Seorang teman pernah bertanya kepada saya. Apakah saya pernah bosan menjadi Full Time Mother. Jawaban adalah saya pernah bosan, bahkan bosan sekali. Rasanya hidup tidak sedinamis waktu saya kuliah atau kerja dulu. Rasanya saya seperti robot melakukan pekerjaan yang sama setiap hari. Memasak, menjaga anak, membersihkan rumah. Tapi semuanya berubah ketika suami saya melontarkan ide menyekolahkan Rafif dirumah. Awalnya saya sempat menolak. Menyekolahkan anak dirumah?? itu artinya saya tidak akan punya kegiatan diluar rumah. Padahal saya sudah tidak sabar menunggu Rafif masuk sekolah supaya saya punya kegiatan rutin diluar rumah dan punya teman-teman baru ketika mengantarkan Rafif sekolah nantinya.
Suami saya membujuk saya dengan mengatakan cuma sampai TK kok. Alasannya kasihan kalau terlalu kecil sudah harus sekolah dan berbagai macam alasan lain. Jurus terakhir yang dilancarkan suami saya adalah kata-kata berikut " Uminya kan lulusan reputable university pasti ngajarnya bisa lebih bagus :)". Untuk pertama kalinya sejak menikah saya merasa bahagia dengan status sarjana saya karena selama ini terkadang timbul pikiran untuk apa saya kuliah jika hanya menjadi ibu rumah tangga.
Awal Januari 2006. Tahun baru semangat baru. Saya memulai program sekolah rumah untuk Rafif ketika umurnya hampir 2 tahun. Saya mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan anak dan homeschooling. Mulai dari baca buku, baca artikel-artikel di internet sampai dengan mengikuti berbagai seminar atau pelatihan pendidikan anak diberbagai kesempatan. Hidup saya kembali berwarna. Saya seperti anak ABG yang baru lulus SMA dan menikmati masa awal kuliah.
Lewat internet pula saya menemukan alamat rumah Bu Yayah Komariah pendiri Berkemas. Saya datang kerumahnya dan berniat mendaftarkan Rafif masuk Berkemas. Awalnya Bu Yayah menolak karena belum ada anak usia playgroup yang mendaftar. Hanya saja saya berkeras dan menyakinkan Bu Yayah bahwa saya tidak akan merepotkan Bu Yayah dengan urusan pengajaran Rafif. Saya akan mengajar sendiri. Sekarang saya dan bu Yayah bersahabat lewat bu Yayah saya semakin banyak mendapatkan ilmu mengenai mendidik anak. Saya diajak beliau ke setiap acara parenting, dikenalkan dengan para pendidik seperti Neno Warisman dan Erry Soekresno.
Sekarang kebosanan menjadi ibu rumah tangga sudah menguap. Saya menganggap ini sebuah karir juga dan saya berusaha profesional didalam mengelola rumah dan anak-anak saya. Saya masih terus belajar supaya jenjang karir saya semakin tinggi walupun tidak ada saingan sama sekali. Dulu saya bosan karena tidak menghargai profesi saya. Dan hanya bekerja seadanya saja.
Walaupun saya tidak menghasilkan tambahan uang untuk rumah tangga seperti ibu-ibu pekerja lainnya tapi saya yakin saya menghemat pengeluaran dalam jumlah yang cukup besar.
Dengan menjadi full time mother dan homeschooling ini yang bisa kami hemat :
- Biaya Transport dan makan siang saya ke kantor
- Biaya Sekolah, Transport, Seragam dan makan siang semua anak
- Biaya les matematika, membaca, cooking class dan bahasa inggris untuk semua anak
Saya tidak tahu berapa nilai dari semua biaya tersebut. Yang pasti kedekatan saya dengan anak-anak tak ternilai: Priceless.
Jumat, 25 Desember 2009
Matikan Suara TV Ketika Iklan
Matikan suara TV ketika iklan. Itu yang kami lakukan ketika menonton TV. Ide ini saya dapatkan dari buku Mendampingi Anak Menonton TV oleh Milton Chan. Dalam bukunya Milton Chan menulis bahawa biasanya orang sangat kesal jika terus menerus didatangi salesman, tapi anehnya orang membiarkan salesman yang berupa iklan di TV untuk masuk kerumahnya setiap saat.
Merasakan kebenaran ucapan Milton Chan membuat saya menekan tombol mute ketika iklan di TV tiba. Apalagi ketika film anak-anak diputar biasanya iklan-iklan penuh berisi makanan dan mainan anak. Ini tentu secara tidak langsung membuat anak menjadi konsumtif apalagi kalau yang di iklankan makanan yang tidak sehat tentu akan mempunyai dampak yang lebih buruk lagi. Sebagian besar iklan-iklan tersebut dikemas dengan menarik sehingga anak pasti akan tergiur. Dengan mematikan suaranya makan iklan akan kehilangan sebagian kekuatannya dalam menyihir anak untuk membeli produknya.
Satu lagi dampak positif dengan dimatikan suara TV adalah anak jadi melakukan kegiatan lain. Jika tidak dimatikan mata Rafif dan Aisyah akan terus terpaku didepan layar. Ketika suaranya tidak ada, mereka mengobrol atau melakukan hal lain selain menatap layar kaca. Akhirnya jam menonton TV juga berkurang karena mereka tidak menonton iklan.
Awalnya saya yang harus selalu mematikan suaranya. Sekarang Rafif atau Aisyah sudah tahu ketika iklan mereka tinggal menekan tombol mute. Sedangkan Rafif sudah tahu bahwa tidak semua iklan itu benar adanya. Sejak melihat iklan Kidzania yang menggambarkan seorang anak naik mobil pemadam kebakaran betulan, padahal ketika di Kidzania dia melihat yang ada hanya mobil pemadam kebakaran kecil. Jadi sekarang ketika melihat tag line sebuah iklan "enaknya tak ada habisnya" dia langsung komentar "kemarin Rafif makan bisa abis kok" :)
Merasakan kebenaran ucapan Milton Chan membuat saya menekan tombol mute ketika iklan di TV tiba. Apalagi ketika film anak-anak diputar biasanya iklan-iklan penuh berisi makanan dan mainan anak. Ini tentu secara tidak langsung membuat anak menjadi konsumtif apalagi kalau yang di iklankan makanan yang tidak sehat tentu akan mempunyai dampak yang lebih buruk lagi. Sebagian besar iklan-iklan tersebut dikemas dengan menarik sehingga anak pasti akan tergiur. Dengan mematikan suaranya makan iklan akan kehilangan sebagian kekuatannya dalam menyihir anak untuk membeli produknya.
Satu lagi dampak positif dengan dimatikan suara TV adalah anak jadi melakukan kegiatan lain. Jika tidak dimatikan mata Rafif dan Aisyah akan terus terpaku didepan layar. Ketika suaranya tidak ada, mereka mengobrol atau melakukan hal lain selain menatap layar kaca. Akhirnya jam menonton TV juga berkurang karena mereka tidak menonton iklan.
Awalnya saya yang harus selalu mematikan suaranya. Sekarang Rafif atau Aisyah sudah tahu ketika iklan mereka tinggal menekan tombol mute. Sedangkan Rafif sudah tahu bahwa tidak semua iklan itu benar adanya. Sejak melihat iklan Kidzania yang menggambarkan seorang anak naik mobil pemadam kebakaran betulan, padahal ketika di Kidzania dia melihat yang ada hanya mobil pemadam kebakaran kecil. Jadi sekarang ketika melihat tag line sebuah iklan "enaknya tak ada habisnya" dia langsung komentar "kemarin Rafif makan bisa abis kok" :)
Kamis, 24 Desember 2009
Pelajaran Agama Islam
Adakah mata pelajaran agama dalam homeschooling kami? Jawabannya adalah tidak. Bagi saya agama bukan suatu mata pelajaran yang diajarkan hanya pada waktu tertentu. Bagi saya Islam adalah panduan hidup yang mengatur manusia setiap detiknya bukan hanya 2 jam dalam seminggu seperti waktu saya sekolah dulu. Saya ingin islam menyatu dalam hidup kami sekeluarga.
Saya mencoba selalu menghubungkan berbagai aspek kehidupan dengan Allah SWT. Ketika mereka mendapat makanan atau hadiah saya bilang Alhamdulillah Allah kasih kalian hadiah. Atau jika mereka menginkan sesuatu saya menganjurkan agar mereka memintanya kepada Allah yang Maha Pemberi. Ada poster yang bagus sekali yang dibuat oleh seorang homeschooling mom yang mengingatkan anak mengenai waktu-waktu yang terbaik agar doa dikabulkan. Posternya bisa dilihat disini.
Doa-doa sederhana dihafalkan bersamaan dengan kegiatan yang dilakukan. Misalkan ketika makan baca doa makan, mau masuk kamar mandi baca doa masuk kamar mandi. Dirumah kami yang di Jakarta dibeberapa tempat saya tempel poster berisi doa-doa pendek untuk anak. Misalkan di depan pintu kamar mandi. Karena sering mendengar doanya akhirnya Rafif dan Aisyah bisa menghafal sendiri doa tersebut.
Untuk Shalat juga saya mengajarkannya ketika saya sendiri shalat saya mengajak anak-anak untuk ikut Shalat. Sekarang Rafif dan Aisyah sudah hafal semua gerakan Sholat. Hanya bacaannya mereka belum hafal.
Sejarah Islam juga bisa dipelajari melalui buku cerita yang banyak sekali beredar di toko buku. Saat ini kami sedang membaca buku 99 Kisah Menakjubkan dari Alquran. Setiap malam sebelum tidur saya membacakan 1 atau 2 kisah dari buku tersebut. Mudah-mudahan ketika kami tinggal di Arab nanti kami bisa berziarah ketempat-tempat bersejarah bagi umat Islam yang selama ini hanya bisa ditemui melalui ceritanya saja.
Harapan saya sederhana agar anak-anak bisa merasakan Indahnya Islam dimana Rukun Islam, Rukun Iman dan pelajaran Islam lain yang pernah saya pelajari disekolah tidak hanya menjadi teori yang hanya perlu diingat ketika ujian tiba. Saya ingin anak-anak merasa Allah selalu bersama mereka. Amin.
Saya mencoba selalu menghubungkan berbagai aspek kehidupan dengan Allah SWT. Ketika mereka mendapat makanan atau hadiah saya bilang Alhamdulillah Allah kasih kalian hadiah. Atau jika mereka menginkan sesuatu saya menganjurkan agar mereka memintanya kepada Allah yang Maha Pemberi. Ada poster yang bagus sekali yang dibuat oleh seorang homeschooling mom yang mengingatkan anak mengenai waktu-waktu yang terbaik agar doa dikabulkan. Posternya bisa dilihat disini.
Doa-doa sederhana dihafalkan bersamaan dengan kegiatan yang dilakukan. Misalkan ketika makan baca doa makan, mau masuk kamar mandi baca doa masuk kamar mandi. Dirumah kami yang di Jakarta dibeberapa tempat saya tempel poster berisi doa-doa pendek untuk anak. Misalkan di depan pintu kamar mandi. Karena sering mendengar doanya akhirnya Rafif dan Aisyah bisa menghafal sendiri doa tersebut.
Untuk Shalat juga saya mengajarkannya ketika saya sendiri shalat saya mengajak anak-anak untuk ikut Shalat. Sekarang Rafif dan Aisyah sudah hafal semua gerakan Sholat. Hanya bacaannya mereka belum hafal.
Sejarah Islam juga bisa dipelajari melalui buku cerita yang banyak sekali beredar di toko buku. Saat ini kami sedang membaca buku 99 Kisah Menakjubkan dari Alquran. Setiap malam sebelum tidur saya membacakan 1 atau 2 kisah dari buku tersebut. Mudah-mudahan ketika kami tinggal di Arab nanti kami bisa berziarah ketempat-tempat bersejarah bagi umat Islam yang selama ini hanya bisa ditemui melalui ceritanya saja.
Harapan saya sederhana agar anak-anak bisa merasakan Indahnya Islam dimana Rukun Islam, Rukun Iman dan pelajaran Islam lain yang pernah saya pelajari disekolah tidak hanya menjadi teori yang hanya perlu diingat ketika ujian tiba. Saya ingin anak-anak merasa Allah selalu bersama mereka. Amin.
Senin, 21 Desember 2009
Everyday is Math Day
Terinspirasi oleh Robinson Curriculum, saat ini saya menerapkan pelajaran matematika untuk Rafif setiap hari. Jika dulu pelajaran yang diberikan berbeda setiap harinya misalkan Senin untuk Science lalu Selasa untuk Reading dan seterusnya. Bedanya dengan Robinson Curriculum (RC) adalah jika RC menggunakan buku panduan Saxon Math karena belum punya saya menggunakan buku text yang sudah ada saja dari Singapore Math.
Inti dari Robinson Curriculum adalah pelajaran yg utama hanya matematika, menulis dan membaca. Untuk mata pelajaran lain seperti sejarah , sains dan sebagainya dipelajari diluar jam belajar utama apabila anak tertarik akan topik tersebut. Anak akan mempelajari sains, kimia dan biologi secara detil ketika dia sudah menyelesaikan semua soal di Saxon math yaitu sampai dengan pembahasan Calculus. Alasannya keahlian matematika akan sangat membantu ketika anak harus belajar sendiri fisika, kimia dan biologi.
Selain itu dalam RC tidak ada guru khusus. Anak belajar secara mandiri. Setiap hari selama 6 hari dalam seminggu anak akan mengerjakan 30 soal dari Saxon Math, menulis satu essay tentang topik apa saja dan sisa waktunya digunakan untuk membaca buku apa saja. Jika ada yang salah baru mereka mengulang kembali soal tersebut dan menjelaskan kepang tua bagaimana cara mereka mengerjakannya.
Hal ini yang saya coba terapkan untuk Rafif. Setiap hari dia saya minta mengerjakan 1 lembar work sheet dari Singapore Math . Waktunya kapan saja bisa pagi, siang atau malam.Saya hanya menunjukkan halaman yang harus dia kerjakan lalu saya tinggal dan saya biarkan mengerjakannya sendiri. Awalnya dia gak mau dan mengelak untuk mengerjakannya. Tapi setelah beberapa hari mengerjakannya dia menjadi terbiasa. Setiap hari dia menggambil sendiri worksheetnya dan mengerjakannya tanpa bantuan saya termasuk hari libur. Setelah selesai dia akan memperlihatkan hasil kerjanya lalu saya akan memeriksa dan memberitahukan letak kesalahannya.
Saya sangat gembira mengetahui fakta bahwa sebenarnya anak bisa mengajari diri mereka sendiri matematika karena saya dulu lemah dalam matematika. Bagaimana mungkin saya bisa mengajari anak saya matematika ketika dia sudah duduk di tingkat lanjutan. Dengan mencoba mengerjakan sendiri tanpa diberitahu caranya terlebih dahulu membuat anak bisa berfikir. Rafif juga lebih santai mengerjakannya sendiri karena jika ada saya yg mendampingi biasanya mulut saya langsung "gatal" untuk mengomentari setiap kesalahan yang dia buat. Sering kali dia akhirnya menolak untuk melanjutkan. Sekarang dia berhenti melanjutkan ketika memang soalnya sudah habis. Urusan salah belakangan baru di perbaiki.
Inilah asyiknya HS dengan metode Eclectic bisa comot sana comot sini. Lalu diramu sesuai dengan keadaan.
Inti dari Robinson Curriculum adalah pelajaran yg utama hanya matematika, menulis dan membaca. Untuk mata pelajaran lain seperti sejarah , sains dan sebagainya dipelajari diluar jam belajar utama apabila anak tertarik akan topik tersebut. Anak akan mempelajari sains, kimia dan biologi secara detil ketika dia sudah menyelesaikan semua soal di Saxon math yaitu sampai dengan pembahasan Calculus. Alasannya keahlian matematika akan sangat membantu ketika anak harus belajar sendiri fisika, kimia dan biologi.
Selain itu dalam RC tidak ada guru khusus. Anak belajar secara mandiri. Setiap hari selama 6 hari dalam seminggu anak akan mengerjakan 30 soal dari Saxon Math, menulis satu essay tentang topik apa saja dan sisa waktunya digunakan untuk membaca buku apa saja. Jika ada yang salah baru mereka mengulang kembali soal tersebut dan menjelaskan kepang tua bagaimana cara mereka mengerjakannya.
Hal ini yang saya coba terapkan untuk Rafif. Setiap hari dia saya minta mengerjakan 1 lembar work sheet dari Singapore Math . Waktunya kapan saja bisa pagi, siang atau malam.Saya hanya menunjukkan halaman yang harus dia kerjakan lalu saya tinggal dan saya biarkan mengerjakannya sendiri. Awalnya dia gak mau dan mengelak untuk mengerjakannya. Tapi setelah beberapa hari mengerjakannya dia menjadi terbiasa. Setiap hari dia menggambil sendiri worksheetnya dan mengerjakannya tanpa bantuan saya termasuk hari libur. Setelah selesai dia akan memperlihatkan hasil kerjanya lalu saya akan memeriksa dan memberitahukan letak kesalahannya.
Saya sangat gembira mengetahui fakta bahwa sebenarnya anak bisa mengajari diri mereka sendiri matematika karena saya dulu lemah dalam matematika. Bagaimana mungkin saya bisa mengajari anak saya matematika ketika dia sudah duduk di tingkat lanjutan. Dengan mencoba mengerjakan sendiri tanpa diberitahu caranya terlebih dahulu membuat anak bisa berfikir. Rafif juga lebih santai mengerjakannya sendiri karena jika ada saya yg mendampingi biasanya mulut saya langsung "gatal" untuk mengomentari setiap kesalahan yang dia buat. Sering kali dia akhirnya menolak untuk melanjutkan. Sekarang dia berhenti melanjutkan ketika memang soalnya sudah habis. Urusan salah belakangan baru di perbaiki.
Inilah asyiknya HS dengan metode Eclectic bisa comot sana comot sini. Lalu diramu sesuai dengan keadaan.
Kamis, 17 Desember 2009
Minggu Seru
Nature Walk kami hari minggu yang lalu berakhir di sebuah TK di depan TVRI Banda Aceh. Karena hari Minggu tidak ada anak-anak yang bersekolah, jadi Rafif dan Aisyah bisa bermain sepuasnya. Beberapa waktu lalu di Jakarta kami punya jadwal rutin bermain di TK Tetum satu minggu sekali. Karena program Flat Stanley yang di selenggarakan Mbak Endah di TK Tetum sudah habis kami tidak pernah lagi punya jadwal main ke TK. Kesempatan bermain di TK menjadi selalu menyenangkan apalagi kalo mainannya banyak. Sama asyiknnya dengan pergi ke TimeZone. Pulangnya Aisyah sudah terlalu lelah dan minta digendong. Sambil menggendong Aisyah, Abinya mengambil rute yang berbeda ketika pulang. Jadilah semacam perlombaan siapa yang lebih dulu sampai. Wah pokoknya Minggu seru yang murah meriah.
Rabu, 16 Desember 2009
Aisyah Belajar Membaca
Aisyah mempunyai kecenderungan yang berbeda dalam hal menerima informasi baru dibandingkan dengan Rafif. Jika Rafif lebih cepat menerima informasi apabila informasi itu berbentuk gambar maka Aisyah akan lebih mudah menerimanya jika melalui gerakan tubuh dan demonstrasi. Dengan kata lain Rafif memiliki tipe belajar Visual sedangkan Aisyah, Kinestetik.
Rafif belajar membaca hanya dengan menonton VCD belajar membaca metode cantol Raudhoh. Saya memutarkan VCD itu untuk Rafif setiap hari dan dalam jangka waktu 1,5 bulan Rafif sudah dapat membaca buku cerita anak yang memuat beberapa kalimat sederhana. Aisyah perlu cara yang lebih kreatif untuk belajar membaca daripada hanya sekedar menonton. Karena Aisyah memiliki kecenderungan kinestetik maka belajarnya pun harus sambil melakukan aktivitas.
Berikut ini beberapa hal yang saya coba untuk mengajari Aisyah abjad :
1. Belajar dengan komputer
Saya menggunakan program word lalu menset hurufnya menjadi ukuran yang paling besar. Lalu saya biarkan Aisyah mengetik huruf yang diinginkannya. Sambil Aisyah mengetik saya atau Rafif akan memberitahukan nama huruf yang diketikkan tersebut.
2. Belajar dengan playdough
Sambil bermain playdough bersama-sama saya akn membentuk huruf dari lilin mainan tersebut dan mengajari Aisyah membaca dengan huruf-huruf tersebut
3. Belajar sambil jalan-jalan
Sambil jalan-jalan pagi biasa saya akan menunjukkan pada Aisyah nama jalan, nama toko ataupun teks lain yang kami jumpai di sepanjang jalan. Atau bersama-sama mencari huruf tertentu.
4. Belajar dengan huruf magnet
Terkadang saya dan Aisyah berpura-pura menjadikan huruf magnet mainan yang kami punya menjadi boneka yang bisa berbicara.
Saya : ( sambil memegang huruf A) " Assalamualaikum nama saya A , nama kamu siapa?" (kemudian saya memberikan huruf B kepada Aisyah)
Aisyah : "nama saya...( agak kebingungan, lalu saya bisikkan cepat-cepat B)....B"
Saya : " Oh B, kita main kerumah C yuk! Nanti disana bisa ketemu dengan D dan E"
Percakapan terus berlanjut sampai Aisyah bosan bermain. Jika saya tidak ikut bermain Aisyah main berdua dengan Rafif.
Ada lagi ide kegiatan belajar abjad yang saya baca di Universal Preschool. Nama kegiatannya Active Alphabet. Dalam Active Alphabet anak diminta melakukan gerakan sesuai dengan abjad yang ditunjukkan misalkan Angguk kepala untuk huruf A atau Loncat setiap mendapatkan huruf L. Detil lengkap cara bermainnya bisa dilihat disini.
Hal yang patut diingat ketika ingin mengajarkan anak membaca adalah membuat anak cinta akan buku dan tulisan. Caranya adalah dengan membacakan buku kepada anak setiap hari. 20 Menit setidaknya setiap hari. Akan mudah bagi anak belajar membaca apabila dia sudah sering dibacakan buku sebelumnya. Karena dia mengerti apa yang dia baca. Bukan hanya sekedar membunyikan huruf-huruf tanpa mengerti makna apa yang terkandung dalam rangkaian huruf-huruf tersebut. Belajar membacapun jadi lebih mudah.
Rafif belajar membaca hanya dengan menonton VCD belajar membaca metode cantol Raudhoh. Saya memutarkan VCD itu untuk Rafif setiap hari dan dalam jangka waktu 1,5 bulan Rafif sudah dapat membaca buku cerita anak yang memuat beberapa kalimat sederhana. Aisyah perlu cara yang lebih kreatif untuk belajar membaca daripada hanya sekedar menonton. Karena Aisyah memiliki kecenderungan kinestetik maka belajarnya pun harus sambil melakukan aktivitas.
Berikut ini beberapa hal yang saya coba untuk mengajari Aisyah abjad :
1. Belajar dengan komputer
Saya menggunakan program word lalu menset hurufnya menjadi ukuran yang paling besar. Lalu saya biarkan Aisyah mengetik huruf yang diinginkannya. Sambil Aisyah mengetik saya atau Rafif akan memberitahukan nama huruf yang diketikkan tersebut.
2. Belajar dengan playdough
Sambil bermain playdough bersama-sama saya akn membentuk huruf dari lilin mainan tersebut dan mengajari Aisyah membaca dengan huruf-huruf tersebut
3. Belajar sambil jalan-jalan
Sambil jalan-jalan pagi biasa saya akan menunjukkan pada Aisyah nama jalan, nama toko ataupun teks lain yang kami jumpai di sepanjang jalan. Atau bersama-sama mencari huruf tertentu.
4. Belajar dengan huruf magnet
Terkadang saya dan Aisyah berpura-pura menjadikan huruf magnet mainan yang kami punya menjadi boneka yang bisa berbicara.
Saya : ( sambil memegang huruf A) " Assalamualaikum nama saya A , nama kamu siapa?" (kemudian saya memberikan huruf B kepada Aisyah)
Aisyah : "nama saya...( agak kebingungan, lalu saya bisikkan cepat-cepat B)....B"
Saya : " Oh B, kita main kerumah C yuk! Nanti disana bisa ketemu dengan D dan E"
Percakapan terus berlanjut sampai Aisyah bosan bermain. Jika saya tidak ikut bermain Aisyah main berdua dengan Rafif.
Ada lagi ide kegiatan belajar abjad yang saya baca di Universal Preschool. Nama kegiatannya Active Alphabet. Dalam Active Alphabet anak diminta melakukan gerakan sesuai dengan abjad yang ditunjukkan misalkan Angguk kepala untuk huruf A atau Loncat setiap mendapatkan huruf L. Detil lengkap cara bermainnya bisa dilihat disini.
Hal yang patut diingat ketika ingin mengajarkan anak membaca adalah membuat anak cinta akan buku dan tulisan. Caranya adalah dengan membacakan buku kepada anak setiap hari. 20 Menit setidaknya setiap hari. Akan mudah bagi anak belajar membaca apabila dia sudah sering dibacakan buku sebelumnya. Karena dia mengerti apa yang dia baca. Bukan hanya sekedar membunyikan huruf-huruf tanpa mengerti makna apa yang terkandung dalam rangkaian huruf-huruf tersebut. Belajar membacapun jadi lebih mudah.
Senin, 14 Desember 2009
Abangku Guruku
Dalam Homeschooling yang menjadi pengajar bisa siapa saja, tidak perlu guru dengan sertifikasi khusus. Anak berumur 5 tahun juga bisa menjadi guru. Foto diatas adalah foto Rafif yang sedang mengajarkan Aisyah menggunakan laptop sekaligus belajar bahasa Inggris. Guru mengajarnya bisa santai sambil angkat kaki segala :) . Selain mengajarkan cara menggunakan Laptop , Rafif juga mengajarkan banyak hal kepada Aisyah dari mulai abjad sampai dengan cara membuka tutup botol.
Langganan:
Postingan (Atom)
Summer Holiday
Libur telah tiba... Libur telah tiba... Hatiku gembira.... Siapa yang ga gembira kalau lagi liburan, apalagi kalau liburnya selama 11 min...
-
Rafif sudah menyelesaikan Lapbook luar Angkasa. Artinya belajar sains dengan topik luar angkasa selesai dan kami siap pindah ke topik lain....
-
Seorang teman pernah bertanya kepada saya. Apakah saya pernah bosan menjadi Full Time Mother. Jawaban adalah saya pernah bosan, bahkan bosan...
-
Banyak orang tua yang masih mengalami kesulitan dalam menjalani kurikulum dalam homeschooling. Dari mulai memilih kurikulum apa yang akan di...


