Minggu, 18 Januari 2009

Bis dari Kardus Bekas

 


Menjadi homeschooler membuat kami jadi rajin mengumpulkan barang-barang bekas. Jika sebelumnya setiap ada sampah pasti langsung berakhir di tempat sampah, sekarang saya mencoba mengumpulkan berbagai barang seperti kardus bekas, botol, gelas plastik dan aneka barang bekas lainnya. Setiap menemukan barang bekas akan saya masukkan ke kardus khusus bertuliskan "Junk Box". Ketika Rafif ingin membuat sesuatu dia bisa melihat kedalam "Junk Box" apakah ada benda yang bisa dimanfaatkan.

Salah satu hasil karya Rafif dari barang bekas adalah bis. Bis ini terbuat dari kardus kecil bekas biskuit. Agar dia bisa mencat busnya, kotak tersebut saya lapisi dengan kertas bekas. Jendelanya dibuat dari potongan kertas origami. Saya juga membantu melubagi pintu bisnya dengan cutter sehingga bisa dibuka tutup. Jadilah mainan murah meriah dan ramah lingkungan.

Kegiatan mengumpulkan barang bekas membuat Rafif belajar bahwa ada beberapa benda yang kelihatannya tidak berguna bisa diolah kembali menjadi barang yang masih ada manfaatnya. Dia belajar mencintai lingkungannya dengan mengurangi sampah dan juga belajar menjadi kreatif. Kalau buat saya bagian terpentingnya adalah dana untuk membeli mainan bisa dihemat karena banyak mainan bisa dibuat dari barang bekas :)

Ini beberapa situs favorite saya yang memuat berbagai ide untuk membuat kerajinan dari barang bekas :
- All Free Crafts
- Makes Stuff
- Kinder Art


Posted by Picasa

Jumat, 16 Januari 2009

Percobaan Sains : Membuat Gunung Berapi

 


Dapur beserta perlengkapannya bisa jadi disulap menjadi laboratorium Sains sederhana.

Tinggal siapkan sebotol cuka, satu atau dua sendok baking soda, pewarna makanan untuk menambah semarak, kardus karton bekas kemasan makanan, botol bekas plus ember kecil. Voila......Jadilah gunung berapi lengkap dengan letusannya yang mengeluarkan lava merah.


Ini yang pernah kami lakukan di dapur kami, dengan memanfaatkan barang-barang yang ada didapur Rafif belajar bahwa baking soda apabila dicampur dengan cuka yang diberi pewarna akan menghasilkan semburan laksana lava dari gunung berapi.

Awalnya sempat gagal karena cuka yang dituangkan terlalu sedikit. Botol cukanya terbuka terlalu kecil jadi cuka yang keluar hanya berupa tetesan. Setelah botolnya dibuka lebih lebar cuka bisa dituang lebih banyak dan segera menimbulkan semburan yang cukup tinggi. Kegagalan tersebut membuat Rafif belajar bahwa ketika melakukan percobaan tidak selalu langsung berhasil. Dia harus mencoba dengan cqara lain ketika cara pertama gagal. Akhirnya kemeriahan berakhir ketika cukanya sudah habis ;)



Posted by Picasa

Home Economics ( Mengelola Rumah Tangga) for Homeschooler



Saya sempat punya pengalaman tinggal di negeri orang. Tidak jauh, masih negara tetangga Malaysia dan tidak lama juga cuma 1 tahun. Tetapi 1 tahun itu saya benar-benar kelimpungan mengurus rumah tangga. Tinggal di negeri orang berarti semua harus dilakukan sendiri dari mulai belanja, memasak, mencuci pakaian, menyetrika dan seabrek pekerjaan rumah tangga lain. Saya padahal tidak pernah melakukan semua pekerjaan itu sebelumnya. Hari-hari saya sebelumnya cuma diisi kekampus, belajar dan ekstrakurikuler, ketika kemudian menjadi pekerja kantoran waktu pun kemabli habis hanya untuk kekantor dan istirahat.Orang tua saya pun tidak pernah memaksa saya untuk membantu pekerjaan rumah, mungkin ibu saya dulu berfikir bahwa melibatkan anak pada pengelolaan rumah tangga tidak akan memberikan sumbangan bagi kesuksesan akademik.

Pengalaman tinggal diluar negeri tersebut membuat saya merasa harus membiasakan anak saya untuk membantu pekerjaan rumah tangga agar nantinya mereka siap ketika hidup mandiri kelak. Ternyata banyak hal yang dapat dipelajari anak ketika dia dilibatkan dalam urusan rumah tangga. Untuk anak usia dini mereka bisa melatih motorik halus ketika diajak mengelap debu, menyiram tanaman ataupun menguleni adonan tepung. Ketika memasak mereka belajar proses sains sederhana seperti dari padat menjadi cair ataupun fakta bahwa minyak tidak bisa bercampur dengan air. Matematika bisa juga dipelajari ketika mereka memilah baju yang sudah disetrika, mengukur perabotan yang akan dipindahkan, ataupun menghitung tomat yang baru dibeli.

Dengan diberikan kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang sama dengan orang dewasa akan menumbuhkan rasa percaya diri dan perasaan diterima di kalangan orang dewasa. Rasa tanggung jawab juga bisa ikut dipupuk. Dan ini semua sama pentingnya dengan kesuksesan akademik.

Dibeberapa negara maju kegiatan mengelola rumah tangga ini bahkan menjadi kurikulum tersendiri. Saya kebetulan mempunyai contoh kurikulum Home Economics dari teman sesama Homeschooler di Canada. Didalam modul tersebut anak diajarkan dari mulai membersihkan rumah, memasak, mengorganisir kegiatan sampai menjahit. Saya jadi nggak heran lagi bagaimana orang-orang di luar negeri bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga tanpa perlu bantuan PRT. Mereka sudah terbiasa mengerjakannya dari kecil.

So... Rafif...Aisyah, ayo bantu-bantu umi :)



Posted by Picasa

Selasa, 13 Januari 2009

Field Trip: Museum Transportasi


Rafif jatuh cinta dengan alat transportasi. Setiap melihat alat transportasi matanya akan berbinar-binar. Dia jatuh cinta pada semua alat transportasi dari mulai mobil, sepeda, pesawat, bis bahkan gerobak. Tidak terhitung lagi berapa banyak buku bertopik alat transportasi yang dia punya. Dia selalu bersemangat jika membicarakan alat transportasi. Dari umur 3 tahun dia sudah hapal berbagai jenis merek mobil dan bisa membedakannya dengan hanya melihat sekilas saja. Bahkan kemampuan membacanya juga dia dapatkan dengan membaca berbagai merek kendaraan bermotor. Setiap berada di tempat parkir biasanya saya dan Rafif akan berkeliling sejenak untuk membaca berbagai merek mobil yang sedang di parkir.

Makanya nggak heran kalau Rafif very excited ketika saya membawanya ke Museum Transportasi. Museum yang berada didalam kompleks Taman Mini Indonesia Indah ini hanya mengenakan biaya Rp. 2.000 untuk tiket masuk. Tapi sebelumnya kita harus membayar Rp. 9.000 untuk tiket masuk TMII. Waktu masuk saya sempat bingung karena museumnya sepi sekali selain kami, hanya ada beberapa pekerja museum yang sibuk membersihkan dan mengecat beberapa bagian museum, dan beberapa orang yang sepertinya sedang melalukan pemotretan untuk foto pernikahan. Ini bukan pertama kalinya kami ke museum tapi rasanya aneh sekali ketika mendapati kami menjadi satu-satunya rombongan yang memang datang untuk melihat-lihat kendaraan yang di pamerkan.

Tapi Rafif tidak perduli dengan suasana yang sepi bersama Aisyah dan tentenya, dia sibuk berlarian dari satu kendaraan ke kendaraan yang lain dan tidak akan melewatkan kesempatan untuk bisa menaikinya apabila kendaraan yang dipamerkan bisa dinaiki. Sebenarnya tidak terlalu banyak kendaraan yang di pamerkan setidaknya tidak sebanyak yang saya bayangkan sebelum memasuki museum. Di bagian paling depan ada satu buah pesawat Garuda. Kemudian di bagian samping ada beberapa kereta api lama salah satunya termasuk kereta api yang membawa Presiden Soekarno. Kereta api menjadi koleksi terbanyak dari mueseum ini selain di bagian depan di belakang juga ada beberapa kereta api serta stasiun buatan.

Dibagian tengah ada satu buah bangunan bertingkat dua yang hanya berisi beberapa kendaraan kuno termasuk diantaranya "oplet si Mandra" dan "motor kakek buyut Rafif". Dipelataran gedung ada sebuah bis tingkat yang di cat berwarna merah. Wah Rafif terlonjak-lonjak melihatnya karena selama ini dia hanya melihat foto-fotonya saja. Saya juga sempat surprise melihat bis tingkat tersebut karena saya ingat saya pernah naik bis tersebut ketika masih duduk di bangku SD hanya saja dulu catnya bukan merah melainkan biru dan abu-abu. Ketika saya bercerita tentang pengalaman saya diwaktu kecil naik bis tingkat Rafif jadi pengen ikutan naik, sayang bis tingkatnya ditutup jadi tidak bisa dinaiki. Akhirnya foto-foto aja deh :).

Ini dulu oleh-oleh kami dari Museum Transportasi TMII. Kalau lagi ke TMII silahkan mampir :) Rencananya kami akan mengunjugi beberapa museum lagi yang ada di Jakarta, karena saya ingin anak-anak tidak hanya mengenal mall saja tapi juga mengenal tempat-tempat bersejarah.

Rabu, 07 Januari 2009

Penerapan Kurikulum Diknas dalam Homeschooling

Banyak orang tua yang masih mengalami kesulitan dalam menjalani kurikulum dalam homeschooling. Dari mulai memilih kurikulum apa yang akan dipakai sampai bagaimana menjalankan kurikulum tersebut. Dalam homeschooling sebaiknya anak yang akan menjadi subjek bukan kurikulum. Sehingga pada akhirnya kurikulum yang menyesuaikan dengan anak.

Di Indonesia saat ini hanya baru ada Kurikulum Diknas, sedangkan dari luar negeri ada begitu banyak pilihan

Dari yang gratis sampai yang harganya ribuan dolar. Kurikulum Luar negeri saat ini yang sedang popular di Indonesia adalah kurikulum dari Universitas Cambridge. Kurikulum Cambridge bisa di download secara cuma-cuma melalui www.cie.org.uk HS hanya akan dikenakan biaya ketika akan mengikuti ujian sertifikasinya.

Begitu juga halnya dengan Kurikulum DIKNAS. Kurikulum DIKNAS bisa didownload gratis di www.puskur.net. Ketika akan mengikuti ujian persamaan baru dikenakan biaya. Sebagian besar HS di BERKEMAS menggunakan kurikulum Diknas. Kurikulum untuk satu semester atau 6 bulan bisa diselesaikan dalam waktu 3 bulan.

Langkah-langkah yang diambil dalam menerapkan kurikulum adalah sebagai berikut:

1. Cari tahu terlebih dahulu kompetensi apa yang harus dikuasai oleh setiap tingkatan kelas anak. Kompetensi ini bisa dilihat dari Standar Isi yang terdapat di puskur.net. Selain itu Sekarang juga sudah banyak beredar buku intisari pelajaran selama SD, SMP atau SMA.
2. Bandingkan semua kompetensi dari tiap pelajaran. Karena biasanya satu kompetensi dipelajari beberapa kali dalam mata pelajaran yang berbeda. Misalnya : Untuk kelas 1 SD ada topik Tentang Aku. Topik ini dibahas dimata pelajaran Bahasa Indonesia, Sains dan IPS. Didalam matematika ada kompetensi menghitung 1 – 10. Dalam HS kita tidak perlu menyediakan waktu yang berbeda –beda untuk belajar mata pelajaran yg berbeda dengan topik yang sama. Kita bisa menggabungkan semua kompetensi itu dalam satu waktu. Kita bisa membahas anggota tubuh (sains), menghitung berapa jari kaki (matematika), mengajarkan tempat tinggal (IPS) serta membuat cerita tentang aku (bahasa Indonesia) dalam satu kesempatan. Sedangkan disekolah mungkin akan membutuhkan waktu lebih.
3. Susun semua kompetensi yang akan dia capai anak dalam satu semester dalam suatu table yang ditempelkan di tempat yang mudah diraih. Misalkan di kulkas. Beri tanda setiap anak berhasil mencapai kompetensi yg diharapkan.
4. Aplikasikan kompetensi yang ingin dicapai dalam kehidupan sehari-hari. Jangan berpatokan bahwa belajar harus selalu melalui buku teks. Misalkan dengan membagi kue untuk belajar pecahan atau dongeng tentang nabi sebelum tidur untuk pelajaran agama.
5. Bangkitkan mood yang membuat anak merasa bahagia sehingga belajar juga akan menjadi menyenangkan.
6. Biarkan anak mempelajari sesuatu secara tuntas dan mendalam. Ketika anak sedang asyik dengan bahasa Inggris biarkan dia menyelesaikannya walaupun mungkin hari itu dia tidak belajar topik lain.

Selain itu ada juga beberapa faktor yang membuat anak HS lebih cepat menyelesaikan kurikulumnya dibandingkan dgn sekolah. Faktor-faktor tersebut adalah:

*
sistem belajar yang privat bukan klasikal membuat anak lebih cepat menyerap informasi karena dia bisa langsung menanyakan hal-hal yang kurang dimengertinya. Selain itu juga ketika anak sudah selesai dgn suatu topik dia dapat terus melanjutkan tanpa harus menunggu temannya selesai terlebih dahulu.
*
Gaya belajar masing-masing anak juga sudah diketahui sehingga orang tua bisa memberikan materi sesuai dengan gaya belajar mereka. Misalnya anak dengan kecenderungan kinestetik akan kesulitan untuk menghapalkan table perkalian dgn hanya melihatnya saja, mungkin akan lebih mudah bagi sianak untuk menghapalkannya sambil bermain bola.
*
Suasana Belajar di rumah yang tidak se-kaku disekolah membuat anak lebih rileks dan siap menerima pelajaran.
*
Dalam HS anak juga lebih fokus karena tidak berada dalam satu ruangan yg terdiri dari banyak anak.

Buku Pendukung Penerapan Kurikulum

*
Panduan Lengkap Homeschooling oleh Maulia D. Kembara, M.Pd.
*
Ma Belajar Yuk oleh Dra. Anggerina Nutriana S
*
Setiap Anak Cerdas oleh Thomas Amstrong

Posting terkait dengan tulisan ini:
- Mendapatkan Sertifikasi atau Ijazah Homeschooling
- Independent Learner

Jumat, 02 Januari 2009

Homeschooling ( Kurikulum ) Anak Usia Dini

 


Awal menjalani homeschooling tidak ada kepanikan yang berarti. Saya pikir gampanglah, paling tinggal diajarin nyanyi, mewarnai dan lipat-melipat kertas. Karena kegiatan itu yang ada dalam ingatan saya tantang kegiatan belajar di tingkat taman kanak-kanak. Saya lupa bahwa pengalaman duduk ditaman kanak-kanak itu sudah saya lewati lebih dari 20 tahun yang lalu.

Katika Rafif berusia 2.5 tahun saya memutuskan inilah saatnya Rafif 'belajar formal'. Kemudian saya membeli sekotak krayon ( satu-satunya alat gambar yang ada dalam fikiran saya), kertas origami, gunting, lem dan beberapa buku yang berisi lembar kerja untuk diisi. Mulailah proses memindahkan sekolah kerumah saya lakukan.

Tetapi perkembangannya tidak maksimal, bahkan Rafif cenderung menjadi terbatasi kreativitasnya. Dia merasa takut untuk menggambar karena saya selalu mewanti-wanti dia untuk tidak keluar garis ketika mewarnai. Takut salah dalam melakukan banyak hal Dia juga frustasi ketika harus menggunakan gunting karena motorik halusnya belum berkembang. Mungkin pada saat itu satu-satunya hal terbaik yang saya lakukan adalah membacakan buku untuknya.

Penjelajahan saya didunia maya pada akhirnya membuka mata saya bahwa bukan seperti itu proses homeschooling anak usia dini seharusnya. Homeschooling seharusnya memberikan anak kesempatan yang besar untuk mengembangkan diri dan menekuni minatnya. Segala lembar kerja dan buku mewarnai hanya akan menghambat kreativitas dan proses berpikir anak balita.

Dari pengalaman dan berbagai hasil pencarian, saya menyimpulkan bahwa kurikulum anak usia dini sebenarnya adalah dunianya, kehidupannya sehari-hari dan bermain. Pelajaran paling penting bagi anak usia dini adalah bagaimana dia mengenal Allah, bertingkah laku dengan baik, mencintai proses pencarian ilmu dan pengenalan alam sekitarnya.

Kegiatan - kegiatan berikut Insya Allah akan membantu anak menjalankan pendidikan dirumah dengan menyenangkan dan bermakna :

- Dibacakan buku setiap hari setidaknya 20 menit perhari.
- Mendengarkan ayat-ayat suci alquran ataupun lagu dengan syair Islam
- Berkebun.
- Berbincang dan bermain dengan orang dewasa.
- Belajar bertingkah laku baik.
- Membuat berbagai kerajinan dari kertas bewarna, kardus, flannel, biji kering dsb
- Menggambar dengan krayon, cat air, cat poster, kapur bewarna, spidol, glitter, pewarna makanan dsb.
- Bermain peran, lego, balok, mobil-mobilan, lilin, air, pasir dsb.
- Melakukan aktivitas fisik seperti lari-lari, bersepeda, berenang, main bola dsb.
- Menghitung berbagai macam benda seperti biskuit, manik-manik, biji dsb.
- Membantu pekerjaan rumah tangga sederhana seperti mengelap debu, membereskan mainan, ataupun membuat kue.
- Pergi ketempat-tempat menarik seperti mesjid, pasar, pemadam kebakaran, bandara dsb.

Berbagai situs yang memuat berbagai kegitan kreatif yang mencerdaskan anak bisa anda lihat di sini

Melihat list diatas mungkin anda akan bingung wah kapan belajarnya? Bisa-bisa anak saya akan ketinggalan dari anak-anak lain? Kapan belajar membacanya, kapan matematika, kapan menulisnya?

Saya juga khawatir pada awalnya tapi saya kemudian melihat kemampuan Rafif berkembang pesat tidak hanya akademiknya saja tapi juga rasa percaya diri dan kemandiriannya. Berbagai aktivitas tersebut adalah langkah awal yang akan memberikan Rafif kesiapan untuk belajar matematika, membaca dan menulis. Dan yang paling membahagiakan adalah ketika melihat semangat belajar dan rasa ingin tahunya yang tinggi. Ketika anak cinta belajar , dia akan belajar apapun termasuk matematika, membaca dan menulis.

Tulisan yang terkait dengan posting ini :
- Rumahku Sekolahku
- Melatih Motorik Halus dengan Memasak
Posted by Picasa

Rumahku Sekolahku

Profesi saya saat ini adalah seorang guru taman kanak-kanak. Sudah tentu tempat berkarya bagi seorang guru adalah sekolah. Sekolah saya bertempat di daerah Tanjung Barat, Jakarta Selatan.

Jika orang hanya melihatnya dari luar maka mereka tidak akan tahu bahwa bangunan ini adalah sebuah sekolah. Bangunannya hanya terdiri dari satu lantai, bercat warna peach di atas sebidang tanah seluas 100 m2. Walaupun berukuran cukup mungil, bangunan itu dapat memuat semua aktivitas belajar kami. Semua ruang dilengkapi dengan jendela-jendela kaca berukuran besar yang seakan mengundang matahari untuk ikut masuk ke dalam sekolah kami. Jendela-jendela tersebut membuat sekolah kami terasa lapang dan jauh dari kesan pengap dan sempit.

Saya membagi halaman sekolah kami menjadi dua bagian. Sisi sebelah kiri untuk lapangan olahraga sedangkan sisi sebelah kanan untuk taman kecil yang juga menjadi laboratorium biologi.

Pagi hari merupakan saat yang menyenangkan untuk beraktivitas di halaman sekolah. Posisi sekolah kami yang menghadap ke timur membuat murid-murid saya bermandikan sinar matahari pagi ketika berada di halaman. Di lapangan olahraga, mereka bisa bebas sepeda atau bola. Saya menempatkan sebuah ring basket kecil di dinding pembatas sekolah kami dengan bagunan di sebelahnya. Terkadang saya merentangkan tali plastik dari pagar sampai tiang bangunan sekolah, sehingga kami bermain voli dengan tali plastik tadi sebagai netnya. Sebagai guru saya ikut bermain dengan mereka, ikut tertawa ketika melihat ada murid saya yang membuat gerakan lucu ketika berusaha menangkap bola, dan ikut bersedih ketika ada murid saya yang terjatuh.

Pagar besi juga membuat mereka aman bermain dihalaman tapi juga tidak menghalangi mereka untuk melihat apa yang terjadi di luar sekolah kami. Murid-murid saya akan berteriak kegirangan manakala sesekali lewat delman yang ditarik oleh kuda ataupun pesawat yang terbang cukup rendah.

Di taman kecil yang ditumbuhi oleh rumput peking, kami bisa mengamati berbagai jenis serangga. Beraneka jenis semut yang lalu-lalang dengan sibuknya, belalang yang bersembunyi diantara rumpun bambu ataupun capung yang terbang hilir mudik di atas daun bawang-bawangan.

Terkadang kalau kami beruntung ada kupu-kupu yang kebetulan mampir di antara bunga-bunga mawar. Suatu hari nanti saya berharap bisa menanam pohon jambu di taman kecil. Rasanya indah membayangkan bisa berteduh di bawahnya sambil menikmati rujak jambu dari pohon sendiri.

Di dalam bagunan sekolah terdapat berbagai ruang. Ruang yang paling luas saya jadikan aula tempat para murid-murid saya bisa melakukan berbagai aktivitas seni. Saya menempatkan seperangkat audio di rak yang cukup rendah sehingga murid-muris saya bisa memutar sendiri musik yang mereka inginkan. Kami juga mempunyai beberapa alat musik yang kami buat sendiri, seperti marakas-berupa stoples kaca yang diisi beras atau kacang hijau, drum-berupa panci dengan sumpit sebagai stiknya ataupun suling dari selang.

Di ruang ini juga terdapat sebuah sofa yang multi fungsi. Bisa menjadi panggung boneka kalau saya bersembunyi di belakangnya sambil memainkan boneka jari, sehingga bisa ditonton dari arah sebaliknya. Bisa menjadi benteng pertahanan ataupun rumah-rumahan dengan membentangkan kain di atasnya. Bisa pula sekadar tempat untuk duduk bersantai mendengarkan saya membacakan buku cerita.

Di aula ini terdapat dua pintu yang menghubungkan ke ruang lain. Ruang yang pertama saya jadikan perpustakaan sekolah. Di dalam ruang ini terdapat berbagai rak buku. Pada bagian atas rak buku saya meletakkan guru pribadi saya 24 jam, yaitu beraneka jenis buku saya. Bagian bawah rak adalah khusus untuk buku-buku murid saya, berupa ensiklopedi anak, buku-buku cerita ataupun buku mewarnai.

Di samping salah satu rak buku, saya menempatkan satu buah laci plastik tempat menyimpan berbagai peralatan murid-murid. Di antaranya krayon, spidol, cat air dan beraneka jenis kertas.

Di sampingnya lagi, ada kotak harta karun yang berisi berbagai jenis benda yang kelihatannya tidak lebih dari barang rongsokan. Meskipun demikian, anak-anak dengan imajinasinya yang luar biasa bisa memainkan aneka peran dengan menggunakan barang-barang tadi.

Di sepanjang dinding perpustakaan juga dihiasi berbagai jenis poster yang setiap beberapa bulan saya ganti dengan yang baru kecuali tiga poster, yaitu poster abjad latin, huruf hijaiyah dan peta dunia.

Di balik pintu berikutnya adalah Laboratorium Komputer kami. Dari ruang ini kami bisa berkunjung ke berbagai tempat menarik seperti pabrik susu ataupun ruang angkasa dengan hanya beberapa klik saja. Internet memang membuat dunia seakan tak bersekat.

Di balik komputer ini juga saya merefleksikan pikiran-pikiran saya kedalam tulisan di sela-sela kesibukan saya mengajar. Dinding ruang ini dihiasi dengan coretan hasil karya murid-murid saya yang beraliran “abstrak”, karena biasanya hanya mereka sendiri yang tahu arti dari setiap lukisan.

Ruang terakhir terletak di bagian paling belakang sekolah ini tepatnya di belakang aula. Ruang ini saya jadikan laboratorium matematika dan sains. Di ruang ini ada berbagai macam benda untuk dihitung, diukur dan diklasifikasikan, seperti tomat, jeruk nipis atau wadah-wadah plastik. Mereka bisa melakukan berbagai macam percobaan – percobaan sederhana yang membuat mereka tahu bahwa tidak semua benda dapat terapung, ataupun ternyata minyak tidak dapat disatukan dengan air.

Tak jarang saya mengajak murid-murid saya memasak. Karena memasak melibatkan banyak unsur sains bahkan kegembiraan sekaligus. Terkadang ketika sedang membuat kue ada yang iseng mencolek muka temannya dengan tepung terigu sambil teriak, “Ih, kayak badut." Yang dicolek tidak marah malah balas mencolek. Jadilah kelas kami lebih mirip sirkus, apalagi ditambah dengan ramainya gelak tawa kami semua. Kadang saya tersenyum sendiri manakala mereka dengan bangga berkata pada saat mencetak kue, “Eh, lihat punyaku seperti dinosaurus.” Padahal kenyataannya bentuknya lebih mirip pohon.

Di sekolah saya tidak ada ruang kelas khusus karena semua ruang adalah ruang kelas tempat mereka bisa mempelajari sesuatu yang baru. Meja dan kursi mreka belajar terbuat dari plastik warna-warni yang memudahkan mereka untuk memindah-mindahkan ke ruang mana saja yang mereka mau. Selain itu, untuk memudahkan mereka belajar membaca kelak, saya juga memberikan label pada setiap benda di rumah kami. Ada tulisan "kursi" yang ditempel di kursi sehingga membuat mereka memahami bahwa setiap tulisan mempunyai arti.

Tahun ini murid saya hanya ada dua orang. Tapi saya berharap tahun-tahun berikutnya akan bertambah lagi karena saya masih berencana untuk menambah jumlah anak saya. Ya. Murid-murid saya adalah anak-anak sendiri. Dan sekolah saya adalah rumah saya sendiri dengan bagian–bagian dari rumah yang saya fungsikan layaknya sebuah sekolah. Mereka memang tidak saya masukkan ke dalam sekolah formal biasa. Dengan menjadikan rumah kami sebagai sekolah maka anak-anak saya bisa belajar kapan saja -dari mulai bangun sampai tidur lagi, dimana saja- dari mulai halaman depan sampai dapur. Dengan cara itu mereka akan merasakan bahwa belajar sama alaminya dengan bernapas. Dan saya bisa menyaksikan sendiri setiap kemajuan yang telah mereka capai.

Itu merupakan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan.

Cat: Tulisan ini saya buat ketika mengikuti workshop menulis di www.kelasmenulis.com

Summer Holiday

Libur telah tiba... Libur telah tiba... Hatiku gembira.... Siapa yang ga gembira kalau lagi liburan, apalagi kalau liburnya selama 11 min...