dalam negeri kita bisa mendaftarkan anak kita kesalah satu komunitas homeschooling seperti Berkemas atau lembaga PKBM teerdekat. Untuk ijasah luar negeri bisa mendapatkannya melalui distance learning atau lembaga tertentu seperti Cambridge.

Waktu yang diperlukan anak untuk menguasai pelajaran pun lebih pendek jika dibandingkan sekolah, karena dirumah anak suasananya lebih santai dan mendapat perhatian penuh. Jadi tidak perlu dibayangkan jika homeschooling maka waktunya hanya habis untuk mengajar anak seharian. Dalam sehari paling lama saya menemani setiap anak hanya 1 jam. Biasanya yang memakan waktu lama adalah menyiapkan bahan-bahan jika menggunakan kurikulum sendiri.


Nah jadi yang paling sulit bagi saya dalam mendidik anak dirumah adalah menjadikan anak-anak bertingkah laku yang baik, bertanggung jawab, rajin, menghargai orang dan sebagainya. Jujur saja lebih mudah rasanya mengajarkan anak membaca ataupun berhitung dibandingkan dengan hal-hal tersebut diatas. Ketika anak sudah bisa membaca maka dia akan selalu ingat bagaimana caranya membaca. Tapi Rafif dan Aisyah cenderung cepat sekali lupa jika di mesjid tidak boleh lari-lari atau berteriak, tidak boleh memukul ketika marah, saling berbagi, bertanggung jawab terhadap barang-barang dan sebagainya.

Saya masih harus bekerja keras dalam membina karakter anak-anak. Sebelumnnya saya juga harus mendidik diri sendiri dulu agar bisa menjadi contoh yang baik. Selain itu juga banyak berdoa pada Allah agar dimudahkan dan diberi banyak kesabaran. Insya Allah dipostingan-postingan yang lain saya akan bercerita pengalaman saya.Saya juga akan senang sekali jika ada pembaca yang berkenan berbagi pengalaman dalam membina akhlak anak dikolom komentar blog ini.

Senin, 22 Maret 2010

Mister Maker

Sekarang kami tidak pernah lagi kekurangan ide untuk kegiatan seni kami. Setiap hari kami mendapatkan ide-ide untuk prakarya kami dari acara Mister Maker yang ditayangkan Cbeebies di Indovision setiap harinya pukul 10.30. Sejak Indovision terpasang di rumah Busyik ( Kakek ) kami bisa menikmati berbagai acara anak-anak dari luar negeri. Karena pilihan yang sangat beragam dan 24 jam penuh maka saya memilihkan acara mana saja yang bisa mereka tonton. Salah satu acara pilihan saya yang sangat disukai Rafif dan Aisyah adalah Mister Marker.

Acara mister Maker menampilkan beberapa cara membuat prakarya yang mudah dan menarik untuk anak usia dini. Setiap episodenya menampilkan beberapa prakarya dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Dari mulai yang sangat mudah sehingga bisa dibuat hnya dalam waktu 1 menit (Minute Make) sampai dengan karya yang membutuhkan bantuan orang dewasa. Bahan-bahannya juga mudah didapat. Yang paling sering digunakan adalah cat, lem, gunting, aneka kertas dan kardus.

Biasanya siang hari sewaktu Afkar tidur siang kami membuat satu prakarya dari acara mister maker yag kami tonton hari itu. Foto-foto hasil karya anak-anak akan menyusul di upload. Untuk para keluarga yang tidak ada siaran Indovison gak usah langsung buru-buru pasang Indovision :) Karena Mister Maker bisa juga ditemui di www.mistermaker.com atau bisa juga di search melalui Youtube. Di websitenya juga Mister Maker menyediakan halaman untuk menampilkan foto-foto hasil karya anak-anak. So lets start making....




Jumat, 12 Maret 2010

I'm Still Here

Banyak yang mengira saat ini saya sudah berada di berada di arab saudi dan sedang sibuk dengan segala urusan yang berkaitan dengan pindah rumah sehingga tidak sempat lagi posting artikel yang baru.

Saya masih disini kok, masih di Indonesia tepatnya di Banda Aceh. Keberangkatan saya dan anak-anak ke KSA masih menunggu beberapa prosedur lagi beres. Saya kembali vakum ngeblog karena selama ini saya numpang internet dari laptop suami karena komputer saya ditinggal di Jakarta. Awal Januari kemarin suami sudah memulai pekerjaannya di KSA sehingga saya kehilangan akses internet.

Alhamdulillah setelah 2 bulan di Saudi suami diperbolehkan pulang untuk menjenguk keluarga di Indonesia. Dengan kepulangan suami ke Indonesia akses internet sayapun kembali :) Sekarang tinggal membagi waktu antara ngurus rumah, anak dan ngeblog.






Summer Holiday

Libur telah tiba... Libur telah tiba... Hatiku gembira.... Siapa yang ga gembira kalau lagi liburan, apalagi kalau liburnya selama 11 min...